Filipina Hampir Pasti Dipimpin Donald Trump dari Timur

Rabu, 11 Mei 2016 – 09:02 WIB
Rodrigo Duterte. Foto: AFP

jpnn.com - DAVAO - Kemenangan Rodrigo Duterte dalam Pilpres Filipina sudah di depan mata. Kandidat lain, Manuel Araneta Roxas II alias Mar Roxas sudah memberikan ucapan selamat kepadanya kemarin (10/5). Belum diketahui kapan hasil final diumumkan. Namun, pria yang kerap disebut Donald Trump dari timur itu dilantik pada 30 Juni nanti. 

"Sudah jelas bahwa Rodrigo Duterte akan menjadi presiden Filipina berikutnya. Digong (sapaan akrab Duterte), saya harap Anda sukses,’’ papar Roxas dalam pidato perdananya setelah hari pencoblosan. Lewat dua kalimat yang dia sampaikan di hadapan para pendukungnya itu, kandidat yang didukung langsung oleh Presiden Benigno Aquino III alias Noynoy tersebut mengakui kekalahannya. 

BACA JUGA: Sejarah Baru akan Dicatat Barack Obama

Pengakuan Roxas itu lantas disusul penarikan diri Grace Poe dari pilpres pada hari yang sama. Politikus perempuan yang sejak awal bersikukuh bertahan dalam kompetisi itu akhirnya menyerah juga. Berada di urutan ketiga setelah Roxas, senator cantik tersebut yakin keunggulan Duterte tidak akan tersalip meski penghitungan suara masih berlangsung. 

Kemarin pagi Parish Pastoral Council for Responsible Voting (PPCRV) melaporkan bahwa penghitungan suara sudah hampir usai. Sampai sekitar 91 persen suara masuk yang terhitung, Duterte masih dominan. Wali kota Davao itu mengamankan 38,68 persen suara. Sementara itu, dua rival terberatnya harus puas dengan dukungan di kisaran 20 persen saja.

BACA JUGA: Teriak Allahu Akbar..Lalu Tikam Orang Sampai Tewas

’’Jika saya masih diberi hidup sampai setelah saya mengikrarkan sumpah jabatan saya nanti, saya tidak punya keinginan lain kecuali melayani rakyat Filipina dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang lain,’’ janji Duterte kemarin. 

Dia juga bersumpah akan memusatkan pemerintahan pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pertanian. 

BACA JUGA: Hidayat: Jaga Keseimbangan, Jangan Hanya ke Tiongkok


Saat kemenangan tergambar makin jelas, tokoh berjuluk The Punisher itu melunak. Dia tidak lagi melontarkan komentar-komentar pedas atau ceplas-ceplos seperti pada masa kampanye. Itu dilakukan karena dia harus bisa menepati janji kepada rakyat untuk memberantas kriminalitas dan korupsi dalam enam bulan pertama kepemimpinannya. Pada masa kampanye, dia bahkan mengaku rela mundur jika target tidak terpenuhi.

Kemarin Duterte juga mengawali pagi dengan drama. Dia berziarah ke makam kedua orang tuanya. ’’Beliau minta agar orang tuanya tetap membimbing dan mendampinginya setelah beliau menjadi pemimpin negeri ini nanti,’’ kata Edith Ging Caduaya, anggota tim Duterte yang mengunggah video ziarah itu ke laman Facebook. 

’’Kini, dia tidak lagi bisa bertindak sembarang seperti peluru yang melesat dari moncong meriam. Jika dia berbuat salah, pasar dan masyarakat internasional akan langsung bereaksi,’’ ungkap Richard Javad Heydarian, pengamat politik dari De La Salle University. 

Sebagai presiden terpilih, menurut dia, Duterte tidak bisa berbuat semaunya lagi. Dia juga tidak bisa asal ngomong seperti sebelumnya.  (afp/reuters/cnn/hep/c17/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Beritanya Bikin Kim Jong-un Kesal, Reporter BBC Diusir


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler