Geram! Anak Buah Mega Sebut Perjanjian Tiga Negara Cuma Ajang Foto-Foto

Minggu, 07 Agustus 2016 – 16:20 WIB
Politikus PDIP Charles Honoris. Foto: dok jpnn

jpnn.com - JAKARTA - Tidak kunjung dibebaskannya sejumlah WNI sandera kelompok Abu Sayyaf membuat politikus PDIP Charles Honoris geram. Bahkan, ia menyebut kesepakatan tiga negara, Indonesia-Malaysia-Filipina soal kerjasama pengamanan kawasan rawan perompak hanya retorika.

"Sampai detik ini kesepakatan tersebut baru retorika belaka dan ajang foto-foto saja. Belum ada realisasi karena katanya terhambat hal-hal teknis," kata Charles dalam siaran persnya, Minggu (7/8).

BACA JUGA: Aceh Harus Rebut Best Halal Destination 2016

Apalagi, Anggota Komisi I DPR itu mendapat informasi bahwa ada seorang WNI lagi menjadi korban penculikan oleh kelompok yang ditenggarai sebagai bagian dari Abu Sayyaf.

"Ini sudah tidak bisa ditolerir lagi.  Kesepakatan antara Indonesia, Malaysia dan Filipina untuk melakukan patroli bersama, intelligence sharing dan bantuan darurat harus segera direalisasikan," pintanya, tanpa merinci soal diculiknya kembali seorang WNI.

BACA JUGA: Bina Mental Prajurit TNI Agar Siap Hadapi Godaan

Politikus PDIP itu menyebutkan patroli bersama penting untuk mejamin keamanan di kawasan rawan terhadap ancaman terorisme, perompakan dan perampokan bersenjata. Pola-pola lain seperti model eyes in the sky (kerjasama Indonesia, Malaysia dan Singapura) di Selat Malaka yang berhasil menekan angka perompakan dalam beberapa tahun terakhir juga bisa ditiru. 

Menurutnya, Indonesia dan komunitas internasional harus menekan Filipina sebagai negara yang sudah 20 tahun lebih telah meratifikasi International Convention Against The Taking Of Hostages untuk mencegah dan menangani kasus-kasus penculikan dan penyanderaan di wilayah teritorialnya.

BACA JUGA: Anak Buah Aguan Sebut Ada Rp 50 M untuk Sanusi Cs, Begini Sikap KPK

Apalagi dalam beberapa tahun terakhir tercatat ada ratusan penculikan dan penyanderaan oleh kelompok kriminal yang berbasis di Filipina Selatan.

Pria yang baru-baru ini mendampingi keluarga WNI korban Abu Sayyaf berdialog dengan pihak Kemenlu mengatakan, sudah 48 hari mereka menunggu kepulangan korban dengan penuh kecemasan. Belum lagi teror melalui sms dan telpon ke pihak keluarga dari para penyandera.

"Publik tentu berharap tidak ada lagi keluarga-keluarga lainnya yang harus mengalami musibah seperti keluarga 10 WNI yang disandera Abu Sayaf. Kasus-kasus penyanderaan WNI harus segera berhenti," tandasnya.(fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bhabinkamtibmas Ujung Tombak Polri Di Desa, Pak Ustaz Bilang Ada Konsekuensinya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler