Gereja Katolik KAPal Sumbangkan APD untuk Tenaga Medis di Empat Provinsi

Minggu, 03 Mei 2020 – 02:52 WIB
Perwakilan Crisis Center Covid-19 Keuskupan Agung Palembang (KAPal) menyumbangkan alat pelindung diri (APD) untuk tenaga medis. Foto: Crisis Center KAPal for JPNN.com

jpnn.com, PALEMBANG - Setelah pemerintah menyatakan sudah ada warga masyarakat Indonesia yang terinfeksi Covid-19, Gereja Katolik Keuskupan Agung Palembang (KAPal) langsung berinisiatif dan mengambil langkah untuk mendukung menghentikan penyebaran covid-19.

Komitmen Gereja KAPal menempatkan Pandemi Covid-19 sebagai masalah yang serius menghasilkan keputusan mendirikan Crisis Center Covid-19 Keuskupan Agung Palembang yang juga sebagai wadah dan sarana mewujudkan belarasa.

BACA JUGA: Rumah Sakit Kekurangan Alat Pelindung Diri, Bikin Sedih

Crisis Center ini beralamat di Kantor Keuskupan Agung Palembang, Jl. Tasik 18 Talang Semut, Kecamatan Bukit Kecil, Kota Palembang – Sumatera Selatan 30135. Penanggungjawab Keuskupan Agung Palembang dan dikoordinir oleh Sekretaris Keuskupan Agung Palembang RD. Guido Suprapto.

Crisis Center telah memutuskan menggeser prioritas dari dukungan Alat Pelindung Diri untuk para tenaga medis Rumah Sakit, bergeser ke Jaring Pengaman Sosial khususnya kebutuhan pangan.

BACA JUGA: Pasien Corona Meningkat, Segera Tambah Alat Pelindung Diri

“Masih ada 18 RSUD dan 44 Puskesmas yang sedang dalam proses pendistribusian APD yang tersebar di empat Provinsi, jadi total ada 30 rumah sakit, 10 poliklinik, 70 puskesmas. Kita juga akan membuat skema jaring pengaman sosial,” ujar Guntur Wijaya, Koordinator Crisis Center, dalam keterangan persnya, kemarin.

BACA JUGA: KRI Teluk Ende-517 Debarkasikan 2.000 Paket Sembako dan APD di Pulau Raas

Saat ini upaya yang ditempuh oleh Crisis Center adalah mencari donasi kebutuhan pangan yang akan diberikan kepada umat dan masyarakat yang membutuhkan bantuan pangan. Crisis Center akan membuat paket-paket kebutuhan pokok dan akan mendistribusikan sesuai prioritas sasaran. Hal yang sangat dibutuhkan adalah sikap bela rasa dan mau berdonasi dari umat dan masyarakat.

Sebelumnya, Uskup Agung Palembang, Mgr Aloysius Sudarso, SCJ dalam setiap khotbah misa senantiasa mengimbau, memberikan peneguhan, arahan dan dukungan baik kepada para imam, biarawan biarawati maupun pemerintah, umat dan masyarakat agar bersama mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan, mendukung upaya pemerintah dan Gereja Katolik KAPal melalui Crisis Center.

Lewat akun Youtube Komsos Keuskupan Agung Palembang Uskup Agung KAPal tersebut telah menyampaikan banyak hal.

“Saudara-saudari sekalian, marilah kita bersatu, kita saling membantu. Banyak orang yang akan mengalami kesulitan, marilah kita juga dalam keadaan yang terpaksa ini mempunyai bela rasa terhadap mereka yang kekurangan dan yang sakit,” demikian pesan Uskup Sudarso dalam ajakan lewat akun youtube.

“Kita berterima kasih kepada tenaga medis yang sudah banyak berkorban untuk membantu kita semua menghadapi bahaya kehidupan yang akan mencelakakan kita jika kita tidak bersatu. Tetap yakin Tuhan memberkati saudara-saudari sekalian."

Dalam perkembangannya infeksi Covid-19 di Indonesia makin serius sampai seperti disaksikan sekarang ini. Keseriusan Pemerintah untuk menghentikan penyebaran Covid-19 patut didukung oleh semua pihak.

Seiring dengan keseriusan dan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, Gereja (KAPal) berupaya memberikan dukungan yang serius dengan komitmen bersama melawan Covid-19.

Beberapa upaya konkret dipilih untuk dilakukan baik yang orientasinya internal Umat Katolik maupun bagi masyarakat luas dengan semangat solidaritas untuk kemanusiaan.

Sebagai wujud dukungan kepada Pemerintah agar semua pihak ikutserta dalam menghadapi Pandemi Covid-19, Gereja KAPal menempuh dan memilih cara “menggereja” dan aktivitas Liturgi serta kerohanian yang disesuaikan dengan situasi aktual penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Gereja KAPal ingin terlibat dalam gerak dan strategi Pemerintah dalam menghambat penyebaran Covid-19.

Untuk itulah, ketentuan telah ditetapkan oleh otoritas Keuskupan untuk dijalankan oleh Pelayan Pastoral (para Imam) dalam reksa pastoralnya.

Dengan berpegang pada ketentuan Keuskupan dalam menjalankan reksa pastoral diharapkan menjadi sikap waspada dan pilihan konkret partisisapsi dalam mencegah penyebaran Covid-19.

Pelaksanaan dengan sikap rendah hati menjadi bukti bahwa Gereja KAPal menempatkan Pandemi Covid-19 sebagai masalah bersama, dihadapi bersama dan dampaknya dicarikan solusi bersama.

Oleh karena itu, ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Gereja KAPal dengan berdasar situasi aktual (seperti Misa online/live streaming, meniadakan pertemuan lingkungan dan komunitas kategorial, pertemuan pastoral lainnya yang melibatkan banyak orang), dijadikan sebagai “gerak bersama” Reksa Pastoral KAPal dalam menghadapi Pandemi Covid – 19.

Adapun tujuan dan alasan pendiriannya untuk kooordinasi dan konsolidasi Umat Katolik Keuskupan Agung Palembang dalam upaya membantu semua pihak menghadapi pandemi Covid-19 dengan dampak-dampak yang ditimbulkan.

Mengedepankan semangat bela rasa untuk kemanusiaan bergotong royong membantu sesama. Fokus utama adalah membantu pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi Dokter, Perawat dan Tenaga Medis lainnya.

Sumber dana dari sumbangan umat Keuskupan Agung Palembang dan Donatur. Dana dikumpulkan lewat rekening Kesukupan: ReK. 0212343500, a.n. DANA KASIH KAPAL, BCA Cabang Demang Lebar Daun.

Sampai saat ini sudah membantu 12 Rumah Sakit (RS Katolik dan 2 RSUD), 10 Poliklinik dan 26 Puskesmas. Bantuan Rumah Sakit dan Poliklinik Katolik didistrbusikan di wilayah Sumatera Selatan, Jambi Bengkulu dan Lampung. Sementara bantuan ke Puskesmas pada umumnya di wilayah Kota Palembang dan dua Puskemas di Baturaja, Sumsel.

Adapun barang-barang yang sudah disalurkan adalah Baju Hazmat (parasute dan godiebag), Jas Hujan yang dimodifikasi, Kacamata Google, sarung tangan, Masker(3fly dan N95), sepatu boots, Face Shield dan termogun.

"Semua yang kami bantu merasa terdukung dalam tugas dan pelayanan mereka. Total biaya yang sudah dikeluarkan sekitar Rp 750.000.000," demikian ditulis Romo Prapto dalam reksa pastoral Keuskupan.

Menyimak pendapat dan prediksi ahli di bidangnya Indonesia masih membutuhkan waktu beberapa bulan ke depan untuk bebas dari Pandemi Covid-19. Dampak sosialnya akan jauh lebih lama.

Oleh karena itu, masih diperlukan upaya bersama untuk meminimalisasi dampak sosial dalam masyarakat. Apalagi saat ini tidak sedikit pekerja yang mata pencaharian terhenti sehingga berakibat sulitnya untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan kebutuhan makan.

Untuk menghadapi situasi kedepannya kita perlu memelihara kesadaran bersama untuk waspada, teguh dalam pengharapan dan mengembangkan sikap bela rasa.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler