Hati-hati ya, Jangan Kuliah di Kampus Abal-abal

Kamis, 30 Juni 2016 – 14:04 WIB
Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA – Peserta tes seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) 2016 yang tidak lulus jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang yang lulus. Kampus swasta menjadi salah satu alternatif untuk melanjutkan pendidikan.

Pakar pendidikan tinggi Satryo Soemantri Brojonegoro menuturkan PTN memang bukan satu-satunya tempat untuk melanjutkan pendidikan tinggi. 

BACA JUGA: Pengadilan Perintahkan Anak Buah Ahok Cabut SK Pemecatan Kepsek SMA 3

’’Jadi bagi yang tidak lulus SBM PTN, jangan kecil hati. Masih bisa kuliah di kampus swasta,’’ kata mantan Dirjen Pendidikan Tinggi itu kemarin.

Satryo menuturkan saat ini untuk urusan kualitas, sudah tidak bisa dibeda-bedakan antara kampus negeri dengan swasta. 

BACA JUGA: Mantap! Siswa Indonesia Bakal Dilatih Profesional Jerman

Menurutnya kampus swasta yang lebih bagus ketimbang kampus negeri juga sudah banyak. Jadi tidak selalu kampus negeri otomatis lebih bagus dari kampus swasta.

Dia mengingatkan kepada calon pelamar kampus swasta harus hati-hati dalam memilih kampus swasta.

BACA JUGA: Air Mata Sang Guru Luruh di Ruang Sidang, Semangat Pak!

’’Jangan sampai terjerumus masuk ke kampus swasta abal-abal,’’ katanya. Sebab resikonya adalah legalitas ijazah tidak diakui pemerintah. Padahal sudah keluar uang yang cukup besar.

Satryo menjelaskan masyarakat bisa mengakses informasi kampus yang dipublikasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Sebab dari data ini, bisa diketahui apakah kampus yang bakal dituju itu bermasalah atau tidak.

Menurut Satryo untuk urusan biaya kuliah, saat ini juga hampir merata antara kampus swasta. Dia mengatakan ada biaya kuliah di kampus negeri yang lebih mahal dibanding kampus swasta. Padahal untuk urusan kualitas pendidikannya, tidak jauh berbeda.

Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemenristekdikti Patdono Suwignjo mengatakan mereka terus menindak kampus-kampus yang bermasalah. ’’Kita ingin masyarakat tenang. Khususnya yang ingin masuk ke kampus swasta,’’ jelas dia.

Dia menuturkan data sampai 29 Juni menunjukkan bahwa jumlah PTS yang aktif dan terdata di Kemenristekdikti mecapai 3.237 unit. Jumlah itu jauh melebihi kampus negeri yang hanya 122 unit.

Meskipun jumlah PTS banyak sekali, Patdono mengingatkan supaya masyarakat hati-hati dalam memilih kampus. 

’’Jangan terpancing iming-iming mudah lulus atau biaya terjangkau,’’ jelasnya. Dia mengakui resiko paling besar kuliah di kampus bermasalah adalah ijazahnya tidak diakui.

Dari seluruh kampus yang aktif di Indonesia, bidang ilmu pendidikan masih paling besar dengan jumlah 5.088 unit. Kemudian disusul teknik (4.540 unit), sosial (3.731), kesehatan (3.229), ekonomi (3.221), dan pertanian (1.637). (wan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia Kerja Sama Sekolah Kejuruan dengan Jerman


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler