Hitungan Ongkos Produksi BBM Dinilai Tidak Akurat

Kamis, 27 November 2014 – 22:11 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pemerintah diminta transparan terkait ongkos produksi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Pasalnya, metode MOPS (Mean of Plats Singapore) plus alfa dinilai tidak akurat dan banyak kejanggalan.

BACA JUGA: Sandiaga Uno Ajak Anak Muda Kampanyekan Hemat Energi

"Dimana MOPS itu sebetulnya kontennya atau isinya menggunakan yang euro 3, maksudnya apa, RON-nya bukan 88 tapi RON 92. Maka menjadi tidak imbang kita menggunakan mops plus alfa, sementara yang dijualnya adalah menggunakan RON 88," kata Anggota Komisi VII DPR, Satya W Yudha di Gedung DPR, Rabu (26/11).

MOPS memang hanya mempublikasikan harga minyak olahan jenis RON 92 atau yang dikenal di Indonesia dengan sebutan Pertamax. Sementara RON 88 adalah jenis minyak yang di Indonesia disebut premium.

BACA JUGA: PLN Raih Peringkat Terbaik II Nasional

Karena itu berkesimpulan, Satya berkesimpulan bahwa ongkos produksi BBM bersubsidi sebenarnya lebih rendah dari hitungan pemerintah.

"Paling tidak kalau pun subsidi saat itu, sebelum naik ya, itu paling tidak lebih dari 1.000 rupiah atau 1.500 rupiah," ujarnya.

BACA JUGA: Garuda Resmikan Kantor Layanan 24 Jam

Seperti diketahui, sejumlah persepsi perhitungan harga produksi BBM dilontarkan oleh sejumlah pihak.

Mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan era Presiden Megawati, Kwik Kian Gie, memiliki perhitungan sendiri. Menurut Kwik, berdasarkan hasil rata-rata harga minyak mentah dunia yang sebesar 80 dolar AS per barel.

Jadi jika di kurs ke rupiah, satu barel yang setara dengan 159 liter, maka per liternya sama saja  seharga Rp 6.088 dengan kurs Rp 12.100.

Namun kalau pemerintah, masih kata Kwik, berpijak dengan harga MOPS di Singapura, yang harga rata-rata FOB Singapura 88,8 dolar AS per barel, plus ongkos angkut 1 dolar AS per barel, maka harga jualnya di 89,8 dolar AS per barel atau setara Rp6.833,84 per liter.

Selain itu ada biaya distribusi sebesar Rp 600 per liter sehingga biaya hingga ke SPBU menjadi Rp7.433,84 per liter. Pemerintah juga mengenakan Pajak PPN, PBBKB (15%) sebesar Rp1.115,08 per liter sedangkan pemerintah menjual BBM di SPBU Rp8.500 per liter.

Indonesia Corruption Watch (ICW) memiliki hitungan berbeda. ICW menilai harga premium yang dijual ke masyarakat sebesar Rp 8.500 per liter sebenarnya lebih mahal karena sudah berada di atas harga keekonomian. Harga premium seharusnya bisa ditekan oleh pemerintah.

"Berdasarkan perhitungan ICW, harga keekonomian premium per liter adalah Rp 7.506," kata Koordinator Divisi Monitoring dan Analisis Anggaran ICW, Firdaus Ilyas.

Perhitungan tersebut didasarkan pada publikasi MOPS, yakni harga gasoline RON (research octane number) 95 pada November 2014 (sampai dengan 18 November) ada pada kisaran US$ 92 per bbl.

Dengan demikian, harga bensin RON 88 diperkirakan di kisaran US$ 90 per bbl. Sementara MOPS untuk diesel pada periode sama berharga di kisaran US$ 98 per bbl. Dengan asumsi US$ 1 sama dengan Rp 12.000, maka MOPS RON 92 adalah Rp 6.796, sementara MOPS solar adalah Rp 7.400,8.

Sedangkan rumus menghitung harga keekonomian BBM versi ICW adalah MOPS ditambah alfa. Dalam hal ini, alfa untuk RON 88 adalah Rp 709 yang didapat dari 3,32 persen dikali MOPS premium, ditambah Rp 484. Hasilnya Rp 7.506 per liter.

Kemudian, alfa untuk solar adalah Rp 681,6, didapat dari penjumlahan 2,17 persen dikali MOPS solar, ditambah Rp 521. Hasilnya harga keekonomian solar adalah Rp 8.082,5.

Dengan harga pasar RON 88 dibuat ke Rp 8.500, setelah dipotong pajak, ICW menghitung penghematan yang dilakukan pemerintah adalah Rp 1.739 per liter. Untuk sisa anggaran Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2014, kuota premium 3,5 juta kiloliter dan solar 1,43 juta kiloliter, ICW mengitung pemerintah bisa menghemat total Rp 8,6 triliun.

Vice President Corporate Commnunication Pertamina Ali Mundakir mengatakan perhitungan harga jual BBM subsidi tidak hanya Mean of Platts Singapore (MOPS) ditambah alpa, tapi juga harus ditambah pajak.

"Pertamina tentu punya hitung-hitungan sendiri tapi itu tentu untuk lingkungan internal kami untuk melakukan efisiensi di kami berapa produk kami itu kami punya," ujarnya di kantor Pertamina. (dil/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Presdir Unilever Indonesia Diganti


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler