Hormat Saya untuk Anthonius Gunawan Agung

Senin, 01 Oktober 2018 – 08:05 WIB
Kapten Ricosetta Mafella berpose di mesin pesawat. Foto: Instagram icoze_ricochet

jpnn.com, JAKARTA - Ricosetta Mafella sudah pasti tidak akan melupakan peristiwa gempa bumi 7,7 SR yang melanda Kota Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (28/9).

Dia adalah kapten pilot pesawat Batik Air bernomor penerbangan ID6231 yang take off dari bandara SIS Al Jufrie Palu beberapa saat lindu terjadi. Penerbangannya dipandu Anthonius Gunawan Agung petugas di menara air traffic control (ATC) yang akhirnya meninggal dunia.

BACA JUGA: Pascagempa, Pasha Ungu Setia Temani Warga Kota Palu

Kepada JawaPos.com, Ricosetta mengaku sudah mendapatkan firasat tidak enak saat berada di landas pacu sebelum take off. Dari balik kemudi pesawat, dia mulai merasakan ada goyangan.

Namun, dia harus tetap berkonsentrasi untuk memastikan pesawat tujuan Makassar itu take off  dengan selamat. Akhirnya, Ricosetta berhasil menerbangkan pesawat yang dipilotinya.

BACA JUGA: Tjahjo Kumolo Kirim PNS Kemendagri ke Palu dan Donggala

“Saya mulai curiga saat landasan pacu saya ke kanan dan ke kiri sedikit. Kemudian saya take off. Saya pikir itu karena landasannya saja,” ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Minggu (30/9).

BACA JUGA: AirNav Indonesia Naikkan Pangkat Almarhum Agung Dua Tingkat

Saat itu, Risocetta belum tahu ada gempa bumi. Sebab, pesawatnya lepas landas sekitar pukul 18.02 WITA atau tepat saat gempa bumi terjadi di ibu kota Sulawesi Tengah itu.

Lantaran tak tahu ada gempa bumi, Risocetta menyebut tidak ada hal mendesak yang perlu dilakukan tindakan responsif. Itulah kenapa dia tetap tetap terbang menuju Bandara Hasanuddin Makassar.

“Tidak ada tindakan responsif karena pada kriteria yang kami lihat yang tidak diperlukan. Penumpang sendiri enggak ada yang tahu,” tandas Risocetta.

Nah, dia mulai tahu ada yang aneh ketika di udara. Dia melihat ada sesuatu yang aneh di laut.

“Apaan itu? Saya sudah perkirakan tsunami. Kok besar sekali, seperti tanahnya amblas lalu ada gelombang. Saya sudah duga ada sesuatu yang enggak beres,” tuturnya.

Dari komunikasi dengan petugas ATC Anthonius Gunawan Agung juga tidak ada kabar soal gempa. Risocetta juga sudah menuliskan itu melalui akunnya di Instagram.

’’Batik 6231 runway 33 clear for take off (Batik 6231 landasan pacu 33 kosong untuk lepas landas),’’ tulisnya di Instagram.

Risocetta baru mendapat jawaban atas fenomena alam di laut yang dilihatnya setelah mendarat di Makassar. Bagaikan disambar petir di siang bolong, dia baru tahu saat pesawatnya lepas landas ternyata ada gempa dahsyat di Palu.

Gempa itu pula yang membuat menara ATC Bandara SIS Al Jufrie menjadi roboh. Anthonius Gunawan Agung yang memandu penerbangan Batik Air dipiloti Risocetta meninggal setelah lompat dari menara ATC.

Namun, gugurnya Anthonius dibaresngi sukses Batik Air ID6231 terbang ke Makassar. Risocetta lantas menuliskan kalimat dalam Bahasa Inggris melalui akunnya di Instagram untuk menggambarkan kenangannya tentang Anthonius Gunawan Agung. 

Jika diterjemahkan, unggahan Risocetta kurang lebih artinya seperti ini: Terima kasih telah menjaga saya dengan selamat sampai saya terbang. Lalu dia melompat keluar dari menara (ATC) dan membuat kaki dan tangannya patah. Hormat saya untuk Anthonius Gunawan Agung sebagai malaikat pelindung saya di Palu. Istirahatlah dengan damai. Tuhan bersamamu. (mys/JPC)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhub Pastikan Transportasi ke Palu Kembali Normal


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler