Ikhlas Dipoligami demi Tante yang Terserang Kanker

Kamis, 02 Februari 2017 – 11:49 WIB
Ikhlas Dipoligami demi Tante yang Terserang Kanker. Ilustrasi Fajar/Radar Surabaya/JPNN.com

jpnn.com - jpnn.com - Kagum dengan sosok Donwori, 45, yang sangat baik dan sopan, Sephia, 50, memilih tak menikah hingga kini.

Mulanya, istri Donwori sebut Karin, 40, tak peduli. Namun, dia sadar kalau tantenya lagi butuh perhatian dan dukungan dari dirinya.

BACA JUGA: Tetap Sayang Hasil Pembuahan Tetangga

Umi Hany Akasah - Radar Surabaya

Demi Sephia, Karin rela menghadiri sidang poligami di Pengadilan Agama (PA), Klas 1A Surabaya, Rabu (2/2).

BACA JUGA: Bello Wafat, Tinggalkan 130 Istri dan 203 Anak...

Dengan wajah penuh beban, Karin membopong tantenya, Sephia masuk ke dalam ruang sidang PA.

Proses sidang poligami itu berlangsung cukup lama sekitar satu jaman. Kemudian, ketiganya keluar dengan mata memerah.

BACA JUGA: 14 Tahun Terbongkar, 3 Anak Itu Pembuahan Tetangga

Karin mengakui ikhlas dipoligami. ”Gimana lagi, nasib,” pasrahnya.

Meski berat, ia harus menjalani. Kondisi Sephia yang digerogoni kanker stadium empat mengharuskannya untuk ikhas untuk dipoligami.

Sebenarnya, Karin sudah tidak mau berdamai dengan Sephia. Terlebih saat mengetahui jika Sephia sangat mencintai Donwori.

Kebetulan sebelum menikah, Sephia ikut di rumah orang tuanya di kawasan Keputih.

Sewaktu berpacaran, Donwori sering ke rumah Karin. Di situlah, Sephia sering melihat dan akhirnya mengenal Karin.

”Tapi tante (Sephia, Red) genit, makanya aku usir. Waktu nikah pun, enggak aku undang,” ketus Karin yang menjadi dosen di sebuah kampus ternama.

Sang ibu sempat marah atas perilaku Karin. Ibunya sempat memintanya untuk meminta maf dan menyerahkan Donwori ke Sephia.

Namun, Karin tetap mempertahankan calon suaminya. Apalagi, Donwori sudah diterima sebagai pegawai pajak dan kini ditempatkan di Jakarta.

Setelah diusir, Sephia kembali ke rumah almarhum orangtuanya di Sidoarjo. Ia memilih tak menikah dan sibuk dengan aktifitas sosial sampai kemudian divonis mengidap kanker rahim oleh dokter.

Tahun 2012 lalu, rahimnya harus diangkat. Ia pun harus menjalani aktivitas kemoterapi untuk pengobatan kankernya hingga sekarang.

”Waktu ibu saya meninggal, kadang tante yang merawat keponakan-keponakannya. Ia baik sekali,” ucapnya.

Waktu bermain ke Sidoarjo, ia melihat koleksi tulisan Sephia.

”Tulisannya tentang cintanya pada suami saya. Saya cerita sama suami dan saudara-saudara,” jelasnya.

Dari beberapa saran, ia pun diminta untuk membahagiakan tantenya di sisa usianya yang tidak lagi panjang.

”Saya pikir poligami sajalah. Toh dia sudah tua, paling ya jarang kasih ’jatah’ ke suami. Hanya formalitas, di atas kertas. Suami juga bilangnya tetap cinta saya kok,” kata warga Keputih itu tentang pilihannya mau dimadu dengan tantenya.

(*/jay)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Petaka Ritual Mandi Kembang Tengah Malam


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler