Ilmu Gempa

Oleh: Dahlan Iskan

Minggu, 12 Februari 2023 – 07:07 WIB
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - PARA korban gempa di Cianjur pun salat gaib untuk korban gempa Turkiye (Turki).

Setelah salat Jumat kemarin. Jumlah korban tewas di Turkiye itu sudah mencapai 24.000 orang.

BACA JUGA: Gempa Maras

Sahabat Disway di Cianjur, Fadillah Munajat, baru tiga minggu meninggalkan tenda. Akibat gempa Cianjur September lalu: 635 tewas.

Rumahnya sendiri, di kampung Cibeleng Hilir, RT 03/01, Desa Cikancana, sedang  diperbaiki. Belum selesai, tetapi ia sudah merasa aman.

BACA JUGA: Salam Baru

Hari itu tenda yang selama 3 bulan ia tempati dibongkar. Kamar atas di rumahnya sudah ia tata. Malam itu, malam pertama pulang dari tenda, ia akan bisa tidur nyenyak. Ia pun tidur bersama istrinya.

Ternyata pukul 03.00 dini hari Kang Fadil terbangun. Begitu juga istri dan anak mereka. Malam pertama itu ternyata disambut gempa. Gempa tunggal. Besarnya 4,5 skala richter.

BACA JUGA: Balon Putih Tiongkok

Kang Fadil lari turun. Keluar rumah. Disertai istri dan anak. Ia tidak lagi mimpi buruk. Gempa beneran. Tiga minggu lalu itu.

Tetangga pun meninggalkan rumah mereka. Tenda sudah telanjur dibongkar.

Meski tidak ada gempa susulan, mereka tidak ada yang kembali masuk rumah. Sampai pagi.

Mengapa berani tidur di lantai atas?

"Kami sudah berhitung. Justru kalau di kamar bawah kami takut tertimpa beton," katanya.

Untuk perbaikan rumahnya itu Kang Fadil dapat bantuan dari Presiden Jokowi.

Ia masuk rombongan dapat bantuan rusak sedang: Rp 30 juta. Sekarang sudah dua kali cair. Kurang sekali lagi.

Kontrol dari Kementerian PUPR kelihatannya ketat. Tahapan itu dicairkan setelah di lapangan ada kemajuan.

Kang Fadil tidak merobohkan rumahnya yang retak berat. Tim ahli yang datang ke rumahnya mengizinkan untuk hanya dilakukan perkotaan.

Fadil diberi briefing apa yang harus diperbaiki dan diperkuat. Setelah dapat tukang, briefing dilakukan lagi ke yang mengerjakan itu. Terutama soal ukuran besi tulang dan jarak besi pengikat itu.

Lalu seminggu sekali penyelia PUPR datang mengawasi pekerjaan. "Dua minggu lagi semua perbaikan selesai. Mungkin habis Rp 50 juta," ujarnya.

Syukurlah program rehabilitasi korban gempa Cianjur berjalan dengan disiplin ilmu bangunan.

Memang masih ada sebagian agamawan kita yang berpendapat gempa itu bagian dari azab. Yakni bentuk hukuman dari Tuhan atas dosa umat manusia.

Namun, golongan seperti ini kian kecil. Juga kian tersudut. Kian memalukan.

Mungkin mereka terpengaruh tafsir yang mendalam tentang  banjir di zaman Nabi Nuh itu sebagai bentuk hukuman.

Meski belum seperti di Tiongkok, ilmu pengetahuan kian mendapat tempat di kalangan agamawan. Penemuan-penemuan penyebab gempa akan terus memperbaiki tafsir-tafsir lama.

Di sistem komunisme Tiongkok, ilmu pengetahuan sudah menjadi salah satu rukun iman mereka yang empat.

Komunisme Tiongkok terus menambah unsur dalam rukun iman mereka.

Komunisme yang asli hanya mengenal eka sila: perjuangan buruh. Melawan majikan.

Ketika masuk Tiongkok, tauhid komunisme itu dimusyrikkan. Ditambah satu: perjuangan kaum tani. Menjadi dwi sila.

Lalu di zaman Jiang Zemin ditambah satu lagi: pengusaha. Maka sejak itu komunisme Tiongkok menjadi komunisme tiga kaki: buruh, tani, pengusaha.

Pencipta ideologi komunis tidak bisa marah ketika buruh yang seharusnya melawan pengusaha justru disatukan dalam tiga rukun iman. Pendiri komunis toh sudah meninggal dunia.

Rukun iman komunisme Tiongkok itu belakangan menjadi empat. Yakni di zaman Presiden Hu Jintao: buruh, tani, pengusaha dan ilmuwan.

Apa pun yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan harus dilawan. Harus dianggap musyrik komunis.

Gus Dur pernah punya ide menambah rukun iman yang enam menjadi tujuh: ditambah keadilan sosial, atau membela Si miskin.

Selama ini ayat-ayat yang membela Si miskin sudah sangat banyak, tetapi rupanya harus ditingkatkan menjadi bagian dari rukun iman: agar dalam membela Si miskin sederajat dengan kepercayaan pada Tuhan.

Saya pernah mewawancarai Gus Dur saat itu. Ketika masih jadi wartawan muda majalah TEMPO. Heboh. Gus Dur cuek. Tetapi kemiskinan tetap berat 40 tahun kemudian.

Agama menawarkan surga di akhirat nanti. Ilmu pengetahuan menawarkan surga di dunia sekarang ini. Agar Turkiye dan Cianjur tidak jadi neraka gempa. (*)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Abad Banser


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler