Indonesia Abaikan Ancaman Trump, Apa Dampaknya?

Jumat, 22 Desember 2017 – 18:54 WIB
Joko Widodo dan Donald Trump. Foto-foto: Setpres

jpnn.com, JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji akan menyetop bantuan ke negara-negara yang mendukung Resolusi Yerusalem di Majelis Umum PBB. Dalam pemungutan suara yang digelar Kamis (21/12) itu, Indonesia jadi satu dari 128 negara yang mengabaikan ancaman Trump tersebut.

Alhamdulillah! AS Kalah Telak, PBB Adopsi Resolusi Yerusalem

BACA JUGA: Alhamdulillah! AS Kalah Telak, PBB Adopsi Resolusi Yerusalem

Jadi, apakah Indonesia perlu merasa khawatir Trump mewujudkan ancaman tersebut?

Pengamat hubungan Internasional Unpad Teuku Rezashyah mengatakan,mungkin saja Trump merealisasikan ancaman tersebut. AS tentu punya daftar negara-negara yang sangat bergantung kepada bantuannya.

BACA JUGA: Negara Arab Ini Ogah Musuhi AS karena Urusan Sepele

Namun, Trump harus berpikir panjang sebelum menghukum Indonesia. Pasalnya, Indonesia punya peran penting dalam membendung ekstremisme di kawasan Asia Timur.

Selain itu, dia juga meyakini Indonesia tak akan terlalu terpengaruh jika AS menghentikan bantuan. Pasalnya, Negeri Paman Sam bukan satu-satunya sumber bantuan yang diterima Indonesia.

BACA JUGA: Donald Trump: Kami Tidak Peduli!

"Indonesia telah melakukan diversifikasi, melepas ketergantungan pada satu negara, misalnya dengan mendatangkan pesawat Sukhoi dari Rusia atau kapal selam dari Korea Selatan. Termasuk juga soal ekonomi. Ini tentu yang harus dikemukakan Indonesia kepada AS, meski dengan cara yang halus," ujarnya seperti diberitakan RMOL.co, Jumat (22/12).

Menurut Reza, yang paling takut akan ancaman Trump adalah negara-negara kecil di Amerika Tengah dan Pasifik Selatan. Tak heran, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Micronesia, Palau, Nauru dan Togo jadi penolak resolusi saat voting di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat.

Pengamat ekonomi dari Indef Bhima Yudhistira mengatakan setelah reformasi, porsi utang pinjaman bilateral Indonesia cenderung menurun. Saat ini, 80 persen utang berbentuk surat utang, dan 20 persen lainnya berupa pinjaman dari IMF, Bank Dunia.

Saat ini, total utang luar negeri AS yang berbentuk pinjaman cuma Rp 8,26 triliun. Atau hanya 1,14 persen dari total utang luar negeri bilateral dan multilateral sejumlah Rp 723,4 triliun.

"Artinya jika bantuan AS tersebut diputus tidak akan terlalu berpengaruh signifikan terhadap ekonomi. Ekonomi kita masih bisa berjalan," kata Bhima, saat dikontak tadi malam. Dia bilang, negara yang sangat tergantung pada bantuan AS adalah negara-negara miskin terutama di Afrika. (rakyatmerdeka)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Begini Reaksi Arogan AS Tanggapi Resolusi Yerusalem


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler