Indra Charismiadji Sentil Nadiem, Larangan IDAI Sudah Jelas, Tetapi Masih Nekat PTM

Senin, 03 Mei 2021 – 06:39 WIB
Mendikbudristek Nadiem Makarim. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat dan praktisi pendidikan Indra Charismiadji memberikan catatan kritis tentang kepemimpinan Nadiem Makarim selama 1 tahun 8 bulan menjabat Mendikbud.

Catatan ini diberikan setelah Nadiem dipercaya kembali oleh Presiden Joko Widodo memimpin Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: THR PNS TNI-Polri Tidak Penuh, Hakim Gusar, KKB Teroris

Menurut Indra, untuk urusan pendidikan, sampai hari ini belum ada langkah strategis baru yang diambil pemerintah menghadapi kemungkinan terjadinya lonjakan penderita Covid-19. 

"Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan surat resmi yang belum merekomendasikan kegiatan tatap muka di sekolah, tetapi pemerintah masih bersikeras dengan rencana pembelajaran tetap muka (PTM) di bulan Juli 2021," kata Indra di Jakarta, Minggu (2/5).

BACA JUGA: Mas Nadiem Unggah Foto Bersama Pejuang Guru Honorer K2, Sinyal Positif?

Ironisnya, lanjutnya, PTM terbatas hanya bermodalkan penyuntikan vaksin covid-19 kepada para pendidik dan tenaga kependidikan. Menurutnya, vaksin belum tentu berhasil dan efektif apalagi untuk melawan varian B1617 seperti  yang terjadi di India.

Melihat perkembangan tersebut, kata Indra, pembelajaran jarak jauh (PJJ) daring bisa disimpulkan sebagai cara paling tepat  mendidik anak-anak dalam kondisi ini.

BACA JUGA: Catut Nama Menteri Nadiem, 5 Orang Jadi Tersangka

Namun, lanjut Indra, banyak pihak dimotori Kemendikbudristek sendiri, sudah menghakimi bahwa belajar daring itu menimbulkan learning loss dan banyak dampak negatifnya.

"Saya adalah salah satu orang yang percaya bila belajar secara daring akan menghasilkan learning gain atau berdampak positif bagi perkembangan anak," ujarnya. 

Tentunya, tambah Indra, harus dengan cara berbeda implementasinya, tradisional. Dampak positif tidak akan muncul dengan cara guru berceramah di ruang Zoom selama berjam-jam dan mengirimkan tugas yang banyak jumlahnya kepada siswa.

Indra menganalogikan bila menanak nasi menggunakan rice cooker, tidak mungkin rice cooker diletakkan di atas kompor seperti menggunakan dandang. Nasi yang dihasilkan, rasa dan teksturnya berbeda tetapi keduanya tetap kita sebut nasi. 

"Kalau ditanya mana yang lebih enak, jawabannya tergantung siapa yang ditanya alias selera," ucapnya.

Insan pendidikan, menurut Indra, harus unlearning model dan paradigma pembelajaran yang lama sehingga bisa relearn yang baru seperti menggunakan pembelajaran berbasis proyek (Project-based Learning) pendidikan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Sejak Maret 2020 saat belajar dari rumah (BDR) diberlakukan hingga hari ini, Indra mengatakan, tidak ada upaya untuk membenahi kualitas PJJ daring.

Tidak ada rencana pelatihan guru secara masif, pendampingan orang tua, dan stimulasi belajar untuk peserta didik. 

Bahkan, kata Indra, pemerintah beberapa kali “memaksakan” buka sekolah terbukti dengan adanya tiga SKB 4 menteri tentang PTM.

"Sungguh ironis, karena saat ini era digital dan telah waktunya anak Indonesia dididik menjadi SDM unggul era digital," tandas Indra Charismiadji. (esy/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler