Jadi Pelopor Duet Jokowi-Prabowo 2024, Gagasan Qodari Kembali Diperbincangkan

Senin, 08 Agustus 2022 – 23:48 WIB
Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Foto: Biro Setpres

jpnn.com, JAKARTA - Gagasan M Qodari yang mempelopori Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto berpasangan di Pilpres 2024 saat ini kembali diperbincangkan.

Hal itu terbaca dari kedekatan Jokowi dan Prabowo yang terus terjalin dengan baik dan mesra seiring berjalannya waktu.

BACA JUGA: Qodari: Pak Jokowi Main Hati dengan Prabowo

Tak hanya sekali keduanya tampak mesra dalam suatu acara makin sering terlihat di Publik. 

Momentum Prabowo mewakili Presiden Jokowi menutup kejuaraan bulu tangkis Piala Presiden 2022 di GOR Nanggala Cijantung, Jakarta, Sabtu (6/8/2022) lalu, kemudian ditangkap sebagai simbol politik dalam Pilpres 2024.

BACA JUGA: Puluhan Pendukung Prabowo-Jokowi Mulai Panaskan Mesin, Jakarta Jadi Pionir

Pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai perbincangan soal gagasan Jokowi dan Prabowo kemudian ramai dibicarakan publik awalnya dipelopori oleh M. Qodari yang ingin menduetkan Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024.

“Saya berpendapat apa yang dikatakan Saudara Qodari bahwa kedekatan itu kemudian menjadi tiga periode, saya kira pandangan itu pandangan beliau (Qodari),” kata Emrus Sihombing, Senin (8/8/2022).

Menurut Emrus, kedekatan Jokowi dan Prabowo ini sudah dimulai sejak Pilkada DKI tahun 2012 lalu, meski kemudian mereka berlawanan di Pilpres tapi tidak lama kemudian mereka menyatu.

“Artinya Prabowo menjadi salah satu menteri yang diposisikan pada menteri yang strategis,” ujarnya.

Menurut Emrus, Menteri Pertahanan dan Keamanan itu adalah menteri strategis dan tidak sembarang diberikan kepada orang, selain memiliki kompetensi di bidangnya juga dipertimbangkan dari faktor kedekatan dalam arti loyalitas.

“Presiden berikan jabatan itu karena Prabowo dinilai sosok yang loyal pada dia, dan kenyataannya sampai sekarang loyal. Salah satu buktinya Prabowo sering memberikan pujian kepada Jokowi kan. Nah itu satu bukti yang sangat loyal,” ungkapnya.

Sementara itu, Analis Politik dan Direktur IndoStrategi Research and Consulting Arif Nurul Iman menilai, simbol politik dari Prabowo yang dipercaya mewakili Jokowi pada perhelatan tersebut dapat ditangkap sebagai sinyal peluang Prabowo mendapat 'endorse' Jokowi untuk Pilpres 2024.

"Saya kira kinerja dan loyalitas Prabowo pada Presiden Jokowi, kian menunjukkan bahwa selain sebagai memiliki kedekatan Prabowo juga potensial akan didukung dan di-endorse Presiden Jokowi," ungkap Arif, Senin (8/8/2022).

Bukan hanya kedekatan antara keduanya yang intens, Arif menilai isyarat lainnya datang dari kelompok-kelompok relawan Jokowi yang melemparkan pesan dukungan bagi Prabowo semakin menguatkan sikap politik Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024.

Arif menganalisis, kedekatan antara keduanya yang intens dan terus terjalin dengan baik seiring waktu.

Isyarat lainnya dari kelompok-kelompok relawan Jokowi yang melemparkan pesan dukungan bagi Prabowo.

Hal ini membuat peluang Prabowo untuk menangi di Pilpres 2024 dan meneruskan estafet kepemimpinan Jokowi makin terbuka lebar.

"Secara kalkulasi politik, meski masih dinamis Prabowo masih paling pasti untuk maju dan berpotensi memenangkan Pilpres," kata dia.

"Jika loyal dan peluang menang dalam Pilpres besar bukan tidak mungkin Jokowi mendukung Prabowo," tambahnya.

Diketahui, gagasan menduetkan Jokowi dan Prabowo dipelopori oleh M Qodari saat hadir dalam program Mata Najwa, Kamis (18/3/2021) lalu.

Saat itu, Qodari sambil mengenakan kaus bergambar Jokowi dan Prabowo percaya publik kan setuju bahkan ikut mengampanyekan narasi Jokowi tiga periode.

Gagasan Qodari tersebut pada awalnya banyak dikecam, tetapi kedekatan Jokowi dan Prabowo yang intens terlihat di media memberikan tafsir yang beragam, mulai dari dukungan politik Jokowi kepada Prabowo hingga membuka peluang keduanya berduet di Pilpres 2024.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler