'Jangan Berharap Bertemu Badak di Ujung Kulon'

Senin, 13 Juli 2015 – 10:17 WIB
MENIKMATI HIJAU: Bergaya di Pulau Handeleum. (Septinda Ayu Pramitasari/Jawa Pos)

jpnn.com - PERJALANAN ke Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, adalah pertemuan kedua kami, para pencinta traveling, yang bersua dalam forum Backpacker Indonesia (BPI).

------------

BACA JUGA: Yuuk...Hilangkan Mumet ke Curug Sodong

Septinda Ayu Pramitasari, Wartawan Jawa Pos

------------

BACA JUGA: Gua, Sungai, Hingga Spa dan Mandi Sulfur

Sebelumnya, kami bertemu saat tripke Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, pada Agustus 2014. Cukup lama memang. Sebab, kami memiliki kesibukan masing-masing. Apalagi, kami berasal dari berbagai daerah. Mulai Surabaya, Jakarta, Bandung, Bogor, hingga Papua. Seru, bukaaan?

Short trip itu dilakukan mulai 15 hingga 17 Mei 2015. Saya, satu-satunya peserta dari Surabaya, langsung ikut meeting point (meepo) di Jakarta, tepatnya di Plaza Semanggi. Ada 13 orang yang ikut bergabung dalam trip Ujung Kulon. Sebagian teman baru bergabung. Kami pun berkenalan.

BACA JUGA: Destinasi Wisata Alam Malang, Pantai Wedi Awu yang Memiliki Ombak Terbaik

Sudah tidak sabar ingin melihat pulau yang terkenal eksotis dan sakral itu, kami langsung berangkat menuju Dermaga Sumur, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, dengan menggunakan Elf sekitar pukul 23.00. Perjalanan kurang lebih enam jam. Akhirnya, kami sampai di Desa Sumur sekitar pukul 05.00.

Pandangan saya masih samar-samar. Gelap. Penerangan di sana hanya menggunakan lampu semprong. Saya harus berjalan dengan sangat hati-hati. Saya bersama rombongan sudah disediai tempat singgah sementara di dekat Dermaga Sumur.

Kesempatan tersebut saya manfaatkan untuk merebahkan badan sebentar, mengisi baterai gadget, dan cuci muka. Yup, sebentar lagi saya akan menghabiskan waktu menjelajah pulau dan tidak ada kesempatan untuk dandan-dandan cantik lagi.

Itinerary pertama adalah Pulau Peucang. Yup, pulau yang sangat terkenal dengan pasir putih dan terumbu karangnya itu akhirnya akan saya kunjungi. Butuh sekitar tiga jam menuju Pulau Peucang. Cuaca terik pun mulai menyengat kulit. Kacamata hitam dan sunblock sangat berguna untuk melindungi saya dari sengatan sinar matahari. Selama perjalanan menuju Pulau Peucang, jika beruntung, Anda bisa melihat hiu. Seperti teman saya Roy dari Jakarta.

Sebelum menuju Pulau Peucang, kami sempatkan untuk snorkeling. Sewa alat snorkeling sekitar Rp 50 ribu untuk dua hari. Snorkeling pertama kami gagal. Sebab, teman-teman saya yang lebih dahulu nyebur merasa kulitnya gatal-gatal karena terkena ubur-ubur kecil dan berwarna bening.

Setelah pindah lokasi di dekat Pulau Peucang, mata saya pun kembali segar. Lautnya berwarna kehijauan. Terumbu karang terlihat indah. Hasrat saya untuk segera menceburkan diri ke laut semakin besar. Byuuuurrr. Seketika rasa panas yang menyengat kulit langsung berganti dingin dan segar.

Menurut saya, titik snorkeling di Ujung Kulon belum memuaskan. Pilihan spot untuk snorkeling juga sangat terbatas. Yakni, Pulau Peucang dan Pulau Oar. Di Pulau Oar, Anda bisa nemu ”Nemo” (ikan badut), lho. Juga bintang laut. Terumbu karangnya juga bagus, tapi sangat tajam. Tapi, saat snorkeling dengan menggunakan kaki katak, sebaiknya berhati-hati karena bisa merusak terumbu karang.

Sudah puas dengan snorkeling, kapal yang saya tumpangi mendarat di Pulau Peucang. Di sana banyak penginapan. Harga homestay untuk satu kamar isi tiga orang sekitar Rp 700 ribu per malam. Kalau ingin murah lagi, ada bivak. Satu kamar bisa buat ramai-ramai. Pulau Peucang digemari banyak wisatawan karena berpasir putih dan memiliki air laut yang sangat jernih. Di sana saya juga bisa bermain-main dengan babi hutan yang sering muncul hingga bibir pantai. Hiii.

Puas bermain-main di pantai Pulau Peucang, saya langsung menjelajah ke Sabana Cidaon. Tempatnya cukup dekat dengan Pulau Peucang. Kurang lebih 15 menit dengan naik kapal. Di sana, saya disuguhi hamparan padang rumput nan luas. Mata saya pun jadi lebih sejuk. Di padang penggembalaan Cidaon dengan luas sekitar 4 hektare itu terdapat satwa-satwa liar. Yang terkenal adalah perkumpulan banteng, merak, dan kerbau. Mereka sering berkumpul di tengah padang rumput saat makan.

Saat itu sekitar pukul 14.30. Kata petugas yang menjaga, satwa-satwa liar tersebut sering muncul pada pukul 06.00 hingga 16.00. Tapi, saya kurang beruntung. Satwa-satwa itu bersembunyi di balik hutan. Ada banteng dan kerbau yang muncul, tapi jaraknya sangat jauh dari saya. ”Kalau mau lihat banteng, harus tracking di pinggir hutan. Tapi, harus hati-hati,” kata Hudan, mengarahkan.

Apakah saya bisa bertemu badak bercula satu? Hudan memberikan pernyataan yang membuat saya hopeless. ”Jangan berharap bertemu badak di Ujung Kulon. Badak salah satu hewan langka. Wisatawan yang ke Ujung Kulon pasti kecewa gara-gara tidak bisa bertemu badak,” terangnya.

Menurut Hudan, badak di Ujung Kulon saat ini tinggal sekitar 35 ekor. Itu pun berada di pulau khusus. Jaraknya sangat jauh. Sangat jarang wisatawan yang menuju ke tempat penangkaran badak, kecuali para peneliti. Sebab, untuk melihat badak, setidaknya harus menginap di rumah pohon selama berminggu-minggu.

”Tapi, di Pulau Cigenter ada satu badak saja. Kalau beruntung, bisa lihat langsung,” ujar Hudan melegakan saya beserta rombongan.

Lima Jam Terombang-ambing di Laut

DARI Padang Savana Cidaon menuju Pulau Handeleum, tempat saya menginap, sangat jauh. Kurang lebih tiga jam. Akhirnya, saya dan rombongan memutuskan tidak melanjutkan tracking di padang penggembalaan Cidaon. Sebab, saat itu sudah pukul 15.30. Saya sebenarnya kurang puas. Tapi, waktu memang terlalu mepet untuk bisa menjelajahi seluruh Taman Nasional Ujung Kulon.

Di atas kapal, kami menikmati sore dengan indahnya. Matahari lambat laun tenggelam. Sudah lama saya tidak melihat indahnya sore dengan semburat matahari yang menenangkan hati. Saya melihat teman-teman mulai lelah. Ada yang tertidur, ada yang ingin mengabadikan momen sunset di tengah laut.

Sedang asyik-asyiknya menikmati sunset, kapal kami berhenti. Ada salah satu bagian mesin yang ternyata rusak dan perlu diperbaiki. Saya dan teman-teman panik. Sebab, posisi kapal benar-benar di tengah laut. Sekitar satu jam kapal bisa berjalan lagi. Namun, hari semakin malam. Situasi itu membuat saya panik tidak keruan.

Entah, kapal kami menuju arah mana. Yang jelas, saya merasa kapal kami hanya berputar-putar, tapi tidak sampai ke tujuan. Berada di tengah laut pada malam hari tentu sangat menakutkan. Apalagi, kapal yang kami tumpangi bukan kapal besar. Ombak pun semakin tinggi. Tak ayal, saya terciprat air laut beberapa kali. Kapal kami terombang-ambing tidak keruan. Saat itu, mesin kembali mati. Sedangkan, hari semakin malam, kami masih berada di tengah laut. Kami pun pasrah.

Setelah terombang-ambing kurang lebih lima jam di tengah laut, akhirnya kami sampai di Pulau Handeleum. Dari dermaga, pulau tersebut sangat gelap. Tidak ada lampu sama sekali. Petugas yang menjemput kami membawakan lampu senter. Kami berjalan ke dalam hutan yang sepi. Setelah 10 menit berjalan ke dalam hutan, di sana akhirnya kami sampai di penginapan Pulau Handeleum.

Kami menginap di rumah petugas Taman Nasional Ujung Kulon. Bentuknya bivak. Satu kamar diisi 10 orang. Harganya hanya Rp 25 ribu per orang. Yang paling seru di tempat kami menginap adalah bisa bermain dengan rusa.

Bahkan, saat bangun tidur, rusa-rusa itu sudah berada di depan bivak. Teman-teman yang tidur di tenda depan bivak pun terpaksa harus bangun karena rusa tersebut. Saya dan teman-teman berkesempatan memberi makan rusa dengan roti tawar.

Pagi di Pulau Handeleum membuat perasaan ketakutan di tengah laut sirna. Sebab, kami akan bermain canoeing di Pulau Cigenter. Jaraknya dekat dengan Handeleum. Kurang lebih satu jam. Di sana sudah tersedia perahu tradisional. Biaya sewanya hanya Rp 50 ribu per orang. Kami menyusuri Sungai Cigenter dengan mengayuh dayung perlahan-lahan. Selama canoeing, pemandangan hutan bakau di kanan dan kiri sungguh indah.

Kurang lebih satu jam canoeing. Konon, Sungai Cigenter merupakan habitat buaya muara dan ular. Saya juga sempat melihat ular di atas pohon. Rasanya ngeri-ngeri sedap. Hehee. Tapi, di sana saya tidak beruntung karena tidak bisa melihat badak. Hanya jejak kaki berukuran jumbo yang saya lihat. Hmm, tapi saya cukup puas. (*/c11/c6/dos)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Destinasi Wisata Alam Malang, Teluk Klethekan dan Air Terjun Banyu Anjlok


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler