Jangan Seperti Jeruk Makan Jeruk

Anggota DPRD Sigi Kritik soal Disiplin

Kamis, 31 Mei 2012 – 06:22 WIB

SIGI - Persoalan internal di kalangan anggota DPRD Sigi, Rabu (30/5) mencuat ke permukaan. Yang dipertentangkan wakil rakyat di gedung terhormat itu yakni masalah disiplin. Lembaga itu disebutkan sejak masa sidang caturwulan I hingga masa sidang caturwulan II saat ini, masih sering menerapkan “jam karet” ketika menggelar rapat paripurna atau rapat sejenisnya.

Saat Ketua DPRD Sigi, Drs H Budi Luhur Larengi, hendak menutup sidang paripurna dengan agenda tanggapan fraksi terhadap delapan buah rancangan peraturan daerah (Raperda) yang diajukan Pemkab Sigi, tiba-tiba Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Sigi, Samuel Samben, melakukan interupsi dan meminta diberi kesempatan berbicara. Budi Luhur selaku pimpinan sidang langsung mempersilakan Samuel menyampaikan pendapatnya.

Ternyata di luar dugaan, Samuel bukannya bertanya atau memperjelas mengenai delapan buah Raperda yang diajukan eksekutif. Politisi Partai RepublikaN ini malah meminta ketegasan dari jajaran pimpinan dewan supaya bisa konsisten dengan waktu bersidang. Jika dalam jadwal sidang dimulai pukul 10.00 wita, idealnya dimulai pada jam itu.

“Dari sidang caturwulan I sampai caturwulan II ini kami dari unsur BK melihat, selalu molor sidangnya. Kami minta ketegasan dan penjelasan dari pak ketua, kenapa sampai begini. Apakah ada pertimbangan lain sehingga jadi begini,”kata anggota DPRD PAW Livingstone Sango ini.

Mendengar apa yang disampaikan Samuel Samben, sikap anggota DPRD Sigi terbelah. Ada yang pro, namun tidak sedikit juga yang kontra. Apa yang dikemukakan Samuel dinilai berlebihan dan tidak pada tempatnya. Karena Samuel telah mengungkap masalah internal lembaganya di forum resmi yang dihadiri bupati, sekkab, kepala SKPD, kepala kantor dan kepala bagian di jajaran eksekutif.

Meski banyak yang kontra dengan pernyataan Samuel Samben, tidak sedikit pula yang memberikan dukungan. H Ibrahim misalnya, politisi Partai Demokrat itu menyatakan sependapat dengan apa yang dikemukakan Samuel Samben. Menurutnya, buktinya pada sidang paripurna kali ini nanti dimulai pukul 11.05 wita, padahal jadwal sidang pukul 10.00 wita.

Pimpinan dewan harus tegas dan konsisten dengan rapat paripurna. Kalau jam 10.00 wita jadwalnya, sebisa mungkin dimulai pukul 10.00 wita agenda sidangnya. “Wibawa lembaga ini harus kita jaga. Kita mesti disiplin dengan waktu sidang. Bahkan kalau perlu, kita jangan merokok di ruangan ini, sebab di dinding-dinding telah dipasang tanda dilarang merokok. Buat apa dipasang di dinding no smoking, sementara kita tidak mematuhinya,” kata Haji Ibrahim, pada paripurna yang dihadiri Bupati Sigi Ir H Aswadin Randalembah MSi serta jajaran SKPD.

Usai Ibrahim memberi dukungan atas pernyataan Samuel Samben soal disiplin waktu sidang, anggota DPRD lainnya Torki I Tura tersulut untuk berbicara. Ia meminta waktu kepada pimpinan sidang agar diberi kesempatan meng-counter pernyataan Samuel maupun Haji Ibrahim.

Dengan mimik serius, Torki menyesalkan sikap kedua politisi tersebut. Karena, masalah itu seharusnya tidak diungkap di forum sekelas paripurna. Ada tempatnya, seperti di rapat internal dewan. “Ini masalah internal kita. Tidak etis dibuka di sini,”sodok Torki.

Budi Luhur yang memimpin sidang tak menunggu lama memberikan penjelasan terhadap Samuel Samben dan Hi Ibrahim terhadap apa yang mereka kritisi. Menurut politisi Partai Golkar itu, lembaga yang dipimpinnya selama ini sudah cukup disiplin dalam menjalankan tugas lembaga, termasuk memulai sidang.

Tidak semua apa yang diungkapkan Samuel benar adanya. Pasalnya, saat dirinya hendak memulai sidang pukul 10.00 wita, banyak anggota dewan belum datang. Ada yang dihubungi beralasan masih sementara di jalan, ada pula yang mengaku baru saja tiba di ruang komisi.

“Ini sebenarnya masalah internal. Karena saudara sudah ungkap di forum ini, saya terpaksa ungkap juga. Saya datang ke kantor setiap ada paripurna pukul 09.45 wita. Ketika jarum jam sudah menunjuk pukul 10.00 wita, ternyata anggota dewan belum datang semua. Bagaimana mau dimulai kalau tidak kuorum. Kan tidak enak menjadi pemberitaan media, kita memaksakan rapat yang tidak kuorum,” kata Budi mengklarifikasi.

Ia bahkan menyebut sikap Samuel Samben dan Hi Ibrahim yang mengkritik soal disiplin rapat paripurna, merupakan sikap yang tak wajar. Tak seharusnya diungkap di forum resmi seperti itu, sebab masalahnya terlalu internal. “Kita jangan seperti jeruk makan jeruk. Anggota dewan sendiri kok yang datang lambat, makanya paripurnanya lambat juga,”kata Budi dengan pernyataan joke-nya. “Coba kalau datang tepat waktu, pasti paripurnanya kita gelar tepat waktu juga, atau sesuai jadwal,”tandasnya. (fri)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Ambulance Sudah Jadi Mobil Pribadi Dokter


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler