Jarnas 98 Sebut Ada Parpol yang Berusaha Mendelegitimasi Hasil Pemilu

Selasa, 20 Februari 2024 – 09:36 WIB
Ketua Umum Jaringan Nasional Aktivis (Jarnas) 98, Sangap Surbakti. Foto: dok. Jarnas

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Jaringan Nasional Aktivis (Jarnas) 98, Sangap Surbakti mengajak seluruh anggota Jarnas 98 mengawasi secara intensif proses penghitungan suara oleh KPU dari level terbawah hingga paling atas.

Ajakan ini, kata Sangap, diserukan untuk memastikan penyelenggara pemilu bekerja secara profesional dan transparan tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

BACA JUGA: Kenapa Amerika Serikat Belum Memberi Selamat buat Prabowo?

"Ada indikasi terstruktur dan masif yang dilakukan partai politik tertentu untuk mendelegitimasi hasil pemilu karena tak sesuai kehendak mereka. Langkah ini konyol. Kita harus dukung kerja-kerja penyelenggara," kata Sangap di Sekretariat Jarnas 98, Senin (19/2).

Dosen Fakultas Hukum UKI itu menyampaikan parpol yang saat ini sedang mendelegitimasi hasil pemilu bukan partai baru.

BACA JUGA: Surya Paloh jadi Buah Bibir, Prabowo Tenang di Samping Jokowi

Menurutnya, parpol tersebut pertama kali berusaha mendelegitimasi hasil pemilu kala Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) keluar sebagai pemenang Pilpres 2004.

"Sampai pemerintahan SBY berjalan, mereka terus bekerja mendelegitimasi hasil Pipres dengan menyuarakan, SBY neolib. Namun, ketika mereka berkuasa, malah mendukung sosok yang secara terang benderang pemikirannya neolib. Hal-hal seperti ini tak baik untuk jalannya demokrasi," tutur dia.

BACA JUGA: Ikut Menangkan Prabowo-Gibran, Sukarelawan Penerus Negeri: Bukti Peran Anak Muda

Sangap yakin rakyat tak terpengaruh propaganda yang secara berkelindan disuarakan parpol tersebut.

Pasalnya, rakyat jengah dengah pola-pola yang dilakukan partai tersebut.

"Jangan karena kalah dalam pemilu, apa saja dituduh curang, itu tidak elok kelihatan. Kalau memang partainya hebat dan saksinya kuat, seharusnya dalam 2x24 jam hasil real count itu sudah diketahui. Itu menandakan partai politik tersebut lemah dalam manajemen kepartaian," tutur Sangap. (flo/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler