Jasa Marga Punya Banyak Cara Atasi Tol Macet

Selasa, 27 Maret 2012 – 03:03 WIB

JAKARTA - Secara harfiah, jalan tol merupakan jalan bebas hambatan. Artinya, dengan kita memilih jalan tol, tentu saja mendapatkan fasilitas lebih seperti terhindar dari kemacetan, waktu tempuh perjalanan lebih cepat dan manfaat lainnya.

Tetapi sepertinya hal itu tidak berlaku di Jakarta. Untuk bayar tol saja kita harus antri sampai 30 kendaraan, belum lagi macet disepanjang ruas jalan tol yang kita bayar.

Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Adityawarman, sang operator jalan tol pernah mengatakan, tol adalah pilihan. Bukan lagi jalan alternatif menghindari kemacetan. Dia mengaku kondisi bebas hambatan sulit berlaku di jaringan tol Jabodetabek.

Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Mulai jaringan lingkar tol luar Jakarta yang belum tersambung, sehingga masyarakat terpaksa berdesak-desakan pada salah satu jaringan tol saja, teknologi jalan tol yang belum sepenuhnya dapat diterima masyarakat seperti e-toll card atau e-toll pass, jumlah kendaraan yang bertambah terus setiap tahunnya dari daerah menusuk Jakarta, dan moda transportasi baik monorel, KRL, yang belum maksimal.

Untuk itu diperlukan solusi bagaimana pemecahan kesulitan-kesulitan tersebut agar fungsi tol kembali kepada harfiahnya sebagai jalan tol bebas hambatan. Beberapa cara yang sudah ditempuh operator jalan tol yakni melalui pelebaran lajur, pemindahan dan penambahan gerbang tol, serta alih teknologi dengan menggunakan e-toll pass dan e-toll card.

Sementara pemerintah tengah membangun jaringan tol lingkar luar kedua dan Jakarta Outer Ring Road (JORR) W2 Ulujami-Kebon Jeruk. Jika semua jaringan sudah menyambung, Jakarta akan dikelilingi dua jaringan lingkar tol luar yang membentuk sebuah kurva melingkar.

"Kita tidak bisa serta merta menghindari kemacetan, baik antrean di depan gerbang tol atau saat sudah di dalam ruas tol," kata Adityawarman kepada INDOPOS, Senin (26/3).

Alasannya, pertumbuhan jumlah kendaraan di Jakarta per tahun sangat fantastis. "Pertambahan kendaraan di Indonesia rata-rata mencapai 2 ribu kendaraan baru per hari. Sebagian besar ada di Jakarta dan itu tidak diimbangi dengan pertumbuhan jaringan jalan termasuk jalan tol sehingga kelebihan muatan," lanjutnya.

Meski demikian, Adit mengatakan pihaknya sebagai operator jalan tol juga tidak pasrah dengan keadaan. "Kami sudah menambah lajur ruas jalan tol, dari dua lajur menjadi empat lajur atau dari dua lajur menjadi tiga lajur," tuturnya.

Untuk itu, Adit berharap pemerintah juga dapat mengimbangi pertumbuhan tersebut dengan perbaikan di sejumlah transportasi massal. "Kalau memang lahannya masih cukup, kami bisa menambah lajur. Tapi kalau lahan tidak ada seperti di ruas Cawang-Grogol, mau diapakan lagi. Ini juga harus dimengerti masyarakat," tegas Adit.

Menurut Adit, selain penambahan lajur di berbagai ruas, Jasa Marga sudah melakukan pemindahan gerbang tol seperti dari TMII ke Cimanggis di Jagorawi atau dari Pondok Gede Timur ke Cikarang. Sebelumnya juga sudah dipindahkan Gerbang Tol Kebon Jeruk ke Karang Tengah di Tol Jakarta-Tangerang.

"Kami juga sudah menambah lajur (pelebaran) di beberapa jalan tol yang sudah mulai padat, itu semua untuk mengurangi kemacetan demi meningkatkan pelayanan kepada konsumen," katanya.

Sedangkan Kepala BPJT Ahmad Ghani Ghazali mengatakan, antrean di depan pintu tol tidak hanya terkait jumlah gardu, tetapi juga masalah sistem jaringan jalan dan arus lalu lintas. "Fluktuasi kendaraan yang akan memasuki jalan tol sangat tinggi dan berbeda-beda. Jadi saya tidak melihat itu (jumlah maksimal kendaraan) hal yang efektif untuk diatur dalam SPM," ujarnya.

Menurut Ghani, hal terpenting saat ini yang harus dijaga operator adalah memiliki rasa tinggi untuk meningkatkan pelayanan kepada para pengguna tol. Salah satunya menjaga batas waktu transaksi kendaraan di depan gerbang tol selama 5 detik hingga 10 detik sehingga arus yang memasuki tol lebih lancar.

"Pengelola bisa menggunakan sistem jemput bola ketika melihat jumlah antrean kendaraan mulai memanjang atau mempersiapkan uang kembalian dengan dipaketkan," kata Ghani.

Dia menambahkan sekarang SPM satu transaksi berapa lama, itu yang harus diantisipasi. Untuk mempercepat proses transaksi dan mengurangi beban di pintu masuk tol salah satunya dengan peggunaan e-toll card. (vit)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Bosowa Bangun Pabrik Semen di Lombok


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler