Kader Muhammadiyah Harus Siap Menjadi Pemimpin

Minggu, 21 Desember 2014 – 15:23 WIB
Kader Muhammadiyah Harus Ikut di Lingkaran Kekuasaan

jpnn.com - JAKARTA - Rekam jejak perjalanan Muhammadiyah tak diragukan lagi. Organisasi yang dibentuk oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912 mempunyai peran yang sangat diperhitungkan, baik dalam bidang pendidikan, sosial dan kesehatan.

Itu dibuktikan dari kiprah Muhammadiyah yang mendirikan sejumlah amal usaha seperti panti sosial, sekolah dari tingkat TK hingga perguruan tinggi dan rumah sakit. Muhammadiyah juga mampu melahirkan tokoh-tokoh bangsa.

BACA JUGA: TNI Tenggelamkan 2 Kapal Ikan Berbendera PNG di Ambon

Dengan melihat potensi ini maka Muhammadiyah merupakan organisasi besar. Namun, apabila melihat pada konteks kekininian Muhammadiyah dalam bidang politik belum mempunyai peran yang besar yang terlihat dari minimnya kader Muhammadiyah menduduki pos-pos strategi di dalam pemerintah.

“Pada pemerintahan Jokowi-JK belum ada beberapa kader secara struktural yang masuk dalam pemerintah,” kata Tokoh Muda Muhammadiyah Muchlas Rowie saat mengisi Latihan Kepemimpinan Nasional yang diselenggaran oleh DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Minggu (21/12).

BACA JUGA: Organisasi Sayap Golkar Suarakan Munaslub Rekonsiliasi

Padahal kata dia, Muhammadiyah mempunyai kadar-kader yang berkualitas untuk ikut berkontribusi membangun bangsa. ”Tapi kita sampai sekarang masih terkungkung dengan doktrin budaya menunggu. Yaitu kita tidak boleh meminta-minta jabatan. Tapi, apabila diberi jabatan kita tidak boleh menolak,” jelas praktisi bisnis yang akrab disapa Rowie ini.

Rowie mengimbuhkan padahal dalam kontek politik saat ini kekusaan itu harus direbut dan diperjuangkan. “Dengan Muhammadiyah masuk dalam lingkaran kekuasaan kita bisa dengan mudah berdakwah,” ujarnya.

BACA JUGA: Menteri Marwan Ingatkan Perusahaan Peduli Pedesaan

Agar kader Muhammadiyah bisa berdiaspora, Rowie juga menyarankan agar pemuda Muhammadiyah harus memasarkan dan mendorong kader-kader terbaik kita untuk menjadi pemimpin bangsa. Sehingga ketika bangsa ini memanggil, Muhammadiyah sudah mempersiapkannya.

“Saya sangat sedih. Ketika Jokowi meminta menteri kesehatan, Muhammadiyah hanya memunculkan dua nama, dan akhirnya yang terpilih bukan kader Muhammadiyah. Padahal kita mempunyai kader-kader terbaik yang begitu banyak. Sehingga kita tidak mempunyai harga diri,” katanya. (awa/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... IPW Dorong Perwira Polisi Menganggur Ajukan Pensiun Dini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler