Kalau Bukan karena Jupe, Mungkin Aku Sudah Tidak Ada di Dunia Ini

Selasa, 13 Juni 2017 – 00:05 WIB
Sergei Litvinov saat ditemui di Bandara Soekarno-Hatta sesaat sebelum terbang ke Rusia Rabu, 2 Juli 2014. Jupe membantunya, membuka jalan ke dunia hiburan. Foto: M. Amjad/Jawa Pos/dok.JPNN.com

jpnn.com - Sergei Litvinov, 30, pemain asal Rusia yang pernah merumput di PSLS Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, merasa begitu sedih begitu mendengar Julia Perez meninggal dunia.

”Dia datang pada saat yang tepat. Kalau bukan karena dia, mungkin aku juga sudah tidak ada di dunia ini,” tutur eks pemain timnas U-21 Rusia itu. Mengapa dia begitu sedih?

BACA JUGA: Siti Badriah Masih gak Percaya Jupe Meninggal

---

Ya, pria itu adalah Sergei Litvinov, 27. Sudah tiga tahun dia berkarir di klub-klub sepak bola Indonesia sebagai pemain profesional.

BACA JUGA: Nikita Mirzani Langsung Nangis

Tapi, karirnya tidak tambah mengkilap dan penghasilannya berlimpah. Hidup Sergei di perantauan justru merana. Ini karena gajinya sebagai pemain tidak dibayar selama enam bulan.

Dia tak punya apa-apa. Untuk makan sehari-hari saja dia mesti dibantu teman-temannya yang berempati.

BACA JUGA: 3 Hari Kepergian Jupe, Ruben: Sekarang Kita Ngobrol di Tempat berbeda

Dia juga tak kuat membayar sewa kos dan terpaksa tidur di markas Pasoepati, nama komunitas pendukung Persis Solo.

Selama gajinya tak dibayar itu, Sergei hidup dari sisa-sisa tabungannya yang tak seberapa. Setelah uangnya habis, dia terpaksa hidup berpindah-pindah dari rumah teman yang satu ke rumah teman yang lain.

Ujung-ujungnya, dia ditampung pendukung Persis Solo, Pasoepati. Dia tinggal bersama Muhammad Badras, salah seorang pengurus Pasoepati, di markas Pasoepati, kawasan Stadion Sriwedari. Di tempat itulah dia berjuang untuk hidup.

Misalnya, dia menjadi foto model untuk promosi produk-produk distro.

’’Hasilnya nggak besar, hanya cukup untuk makan. Sekali sesi (pemotretan) dapat Rp 500 ribu. Tapi, itu tidak setiap hari ada, kadang-kadang saja,’’ ucapnya, ditemui Jawa Pos di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Rabu malam, 2 Juli 2014, sebelum balik ke negara asalnya.

Selain itu, dia sempat membantu berjualan es jus langganannya di dekat markas Pasoepati. Si pemilik warung, tampaknya, menaruh iba pada Sergei yang hidupnya terlunta-lunta. Sergei sendiri tidak keberatan dengan bayaran yang tak seberapa.

Yang penting, dia hari itu bisa makan, sampai perjuangannya menuntut gajinya selama enam bulan dari PSLS berhasil. Total gaji yang belum dibayarkan itu sebesar Rp 124 juta.

Sergei mengaku sudah menempuh berbagai cara baik-baik untuk mendapatkan haknya itu. Sebab, dia tidak ingin mantan klubnya (PSLS) terlihat buruk di mata PSSI.

Dia tidak melapor ke PSSI dan hanya menagih janji ke klubnya. Tapi, karena berbulan-bulan hanya mendapat janji, Sergei akhirnya jengah dan harus meminta bantuan kepada PSSI.

Tapi, PSSI sama saja. Pengurus PSSI mendiamkan laporan pemain kelahiran Vladivostok, Rusia, 29 September 1986, tersebut.

Permasalahan yang dihadapi Sergei dan nasibnya yang sengsara ternyata mengundang banyak simpati.

Selain dari para anggota Pasoepati dan pemilik warung jus dekat Sriwedari, dia sering diundang untuk menjadi bintang tamu reality show serta acara televisi lainnya.

’’Aku beruntung, banyak orang di sini yang peduli kepadaku. Tapi, aku bingung kenapa pengurus sepak bolanya diam saja,’’ ucapnya.

Lantaran sering tampil dalam acara televisi di Jakarta, Sergei sempat mendapat tawaran untuk main sinetron. Dia mendapat peran figuran seorang satpam dan tayang dalam dua episode.

’’Hasilnya lumayan, bisa untuk makan dan beli pulsa untuk menelepon anak-istri di sana,’’ ungkap pemain yang pernah memperkuat Solo FC, Persikab Bandung, dan terakhir PSLS Lhokseumawe itu.

Pertengahan Juni lalu, Sergei sempat dihubungi sang istri yang mulai tidak sabar menunggu suaminya pulang ke Rusia.

Tidak disangka, perempuan yang hampir tiga tahun dinikahinya itu tiba-tiba menelepon sambil terisak. Dia juga mendengar suara anaknya, Mireia Litvinov, 2, menangis di telepon.

’’Aku lagi ada di Jakarta, lagi syuting film. Tiba-tiba, istri telepon sambil menangis dan minta cerai. Aku sempat shock. Tapi, aku telepon lagi dan minta dia sabar sedikit lagi. Aku janji ke dia untuk cepat pulang,’’ bebernya.

Saat perjuangannya mulai didengar banyak orang dan mulai dapat job di dunia entertainment berkat bantuan Julia Perez, Sergei harus meninggalkan Indonesia.

’’Saat ditahan di kantor imigrasi, aku sempat ditelepon televisi untuk jadi komentator bola. Tapi, aku tidak bisa karena sedang di imigrasi. Sayang sekali, itu duitnya bisa buat beli pulsa,’’ terangnya.

Karena itu, pemain yang berposisi bek tersebut mengambil sisi positif atas kejadian yang dialami. Dia memang menyayangkan karena mulai mendapat jalan di dunia entertainment Indonesia berkat bantuan artis Julia Perez.

Ya, sosok pria bertubuh tinggi kekar itu keluar dari pintu tiga Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng Rabu malam, 2 Juli 2014. Dia dipaksa harus kembali ke tanah airnya, Rusia.

Karena Julia Perez membantunya di saat-saat sulit itulah, Sergei begitu sedih saat mendengar kabar pelantun Belah Duren itu meninggal dunia.

Sergei sangat terguncang. Dia mematikan telepon genggam dan menangis hampir empat jam.

”Untuk banyak orang, Julia Perez adalah artis, orang terkenal sedunia. Tapi, untukku, dia Yuli Rachmawati. Cewek simpel, ramah, dan damai with big heart,” kata pemain yang sepulang ke Rusia bergabung di tim futsal pro MFC Zarya Yakutsk tersebut. ((Muhammad Amjad/c10/ari/sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Media Mancanegara pun Ramai Memberitakan Kematian Jupe


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler