Kamala

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Jumat, 20 Agustus 2021 – 13:00 WIB
Kamala Harris. REUTERS/Evelyn Hockstein

jpnn.com - Kamala Harris, wakil presiden Amerika Serikat, dielu-elukan sebagai ikon baru politik di Negeri Paman Sam, karena dia menjadi wanita pertama yang berhasil menduduki posisi politik tertinggi selama 245 tahun masa kemerdekaan AS.

Kamala dilantik mendampingi Joe Biden sebagai presiden pada Januari tahun ini.

BACA JUGA: Kepemimpinan Joe Biden-Kamala Harris Cerminkan Wajah Baru Amerika Serikat

Sebuah kemenangan politik historis dicapai oleh Kamala. Dia bukan sekadar perempuan pertama yang mampu menjadi wapres. Namun, dia sekaligus perempuan pertama dari keturunan etnis minoritas yang mampu mencapai jabatan tertinggi.

Kamala ada blasteran dari ibu berkebangsaan India dan bapak dari Afrika.

BACA JUGA: Terinspirasi Kamala Harris, BEKA Rilis Lagu You Got

Kisah Kamala adalah kisah sukses seperti mimpi. Kedua orang tuanya lahir di luar Amerika, lalu menjadi imigran dan mengajar di sebuah universitas. Dalam tempo satu generasi, pasangan imigran itu bisa melahirkan seorang anak perempuan yang menjadi wakil presiden.

Sayangnya, bulan madu politik berlangsung sangat singkat. Sebuah survei nasional yang dipublikasikan (19/8) menunjukkan bahwa 55 persen pemilih Amerika Serikat menganggap Kamala tidak layak menjadi presiden.

BACA JUGA: Amendemen

Dari jumlah itu 47 persen menilai Kamala sangat tidak layak, dan delapan persen menganggapnya tidak layak. Dari seribu responden yang diwawancarai 14 persen menyebut Kamala layak menjadi presiden, dan 29 persen menganggapnya sangat layak menjadi presiden.

Buruknya persepsi pemilih terhadap Kamala terjadi karena dia dianggap menjadi bagian dari kegagalan Amerika dalam penanganan krisis Afghanistan.

Dalam seminggu terakhir ini perhatian masyarakat Amerika tercurah sepenuhnya ke Afghanistan, setelah pasukan Taliban dengan mudah mengambil alih ibu kota Kabul.

Taliban bisa leluasa masuk Kabul dan menguasai seluruh Afghanistan, karena tentara Amerika Serikat yang selama ini menjaga keamanan Afghanistan menarik diri secara tiba-tiba.

Banyak yang menganggap tindakan Joe Biden ini sebagai sikap yang tidak bertanggung jawab dan menelantarkan Afghanistan.

Pasukan Amerika Serikat seperti melakukan desersi. Dalam terminologi Jawa pasukan Amerika ‘’tinggal glanggang colong playu’’, meninggalkan gelanggang perang dan melarikan diri.

Akibatnya terjadi chaos di Kabul. Puluhan ribu warga yang ketakutan oleh kedatangan pasukan Taliban menyerbu ke Bandara Hamid Karzai untuk menyelamatkan diri dari Afghanistan.

Ini merupakan krisis kepemimpinan politik terburuk Joe Biden dan Kamala Harris sejak dilantik pada Januari lalu. Biden dikecam keras oleh berbagai kalangan di Amerika Serikat karena keputusan ini dianggap sebagai blunder politik.

Biden juga dikritik keras karena tidak menunjukkan sense of crisis terhadap masalah ini. Ketika puncak krisis terjadi (17/8), Biden sedang berlibur di Camp David.

Ia kemudian balik ke Washington lalu memberi keterangan pers sebentar dan langsung terbang lagi ke tempat liburan, seolah-olah masalah sudah selesai.

Biden malah main pingpong politik dengan menyalahkan Donald Trump yang dianggapnya membuat kesalahan kebijakan di Afghanistan. Trump, yang selama ini selalu vokal mengkritik Biden, menyerang balik dengan menyebut Biden melakukan blunder, dan menganggap Biden tidak layak menjadi presiden.

Sikap Biden dalam menghadapi krisis Afghanistan ini memang cenderung aneh. Ia seperti kurang update terhadap perkembangan terbaru. Ia cenderung tertutup terhadap pers, dan memberi briefing pers dengan informasi yang setengah-setengah dan tidak komprehensif.

Selama seminggu terkahir ia tidak memberi keterangan pers, dan baru mau memberikan wawancara hanya kepada satu wartawan saja. Itu pun Biden membuat pernyataan yang membuat publik bingung.

Biden mengatakan bahwa tidak ada korban di jiwa dalam proses evakuasi di Kabul. Padahal, sudah jelas ada 12 orang yang tewas ketika berusaha berebut masuk pesawat untuk evakuasi. Bahkan, dua orang jatuh dari ketinggian karena ‘’nggandol’’ di roda pesawat.

Cara Biden meng-handle krisis Afghanistan yang kurang efektif ini memunculkan tuduhan bahwa Biden tidak layak menjadi presiden, dan dianggap tidak ‘’fit to govern’’.

Lawan politiknya di Partai Republik berinisiatif ‘’memecat’’ Biden dengan menerapkan Amendemen ke-25 Konstitusi Amerika Serikat. Dalam amendemen itu, seorang presiden bisa diberhentikan karena tidak layak memerintah, tidak ‘’fit to govern’’, karena tidak efektif dalam mengambil keputusan.

Dalam situasi Biden yang terdesak, Wakil Presiden Kamala Harris seharusnya mengambil peran yang lebih aktif.

Alih-alih, Kamala malah memperburuk situasi. Ia ikut-ikutan menghilang selama seminggu terakhir terjadinya krisis.

Kamala tidak muncul di depan pers, dan malah tidak terlihat mendampingi Biden dalam jumpa pers di Gedung Putih menjelaskan krisis Afghanistan.

Kamala juga tidak terlihat mendampingi Biden dalam briefing pers Kamis mengenai masalah penanganan Covid-19.

Raibnya Kamala ini menjadi pertanyaan besar bagi publik Amerika. Selama ini Kamala digadang-gadang untuk mengambil peran yang lebih besar dalam politik Amerika Serikat, karena Biden usianya sudah memasuki masa uzur.

Dalam usia 78 tahun Biden dicurigai telah sering terserang demensia, sejenis pikun ringan. Biden sering lupa dalam menjawab pertanyaan wartawan, dan kadang salah menyebut nama orang.

Kamala yang memulai kariernya sebagai pengacara dan senator, diharapkan bisa mengisi kekosongan ini. Bahkan Kamala dijagokan akan bisa menggantikan Biden kalau terjadi situasi darurat di tengah jalan. Namun, harapan itu seperti menguap.

Kamala tidak menunjukkan kinerja yang moncer selama menjadi wapres. Ketika diminta untuk menangani masalah pengungsi di perbatasan Meksiko, Kamala juga tidak menunjukkan terobosan yang signifikan. Alih-alih, Kamala malah menjadi sasaran kritik keras dari media dan oposisi karena dianggap lamban mengambil keputusan.

Krisis Afghanistan ini menjadi pukulan telak bagi reputasi Kamala. Setelah menghilang dari media selama seminggu, ia muncul memberi wawancara kepada sejumlah wartawan yang tergabung dalam asosiasi jurnalis kulit hitam.

Namun, ternyata wawancara itu tidak dilakukan secara live dan sudah direkam terlebih dahulu.

Dalam wawancara itu Kamala tidak menjawab pertanyaan mengenai krisis Afghanistan. Ketika seorang wartawan menanyakan soal itu, Kamala mengacuhkannya. Hal ini semakin membuat publik mempertanyakan kompetensi Kamala. Dan puncaknya terlihat dari hasil survei terbaru yang menyimpulkan Kamala tidak layak menjadi presiden.

Kamala sebenarnya punya potensi menjadi media darling bagi pers Amerika. Latar belakang etnisnya unik, dia cerdas dan pintar, serta penampilannya menarik.

Ia memecahkan rekor Amerika yang selama merdeka pada 1776 belum pernah punya presiden atau wapres perempuan.

Media memanggilnya dengan nama depan ‘’Kamala’’. Hal ini sangat jarang, atau tidak pernah terjadi. Media pasti memanggil presiden atau wapres dengan ‘’surname’’ atau nama keluarga.

Media punya sapaan akrab dengan memakai singkatan nama, seperti JFK untuk John Fitzgerald Kennedy, FDR untuk Franklin Delano Rosevelt, dan lain-lain.

Belum pernah ada presiden dan wapres yang disebut dengan nama depan. Kamala adalah satu-satunya. Hal ini menunjukkan bahwa Kamala punya potensi menjadi media darling yang kutipan-kutipannya sangat ditunggu publik.

Kamala punya potensi brand politik yang besar. Namun, sayang, Kamala tidak menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Krisis Afghanistan--yang meninggalkan ruang kosong karena absennya Biden--seharusnya bisa diisi Kamala dengan memainkan peran yang tepat.

Isu utama mengenai perlindungan perempuan di Afghanistan seharusnya paling cocok untuk ditangani oleh Kamala.

Kualitas seorang pemimpin akan terlihat di saat krisis. Siapa pun dia, di mana pun dia. Tidak di Amerika atau di Indonesia. Krisis akan menjadi ujian kualitas seorang pemimpin. Sayangnya, dalam krisis justru banyak pemimpin lebih sering menghilang, sehingga statusnya menjadi ‘’Not Found’’. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler