Kasus DBD di Yogya Capai 2.959, Lima Orang Meninggal

Jumat, 17 Juli 2020 – 21:02 WIB
Ilustrasi petugas melakukan pengasapan (fogging) untuk mengantisipasi wabah demam berdarah dengue (DBD). Foto: ANTARA/Raisan Al Farisi

jpnn.com, YOGYAKARTA - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta melaporkan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) di DIY mencapai 2.959 orang hingga akhir Juni 2020 dengan lima orang meninggal dunia.

"Se-provinsi total kematiannya sampai akhir Juni ada lima orang," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan DIY Berty Murtiningsih di Kompleks Kepatihan di Yogyakarta, Jumat (17/7).

BACA JUGA: Ini Perintah Megawati Kepada 45 Calon Kepala Daerah dari PDIP

Ia mengatakan kabupaten yang paling tinggi terjadi kasus DBD adalah Kabupaten Bantul sebanyak 944 kasus, diikuti Gunung Kidul sebanyak 895 kasus dengan empat kematian, Sleman 668 kasus dengan satu kematian, Kota Yogyakarta 249 kasus, serta Kulon Progo 203 kasus.

Menurut Berty, kasus itu meningkat jika dibandingkan dengan jumlah kasus DBD pada 2019 yang selama satu tahun mencapai 3.399 kasus.

BACA JUGA: Wow, Denda Pelanggar PSBB Jakarta Capai Miliaran Rupiah

"Ini memang siklus lima tahunan," kata dia.

Meski demikian, kata dia, masa puncak kasus DBD di DIY telah berlalu sejak Mei hingga Juni 2020 dan saat ini mulai mengalami penurunan.

BACA JUGA: Berita Duka: Positif Corona, Sekjen KY Meninggal Dunia

"Ini sudah melewati (masa puncak kasus, red.), saat ini mulai turun dengan musim tidak penghujan lagi," kata dia.

Saat ini, Dinkes DIY bersama dinas terkait di lima kabupaten/kota tengah menggencarkan sosialisasi gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan gerakan 3M Plus yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, plus kegiatan pencegahan lain, seperti memeriksa tempat-tempat lain yang potensial menjadi sarang nyamuk.

"Lain dengan 'fogging' (pengasapan), kalau 'fogging' kita hanya menyasar nyamuk yang sudah dewasa jadi telurnya masih ada dan seminggu jadi nyamuk lagi," kata dia. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fajar W Hermawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler