Kata Gubernur BI Tentang Kondisi Ekonomi Indonesia Saat Ini

Jumat, 20 Maret 2020 – 17:10 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Foto: Hendra Eka/Jawa Pos/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menganggap kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih bagus jika dibanding krisis moneter 1998. Perry menilai apa yang terjadi pada 1998 atau 2008 berbeda dengan pandemi Corona global saat ini.

"Sekarang yang terjadi memang kepanikan seluruh pasar keuangan global, termasuk juga pemilik modal di seluruh dunia. Karena begitu cepatnya merebaknya virus ke Amerika Serikat, ke berbagai negara di Eropa, Inggris, dan demikian cepat dengan ekskalasi yang sangat cepat," kata Perry dalam konferensi pers usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo melalui telekonferensi, Jumat (20/3).

BACA JUGA: Data Terbaru: Pasien Positif Corona di Indonesia Mencapai 369

Dia menyadari investor dan pelaku pasar keuangan global banyak melepas aset-aset mereka. Seperti saham, obligasi, emas hingga menjual dolar. "Nah, dalam konteks itu, memang Indonesia juga terkena," kata dia.

Oleh karena itu, Perry menyatakan pihaknya terus melakukan langkah stabilitasi seperti menyediakan suplai dari dolar dengan intervensi baik secara tunai atau spot atau secara forward melalui domestic non-deliverable forward. "Ini untuk menjaga mekanisme pasar secara berjalan, dan agar tidak terjadi kepanikan di pasar dan berikan confident di pasar," kata dia.

BACA JUGA: Kemendagri: Masyarakat Tidak Perlu Panik Bila Kepala Daerahnya Positif Corona

Selain itu, Perry juga menerangkan cadangan devisi Indonesia sejauh ini tergolong aman. Pada akhir Februari 2020, cadangan devisa Indonesia mencapai USD 130,4 miliar.

"Tentu saja berkoordinasi dengan pemerintah, dengan Menkeu, Menteri BUMN, langkah-langkah lanjutan akan dilakukan bagaimana kemudian berbagai program dan pembiayaan bisa nanti mendatangkan devisa. Koordinasi ini yang terus dilakukan," kata dia.

BACA JUGA: Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Rp 15.215 per dolar AS

Selain itu, lanjut Perry, dalam menjaga stabilitas nilai tukar kami juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas oleh investor asing. Pada tahun ini, BI sudah membeli SBN sebesar Rp 163 triliun yang dilepas asing. Hal ini mengurangi tekanan pada pasar SBN. Dengan OJK, koordinasi dengan menjaga pasar tetap berjalan.

"Fokus kami adalah menjaga confident, memastikan bekerjanya mekanisme pasar, dan menjaga kecukupan likuiditas baik rupiah maupun valas," kata Perry. (tan/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler