Kegigihan Maria R. Nindita Radyati PhD untuk "Meluruskan" Program CSR

Jumat, 14 Agustus 2015 – 14:51 WIB
Maria R. Nindita Radyati. FOTO: dok/jpnn.com

jpnn.com - Program S-2 CSR yang didirikan Maria R. Nindita Radyati telah melahirkan 150 alumnus hingga kini. Dia berkeyakinan, kalau tepat dan holistis, CSR bisa membantu menghilangkan kemiskinan di Indonesia.


NORA SAMPURNA, Jakarta

---

KESEMPATAN menjadi permanent resident di Australia sangat terbuka bagi Maria R. Nindita Radyati saat itu, ketika sebuah pertanyaan menggugahnya: bagaimana institusi akademis bisa berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan?

Nita - sapaan akrabnya - tengah menyelesaikan S-3 di University of Technology, Sydney (UTS), kala itu. Pertanyaan yang diajukan pihak Ford Foundation tersebut langsung membulatkan tekadnya untuk kembali ke Indonesia.

"Di sana (Australia) semua serba tersistem. Lalu, ilmu saya buat apa? Saya putuskan untuk kembali ke Indonesia, berbuat sesuatu sesuai passion saya yang manfaatnya untuk masyarakat luas," papar perempuan kelahiran Malang pada 30 Agustus 1967 itu kepada Jawa Pos yang menemuinya di Jakarta Senin lalu (10/8)

Ibu dua putra, Albert Agung Arditya, 21, dan Benedictus Billy Brilianditya, 17, itu lantas mengadakan riset selama dua tahun di Jakarta, Bogor, dan Bandung. Narasumbernya berasal dari sektor swasta, pemerintah, dan non-governmental organization (NGO) mengenai praktik CSR (corporate social responsibility) di Indonesia.

Riset tersebut terkait dengan kedudukannya sebagai kepala Center for Entrepreneurship Change and Third Sector (CECT) Universitas Trisakti, Jakarta, sejak 2001. Di perguruan tinggi tersebut, alumnus S-1 Ekonomi Universitas Trisakti, magister ekonomi dari Universitas Indonesia, serta peraih gelar doktor di bidang manajemen dari UTS itu mengajar sejak 1990

Nah, riset sepulangnya dari Australia bertujuan mencari gap dari apa sudah dilakukan, apa yang belum, dan apa yang seharusnya dilakukan terkait CSR.

Setelah mendapat grant dari Ford Foundation pada 2007, setahun berselang atau tiga tahun setelah disodori pertanyaan yang menggugah di atas, lahirlah program S-2 MM (magister manajemen)-CSR Universitas Trisakti. Program studi itu merupakan yang pertama di Indonesia, bahkan Asia Pasifik. Sampai kini pun tetap menjadi satu-satunya di semua kampus di tanah air.

Di beberapa kampus lain di Indonesia, CSR sebatas diberikan sebagai mata kuliah. Belum ada perguruan tinggi yang menjadikannya sebagai program studi dan secara holistis mempelajari CSR.

Hingga kini, program S-2 MM-CSR di Universitas Trisakti tersebut tercatat telah melahirkan 150 alumnus. Oktober mendatang, perkuliahan untuk angkatan ke-16 dimulai.

Perkuliahan berlangsung setiap Jumat dan Sabtu. Mayoritas mahasiswa S-2 MM-CSR merupakan level manajerial seperti CEO, komisaris, atau pemilik perusahaan. Sebab, CSR memang berada pada strategic level.

Nita menyebut beberapa nama mahasiswa yang menduduki posisi stratagis di perusahaan masing-masing. Yakni, Amalia Yunita, CEO (chief executive officer) Arus Liar, operator arung jeram yang sudah 20 tahun berkibar di Indonesia. Ada pula Manajer Chevron Corry Triwardani dan Corporate Communication Freeport Sari Esayanti.

Selain mereka, banyak pula dari kalangan pegiat LSM (lembaga swadaya masyarakat), entrepreneur, maupun media yang menjadi mahasiswa S-2 CSR. Setelah menyelesaikan program selama dua tahun, para alumnus diminta sharing dengan mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan. "Mereka sharing sebagai praktisi," kata Nita.

Ramida Siringoringo, mahasiswa MM-CSR Universitas Trisakti angkatan 9, mengaku banyak menyerap ilmu yang bermanfaat dalam perbaikan program CSR di lingkungan kerjanya. "Desain CSR di sana (perusahaan tempat dia dulu bekerja semasa kuliah S-2, Red) sebenarnya sudah cukup baik. Tapi, ketika saya sudah belajar di MM-CSR, saya dapat ilmu lebih, yakni bagaimana melakukan penilaian awal, monitoring, serta evaluasi. Perubahan itu yang saya bawa ke perusahaan," kata perempuan yang pernah berkarir di PBB tersebut.

Selanjutnya, ketika berpindah ke perusahaan pemrosesan kakao sebagai sustainability manager, Ramida kembali mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dengan merapikan sistem, perencanaan, dan monitoring CSR. Buntutnya, perusahannya mendapatkan label UTZ certified (standardisasi kualitas produksi dan pengolahan untuk kopi, kakao, dan teh).

CSR di Indonesia yang nilainya tidak kecil itu memang sering dipahami secara salah. CSR identik dengan bakti sosial atau pemberian donasi. CSR tidak menjadi kebijakan strategis perusahaan, seolah hanya menjadi kebijakan residu, yaitu alokasi sisa laba.

"Banyak perusahaan yang sifatnya kiss and run. Sekali membantu, setelah itu selesai. Tidak menciptakan kemandirian masyarakat, tidak efisien, bahkan tanpa sadar justru menciptakan mentalitas meminta," papar Nita.

Perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai berupaya menerapkan CSR pada periode 2000-an. Persisnya sejak dikeluarkannya pasal 74 Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang mewajibkan setiap perusahaan untuk melakukan kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan. UU tersebut, antara lain, dipicu kejadian lumpur Lapindo di Sidoarjo pada 2006.

Begitu pula dengan Peraturan Menteri Negara BUMN No 4 Tahun 2007 yang menetapkan bahwa laba perusahaan harus disisihkan sebesar 4 persen. Perinciannya, 2 persen persen untuk program kemitraan dan 2 persen lainnya untuk program bina lingkungan.

Berdasar riset bertahun-tahun yang dilakukan, Nita menemukan fenomena bahwa dana yang dialokasikan perusahaan untuk CSR sangat besar, mencapai miliaran rupiah. Bahkan, salah satu BUMN besar menyiapkan dana CSR Rp 400 miliar per tahun.

"Tapi, kebanyakan terbuang sia-sia. Orang miskin di Indonesia tetap saja begitu banyak. Padahal, kalau CSR dilakukan dengan tepat dan holistis (menyeluruh), kemiskinan bisa dihilangkan," urai perempuan berkacamata itu.

Persoalannya, perusahaan di Indonesia yang melakukan CSR secara holistis, sebut Nita, masih bisa dihitung dengan jari. Dia mencontohkan salah satu perusahaan consumer goods besar yang menerapkan CSR dari hulu ke hilir.

Mulai pembinaan para petani pemasok bahan, teknologi daur ulang sumber daya air dalam proses produksi, hingga bekas ke­masan diolah kembali menjadi produk baru yang fungsional dengan melibatkan ibu rumah tangga di beberapa kota.

Sayang, kembali lagi, belum banyak yang seperti itu. Karena itu, Nita terus gigih berupaya mengubah paradigma masyarakat dan perusahaan mengenai CSR. Sebab, dampak akhirnya bakal bisa dirasakan masyarakat luas.

"CSR bukanlah cara mendistribusikan keuntungan, tetapi justru cara untuk menghasilkan keuntungan. CSR merupakan investasi jangka panjang," ungkap dia.

Di program S-2 CSR Universitas Trisakti, kurikulum disusun mengacu pada International Organization for Standardization (ISO) 26000 tentang social responsibility yang sudah disepakati 162 negara. Lalu, dipadukan dengan riset-riset yang dia lakukan serta hasil diskusi dengan para profesor dari berbagai negara. Yang digunakan adalah model kurikulum practical academic.

Nita juga merumuskan banyak tool yang diturunkan dari teori, menggunakan case study, untuk mempermudah mahasiswa memahami materi. Dia juga kerap berdiskusi dengan Tony Simmonds, pakar project management dan manajamen risiko asal Australia yang kini menjadi suaminya.

Meski program yang dirintisnya yang dimaksudkan untuk turut menciptakan perubahan di tanah air telah berjalan jauh, Nita belum puas. Setiap tahun CECT sebagai pengelola MM-CSR mengadakan survei untuk mengevaluasi manfaat dan dampak pendidikan terhadap karir mahasiswa serta perusahaan.

"Perubahan utama yang dirasakan mahasiswa adalah system thinking yang selanjutnya mereka bawa ke perusahaan. Yang tadinya perusahaan belum punya kebijakan CSR akhirnya jadi punya standard operating procedure (SOP) untuk CSR. Yang awalnya sudah ada tapi belum menyeluruh, perlahan membaik," urainya.

Tidak sedikit pula mahasiswa yang meminta CECT memberikan pelatihan kepada jajaran direksi perusahaannya. Bahkan, ada satu perusahaan tambang yang meminta pelatihan untuk seluruh karyawan, mulai staf sampai level manajerial. Ada pula yang diberi pendampingan, dibuatkan desain dan manual CSR, hingga evaluasi keberhasilan praktik CSR.

Selain itu, empat tahun setelah MM-CSR, pada 2012, Nita membuka pula program MM community entrepreneurship (CE). Ke depan dia dan tim terus membuat riset dan pengembangan karena ruang lingkup CSR begitu dinamis dan harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. (*/c10/ttg) 

BACA JUGA: Kisah Sutradara yang Bisa Berjalan di Red Carpet Karena Film Berbiaya Rp 30 Ribu

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Potret Keluarga Jawa setelah 125 Tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler