Kekejaman Rusia di Mariupol Tak Akan Dilupakan Sejarah

Senin, 21 Maret 2022 – 02:15 WIB
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Foto: ANTARA FOTO/Ukrainian Presidential Press Service-via Reuters TV/Handout/hp

jpnn.com, KIEV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada Jumat (18/3) menyebut pengepungan Kota Mariupol di Ukraina oleh Rusia sebagai teror yang tidak akan dilupakan sejarah.

Dalam sebuah siaran larut malam, dia mengatakan pengepungan kota pelabuhan itu akan "mencetak sejarah tanggung jawab atas kejahatan perang".

BACA JUGA: AS Gunakan Strategi NATO di Asia, China Bakal Tiru Aksi Rusia?

"Melakukan hal ini terhadap kota yang damai… adalah teror yang akan dikenang selama berabad-abad mendatang," kata Zelenskyy.

Tetap saja, kata dia, perundingan damai dengan Rusia diperlukan kendati "tak mudah dan nyaman".

BACA JUGA: Rusia Kepung Kota Mariupol, Ukraina Menolak Menurunkan Senjata

Pemerintah Mariupol mengatakan di kanal Telegram bahwa ribuan warga telah dideportasi secara paksa ke wilayah Rusia selama sepekan terakhir.

Reuters belum dapat memverifikasi secara independen klaim tersebut.

BACA JUGA: Panglima Armada Laut Hitam Rusia Tewas saat Pertempuran di Ukraina

Kalangan kantor berita Rusia sebelumnya melaporkan bus-bus telah membawa beberapa ribu orang dari pelabuhan strategis di Laut Azov itu ke Rusia dalam beberapa hari terakhir.

Moskow menyebut orang-orang itu sebagai pengungsi.

Sekitar 400 ribu orang terjebak di Mariupol selama dua pekan lebih. Mereka berlindung dari pengeboman Rusia yang telah menyebabkan kelangkaan listrik, pemanas, dan air, menurut pemkot setempat.

Tim penyelamat masih mencari penyintas di sebuah teater di Mariupol yang rata dengan tanah akibat serangan udara Rusia pada Rabu, kata pejabat setempat.

Rusia membantah menjadikan warga sipil sebagai target serangan mereka.

Kementerian pertahanan Rusia pada Jumat mengatakan pasukannya memperketat penjagaan di sekitar Mariupol dan bahwa pertempuran telah mencapai pusat kota.

Rusia telah mengalami kerugian besar sejak 24 Februari, ketika Presiden Vladimir Putin melancarkan "operasi militer khusus" untuk melakukan "demiliterisasi dan denazifikasi" Ukraina.

Ukraina dan negara-negara Barat menyebut tindakan agresif Putin sebagai "war of choice" (perang yang tak perlu).

Deretan panjang pasukan Rusia yang bergerak ke Kiev, ibu kota Ukraina, telah dicegat di daerah-daerah pinggiran.

Intelijen Inggris meyakini bahwa Rusia telah dikejutkan oleh perlawanan Ukraina dan kini menerapkan "strategi penciutan" kekuatan lawan, menurut atase pertahanan Inggris di Amerika Serikat.

Pada Sabtu, Rusia mengatakan rudal-rudal hipersoniknya telah menghancurkan gudang besar di bawah tanah yang menyimpan rudal dan amunisi pesawat di Ivano-Frankivsk.

Senjata hipersonik mampu melesat dengan lima kali kecepatan suara, dan kantor berita Interfax mengatakan senjata itu pertama kali digunakan oleh Rusia di Ukraina. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler