Kementan Siapkan Protokol Kesehatan Bagi Petani agar Tetap Berproduksi di Tengah Wabah Corona

Jumat, 03 April 2020 – 08:35 WIB
ILUSTRASI Petani panen hasil pertanian di sawah. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, INDRAMAYU - Pandemi covid-19 tidak menjadi halangan bagi petani untuk panen. Di Desa  Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, para petani tetap aktif panen raya seraya menjalankan protocol kesehatan penanganan virus Covid-19.

Aruna Runatin, salah seorang petani di wilayah tersebut, menyebutkan kegiatan yang dijalankan masih aman. Saat keluar rumah pun dirinya menggunakan masker. Sementara kebersihan diri pun selalu dijaga, terutama rajin cuci tangan.

BACA JUGA: Petani Mengikuti Protokol Covid-19 Saat Panen Raya

“Penyemprotan disinfektan di lingkungan masing-masing pun dilakukan dan pemerintah desa membentuk tim tanggap corona tingkat desa,” ungkap Aruna dalam keterangan pers Humas Kementan, Kamis (2/4).

Pemerintah telah mengeluarkan sejumlah instruksi dan anjuran kepada masyarakat dalam upaya memutus rantai penyebaran virus  Covid-19. Melalui Kementerian Pertanian, pemerintah pun menyiapkan protokol bagi para petani sehingga mereka tetap aman berproduksi.

BACA JUGA: COVID-19 Tak Menyurutkan Semangat Petani Melaksanakan Panen Raya

“Banyak kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan dari rumah, hal tersebut mungkin bisa dilakukan oleh kebanyakan orang. Tetapi bagi saya seorang petani tetap harus turun ke sawah. Selain bertanggung jawab kepada kesehatan diri dan keluarga, kami pun harus mengurus tanaman dan memastikannya bisa panen," tutur Aruna.

Selain protokol umum seperti mencuci tangan dan menjaga gizi seimbang, para petani pun dianjurkan untuk menanam dan mengonsumsi produk empon-empon seperti wedang umuh, jahdape, dan kunir asem.

BACA JUGA: Seruan Habib Rizieq terkait Penguburan Jenazah Korban Corona

Tanaman empon-emponan itu secara klinis dapat meningkatkan kemampuan tubuh menangkal virus Covid-19. Para penyuluh turut berperan dalam mengedukasi para petani tentang protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19.

Peran penyuluh, menurut Aruna memang semakin penting di mata para petani. Apalagi, di tengah pandemi  covid-19 ini, bakteri Xanthomonas Oryzae (hama keresek daun) sedang mewabah.

Wabah hama ini membuat daun pada tanaman padi miliknya menjadi kering (keresek). Belum selesai, hama wereng juga ikut mengintai dan menyerang tanaman padi di lahan miliknya tersebut. Beruntungnya para penyuluh secara aktif memberikan informasi tentang serangan hama.

Produktivitas di Desa Nunuk pun terbilang cukup tinggi. Rata-rata panen padi berkisar 7-9 ton per hektare. Sementara harga jual gabahnya Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per kilogram gabah kering panen.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu Takmid mengatakan, Kementan setiap tahun menggelontorkan bantuan untuk Kabupaten Indramayu dalam jumlah cukup besar, yakni mulai bibit, alat mesin pertanian, mesin penggilingan dan bantuan asuransi hingga dana Kredit Usaha Rakyat (KUR). Karena itu, kondisi pertanian di Indramayu dalam bidang produksi padi saat ini masih tertinggi di Jawa Barat.

"Kami tetap optimis dan terus mempertahankan produksi padi ini meningkat di angka 1,5 juta ton gabah kering. Terlebih di bulan Maret dan April ini walau tengah dilanda Virus Corona, produksi padi dan jagung tetap tinggi. Petani panen raya," kata Takmid.

Takmid menyebutkan, luas panen padi Indramayu Maret 2020 sebesar 3.677 hektare dan April 10.573 hektare. Adapun harga gabah kering panen saat ini sangat menguntungkan petani, yakni R. 5.300 per kilogram. Sementara luas panen jagung bulan Maret ini mencapai 265 hektare. Prediksi April seluas 530 hektare.

“Harga jagung pun membuat petani tersenyum, Rp 4.000 per kilogram pipil kering panen," ujarnya.

Optimisme yang sama juga turut digaungkan dari pemerintah pusat. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkapkan saat ini, sektor pertanian menjadi harapan, tulang punggung di tengah upaya Pemerintah dalam menanggulangi Covid-19.

“Tanggung jawab menyediakan pangan bagi 267 juta penduduk Indonesia merupakan spirit bagi keluarga besar Kementerian Pertanian dan semua pelaku pembangunan pertanian,” tegas Syahrul.

Untuk itu, menurut Mentan Syahrul, berbagai skenario atas kemungkinan yang akan terjadi harus dipersiapkan terlebih bulan puasa dan lebaran sudah di depan mata.

"Kita tidak berhenti sampai menyediakan pangan saja. Bersama Kemendag, Bulog, dan yang lain, kita berusaha mengendalikan bahwa pangan itu tersedia di pasar dalam jumlah yang cukup sehingga stabilisasi harga terjaga," pungkasnya.(ikl/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler