Keris di Belakang, Perumpamaan Ngabalin tentang Jokowi

Rabu, 08 Agustus 2018 – 05:50 WIB
Foto kartu identitas Ali Mochtar Ngabalin sebagai tenaga ahli di Kantor Staf Presiden (KSP). Foto: WhatsApp/Ali Mochtar Ngabalin

jpnn.com, JAKARTA - Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menyatakan, tidak ada yang salah dalam pidato Joko Widodo yang meminta para relawannya tidak gentar ketika ada yang mengajak berhantam. Menurut Ngabalin, presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi bukan menyerukan kepada relawannya untuk berkelahi, tetapi justru mengajak melawan kabar bohong.

"Jangan menyebarkan berita bohong, jangan mau berhantam. Belakangnya dia bilang kalau diajak berhantam jangan takut," ujar Ngabalin di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/8).

BACA JUGA: Berbelasungkawa untuk Lombok Utara, Mahathir Hubungi Jokowi

Oleh karena itu Ngabalin menyebut ajakan yang dilontarkan Jokowi merupakan hal positif. Sebab, Jokowi sebagai kepala negara mengajak pendukungnya berperang melawan hoaks.

"Artinya perintah panglima perang sudah sangat jelas," katanya.

BACA JUGA: Ngabalin: PAN Tidak Usah Bergabung jika Masih Plinplan

Bagaimana dengan tudingan yang menyebut Jokowi mengumbar arogansi karena menyuruh relawan pendukungnya berkelahi? Ngabalin justru menepis hal itu.

Jokowi, kata Ngabalin, merupakan pria asal Solo yang dikenal berhati lembut. Politikus Golkar itu pun menegaskan bahwa Jokowi tidak mungkin arogan dan menyerukan kekerasan.

BACA JUGA: Ingin Tahu Siapa Cawapres Jokowi? Ini Kata Hasto

"Ingat orang Solo itu menunjuknya bukan seperti anak Buton, anak Papua, anak Bali, anak Bugis. Bukan menunjuk pakai telunjuk, rapi pakai jempol," katanya.

Oleh karena itu Ngabalin meyakini Jokowi tak akan membenturkan pendukungnya dengan pihak lain. Bahkan, Ngabalin punya perumpamaan untuk Jokowi.

"Kerisnya di belakang. Artinya beliau menghindar adanya benturan,” tegasnya.

Sebelumnya Presiden Jokowi memicu kontroversi ketika memberikan pengarahan kepada relawannya di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu lalu (4/8). Hal yang menjadi kontroversi karena penggalan pidatonya yang meminta relawannya tak mundur jika ada yang mengajak berhantam.

"Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekkan orang lain. Tapi kalau diajak berhantam juga berani.‎ Tapi jangan ngajak lho. Saya bilang tadi, tolong digarisbawahi. Jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut," kata Jokowi.(gwn/JPC)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Besok Deklarasi Pencalonan Jokowi? Hasto Bilang Begini


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler