Kesaksian Irfan Melihat UFO Black Triangle, Wow!

Minggu, 26 Februari 2017 – 14:52 WIB
Ilustrasi Foto: int/YouTube

jpnn.com - jpnn.com - UFOnesia adalah komunitas anak muda pengamat UFO (unidentified flying object) dan alien di Indonesia.

Jika sebagian besar orang masih sibuk berdebat soal kebenaran keberadaan UFO, para pemuda itu memilih untuk percaya. Bukan karena apa, melainkan karena sebagian besar berdasar pengalaman mereka.

BACA JUGA: Berbekal Kemenyan dan Kamera, Mereka Berburu Hantu

Pengalaman Muhammad Irfan, pendiri UFOnesia, misalnya. Sama dengan kebanyakan orang, Irfan pada awalnya juga skeptis akan UFO dan alien.

Hingga pada suatu hari, sekitar pukul 01.00 di minggu terakhir Desember 2005, Irfan mendapat pengalaman yang tak terlupakan.

Pria 29 tahun itu mendapat kesempatan melihat UFO jenis black triangle secara langsung.

Saat itu, papar dia, langit sedang mendung kemerahan. Tak lama kemudian dia melihat secara samar-samar benda padat dengan lampu kerlip-kerlip bergerak turun, mendekati tanah.

”Kenapa saya yakin itu benda padat? Karena saat menembus awan kumulonimbus, awan seperti terbelah dan bolong segi tiga, mengikuti benda yang menabrak,” tutur dia dengan antusias saat ditemui di kantornya, kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Jumat (24/2).

Dia pun yakin bahwa itu bukan sebuah helikopter. Sebab, pergerakan black triangle tersebut sangat stabil.

Juga, tak ada suara bising yang menjadi ciri khas penerbangan helikopter atau pesawat.

”Setelah turun, ia kembali melintas ke atas,” jelasnya.

Dia mengatakan, tak ada orang lain yang menyaksikan fenomena itu bersamanya.

Namun, ada laporan bahwa ada yang melihat fenomena yang sama.

”Fix di situ saya langsung mikir saya lihat UFO. Tapi, ini memang terserah. Percaya atau tidak, itu terserah masing-masing orang,” ungkapnya.

Pengetahuan Irfan soal UFO dan alien itu seolah diuji saat ditemukan crop circle di Berbah, Sleman, dan Dusun Wanujoyo Kidul, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, pada Januari 2011.

Kemunculan crop circle itu sontak membuat geger. Spekulasi soal UFO dan alien pun langsung santer berembus.

Bersama satu rekannya, pria pencinta alam itu berangkat langsung ke lokasi.

”Di sana, teman-teman UFOnesia sudah ada. Kami sempat melakukan penelitian selama seminggu,” ungkapnya.

Pengalaman itu tentu sangat mendebarkan. Sebab, fenomena crop circle tidak biasa ditemukan.

Bila ada pun, biasanya ditemukan di luar negeri dengan ladang gandum yang jadi sarananya. Tapi, kali ini beda.

Crop circle yang ditemukan terbentuk di tengah sawah, pada tanaman padi warga. Tak tanggung-tanggung, ukuran crop circle sangat wah. Di Sleman diameter crop circle mencapai 70 meter, sedangkan di Bantul 30 meter.

Irfan dan rekan-rekannya yakin bahwa crop circle itu bukan buatan manusia.

Ada beberapa data yang mendukung pendapat mereka. Pertama, kondisi rebahan batang padi dalam pola yang terbentuk.

Batang hanya layu dan tidak ditemukan batang yang terpotong maupun tercabut. Selain itu, tak ditemukan jejak manusia.

”Kalau buatan maunusia, pasti ada yang tercabut di situ,” paparnya.

Fakta itu kemudian didukung dengan penelitian batang padi yang ada dalam crop circle tersebut.

Menurut dia, setelah diuji di laboratorium, ternyata ditemukan kadar nitrogen dalam batang padi hingga 400 persen bila dibandingkan dengan batang padi di luar pola.

”Lalu, kami sempat membuat simulasi dengan pola sama, dengan skala lebih kecil. Aslinya, kan itu terbentuk sekitar 7–8 jam. Dengan waktu sama, mulai pukul 21.00–05.00, ternyata tidak cukup. Bahkan baru separo,” jelasnya.

Dari penelitian yang dilakukan hampir seminggu tersebut, Irfan dan rekan-rekannya juga mencoba untuk membaca pesan yang ditinggalkan lewat pola yang terbentuk.

Sayang, hingga saat ini pesan itu belum terpecahkan secara keseluruhan.

”Kami percaya itu gan random. Ada pesan yang ingin disampaikan,” terang dia.

Fenomena di awal 2011 itu tentu diharapkan bukan yang terakhir. Mereka percaya, bila suatu lokasi pernah disambangi UFO, ke depan kesempatan tersebut semakin terbuka.

Di Indonesia, ada satu tempat yang dipercaya sebagai pintu gerbang kedatangan para makhluk luar angkasa tersebut. Yakni Bandung.

Kesimpulan itu tentu tak serta-merta. Melainkan didasarkan pada data dan banyaknya pengalaman anggota yang sering kali berlokasi di Bandung.

Hal itu pula yang melatarbelakangi penunjukan Bandung sebagai lokasi UFO hunting.

Terakhir, kegiatan berburu UFO komunitas tersebut dilakukan pada 2014. Anggota UFOnesia berkumpul di Bandung untuk mengamati gejala langit.

Pria asli Tangerang itu menjelaskan, kegiatan tersebut tak jauh berbeda dengan stargazing.

Dengan bermodal teleskop dan kamera, para pengamat UFO tersebut langsung pasang mata.

Irfan menuturkan, dalam kegiatan itu, ada anggota yang menyaksikan keanehan seperti benda berjalan zig-zag.

Anggota lain pun langsung mengecek jadwal satelit yang mungkin melintas pada pukul 03.00 WIB itu.

”Dan nggak ada jadwal jalan. Selain itu, biasanya satelit jalannya lurus dari barat ke timur atau sebaliknya. Bukan zig-zag,” ungkapnya.

Benda tersebut langsung disimpulkan sebagai UFO. Seperti maknanya, unidentified flying object.

Pendapat-pendapat Irfan soal UFO dan alien sempat dipertentangkan banyak orang. Bahkan, beberapa pihak menyebutnya hendak membuat aliran sesat.

Keluarganya sendiri pun sempat meragukan apa yang dia ungkapkan.

”Ya saya balikin lagi, percaya atau nggak, itu silakan saja. Tapi, saya pernah mengalaminya sendiri,” ujarnya.

Irfan melihat, posisi ufology mirip dengan astronomi pada zaman dulu. Tidak dipercaya, bahkan dihujat dan dibilang gila.

Dia percaya, suatu hari orang-orang akan mulai sadar bahwa ada makhluk selain manusia di bumi.

Apalagi setelah NASA menemukan beberapa planet baru seperti bumi yang dipercaya memiliki kehidupan.

”Kami berharap ufology bisa mengikuti jejak astronomi. Bisa masuk salah satu ilmu pengetahuan nantinya,” ucap dia. (tyo/mia/c11/agm)

 


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Ufo   UFOnesia   Berburu Hantu  

Terpopuler