Ketua PWI: Profesi Tanpa Kompetensi seperti Pepesan Kosong

Sabtu, 05 Desember 2020 – 19:08 WIB
Ketua PWI Atal S Depari saat membuka acara Uji Kompetensi Wartawan Angkatan I JPNN.com dan Genpi.co, di Jakarta. Foto: Djainab Natalia Saroh

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Atal S Depari mengatakan bahwa jurnalis dituntut berkompeten, profesional, dan beretika.

Menurut dia, untuk meningkatkan kualitas dan profesionalitas jurnalis memerlukan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) .

BACA JUGA: Menangi Pemilihan, Bang Atal Pimpin PWI Lima Tahun ke Depan

Atal menyebut UKW juga sebagai acuan sistem evaluasi kinerja wartawan oleh perusahaan, sekaligus menjaga harkat dan martabat jurnalis sebagai profesi penghasil karya intelektual.

“Tolok ukur utama profesi adalah kompetensi. Profesi tanpa kompetensi seperti pepesan kosong," kata Atal di Grha Pena, Jakarta Selatan, Sabtu (5/12).

BACA JUGA: Mappilu PWI Dorong Pemimpin yang Mampu Bangkitkan Ekonomi Pasca-Pandemi

Wartawan senior itu menegaskan, jurnalis tanpa kompetensi berarti menjadi matinya jurnalisme. "Artinya, kompetensi itu penting dan tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

Menurut Atal, UKW hanya bisa terlaksana jika wartawan punya kesadaran meningkatkan pengetahuannya.

BACA JUGA: Sesjen MPR Maruf Cahyono Dukung Uji Kompetensi Wartawan

“Ada beberapa hal yang harus ditingkatkan wartawan, seperti skill, pengetahuannya tentang politik, Kode Etik Jurnalistik dan Undang Undang Pers,” tutur dia.

Selain itu, lanjut Atal, wartawan juga harus memiiiki pengetahuan keilmuan tentang hal yang diliput.

"Sekarang ini saya menemukan tulisan yang memprihatinkan, narasi beritanya bikin jengkel,” tutur Atal lantas tertawa.

Di tempat yang sama, Tenaga Ahli Dewan Pers Marah Sakti Siregar mengungkapkan bahwa hingga kini masih banyak wartawan yang belum mengikuti UKW.

“Sampai sekarang, wartawan yang sudah ikut uji kompetensi itu ada sekitar 18 ribu di Dewan Pers,” ungkapnya.

Menurut Marah Sakti, banyak wartawan yang belum menyadari pentingnya standardisasi kompetensi.

“Profesi ini jangan buat cari duit, karena media itu kan enggak seperti itu,” tutur Marah Sakti.(jlo/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler