Ketum IGI: Tahu Apa Nadiem Soal Pendidikan Negeri Ini?

Rabu, 23 Oktober 2019 – 10:47 WIB
Salah satu calon menteri, Nadiem Makarim membawa map putih setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di komplek Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketum Ikatan Guru Indonesia (IGI) M Ramli Rahim menyoroti penunjukkan Nadiem Anwar Makarim menjadi menteri pendidikan kebudayaan dan pendidikan tinggi (mendikbud dikti). Dia meragukan kemampuan pemuda berusia 35 tahun yang sukses dalam bisnis transportasi online memimpin sebuah kementerian yang dipenuhi orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi.

"Nadiem Anwar Makarim memang Alumni Brown University Amerika Serikat dan juga Alumni Harvard Business School Amerika Serikat, tetapi tahu apa Nadiem soal pendidikan negeri ini?," kritik Ramli dalam pesan elektroniknya, Rabu (23/10).

BACA JUGA: Bagaimana Nasib Gojek tanpa Nadiem Makarim?

Ramli melanjutkan, Nadiem memang sukses mengelola dan menghidupi ribuan bahkan jutaan manusia sebagai driver. Juga membantu memindahkan orang, makanan atau barang dalam jumlah yang sangat banyak dalam setiap harinya, tetapi bisa apa Nadiem menangani dunia pendidikan kita yang payah ini?

Tahun 2045 Indonesia bemimpi menjadi negara maju dengan PDB terbesar keempat dunia. Tahun 2030 adalah puncak bonus demografi Indonesia. Hasil PISA, kompetensi generasi bangsa di bidang matematika, reading dan sains berada pada level 0-2 dan dicap bangsa Indoneaia baru bisa menghadapi abad 21 setelah 1000 tahun mendatang.

BACA JUGA: Ketum IGI Minta PPG Prajabatan Mandiri Dibuka untuk Umum

Kekurangan guru pegawai negeri sipil (PNS) di sekolah negeri mencapai 1.141.176 orang belum termasuk 391.644 guru yang akan pensiun pada tahun 2020 hingga 2024.

Dengan kondisi tersebut, hampir bisa dipastikan pendidikan dasar dan menengah kita akan lumpuh total ketika seluruh guru honorer yang pendapatannya jauh lebih rendah dari driver gojeck itu menyatakan “mogok mengajar”

"Anak-anak SD kita tamat SD lebih dari 80% dinyatakan gagal Matematika dan juga gagal Literasi dan Sains lalu apa yang bisa dilakukan Nadiem?," tanya dia.

Hingga kini, tambah Ramli, SMK masih menduduki peringkat tertinggi jumlah pengangguran di Indonesia, minimnya guru produktif dan minimnya “produksi” guru produktif yang sesuai dengan bidang keahlian di SMK adalah gunung masalah yang cukup untuk menutup mata menteri, lalu Nadiem bisa apa? "Ini belum termasuk masalah pendidikan tinggi yang juga penuh masalah," ucapnya.

Meski demikian, Ramli yakin sepenuhnya Presiden Jokowi pasti punya harapan tersendiri terhadap Nadiem. Boleh jadi setelah melihat percobaan “Profesor” berulang kali, kini Jokowi ingin memilih yang segar dan tak banyak teori.

"Secara pribadi, saya pernah mendapati dua kadis sukses dengan inovasi dan problem solving yang luar biasa meskipun tak punya latar belakang di dunia pendidikan sama sekali yaitu Irman Yasin Limpo, Kadisdik Sulsel dan Abdul Rahman Bando, Kadisdik Kota Makassar," pungkasnya. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler