Kisah di Balik Tret-tet-tet, Tradisi Berani Pergi Bertandang

Jumat, 02 Oktober 2015 – 07:04 WIB
Logo karya Budiono dari Jawa Pos inilah yang dipakai Bonek hingga sekarang. Foto: BUDIONO/JAWA POS

jpnn.com - KITA bentangkan kain rentang yang lebih besaaaaaar lagi. Kita tiupkan terompet yang lebih nyaring. Kita pukul genderang yang lebih keras. Mari kita kembali ke Jakarta: Tret tet teeettt!

Kalimat ini muncul di Jawa Pos edisi 4 Maret 1987. Tak tanggung dicantumkan di halaman depan di pojok kiri bawah menghabiskan dua kolom. Pada edisi itulah untuk kali pertama istilah Tret-tet-tet dipopulerkan.

BACA JUGA: Persebaya Asli Kembali, Tapi untuk Berkompetisi Belum Tentu Bisa

Dahlan Iskan sosok di balik berita itu. Isi beritanya mengajak para pembaca mendukung perjuangan Persebaya melawan PSMS Medan di  babak enam besar Perserikatan 1986/87. Laga diadakan di Stadion Senayan, Jakarta.

Sejatinya, itu bukan yang kali pertama awak redaksi Jawa Pos melakukan Tret-tet-tet. Lima hari sebelumnya perjalanan ke Jakarta dilakukan ketika Persebaya melawan Persija (1/4/1987). Tapi, perjalanan ini tak diumumkan di koran. Lebih bersifat internal dan yang berangkat pun hanya empat bus.

BACA JUGA: Ah...Betapa Romantisnya Jawa Pos dan Persebaya

Meski begitu, kali pertama itulah pengkoordiniran suporter mulai dilakukan. Selain membayar uang Rp 30.000 (jika setarakan saat itu berkisar Rp 200.000), tiap-tiap yang mau berangkat diwajibkan membuat ikat kepala berwarna hijau bertuliskan "Persebaya 87" dan rumbai-rumbai warna kuning tua. Sebanyak 180 terompet untuk meriuhkan stadion disiapkan panitia. Sayang, banyak yang tidak mau nurut. Terompet pun enggan ditiup. Capek, katanya.

Meski cukup sukses banyak yang mengeluh, Tret-tet-tet pertama itu berangkat terlalu malam. Apa sebab? Si supir dan awak redaksi Jawa Pos ternyata ingin lebih dulu menyelesaikan menonton pertandingan tinju Ellyas Pical.

BACA JUGA: Ingin Stadion Full saat Jamu Persib, Mitra Kukar Lakukan Langkah Ini

"Kalau Elly tak kalah, keluhan ini pasti tak akan muncul, huh, toh mereka juga asyik nonton bareng dengan kami," ucap salah seorang awak redaksi Jawa Pos. Pical kala itu memang kalah dari petinju Thailand Khaosai Galaxy.

Saat melakukan Tret-tet-tet kedua melawan PSMS Medan, animo orang begitu membludak. Informasi yang disebar lewat koran ditambah biaya perjalanan yang disubsidi membuat orang berebut ingin ikut.

Tak tertarik bagaimana coba, biaya Tret-tet-tet ini, itu sudah termasuk perjalanan PP, tiket stadion, dan makan empat kali! Selain disubsidi Jawa Pos, bos PT Sinar Galaxy Bambang Wiyanto ikut urunan.

Jawa Pos semakin bingung setelah Persebaya lolos ke grand final dan akan berjumpa PSIS Semarang di Senayan. Ya, namanya juga suporter, lewat surat pembaca mereka meminta biaya Tret-tet-tet dikorting lagi.

Tak dikorting saja sudah rugi, apalagi dikorting. Kerugian pun semakin besar seiring dengan peminat yang semakin banyak. Alamak!

"Karena sudah ditakdirkan begitu. Ide ini lahir secara spontan. Bahkan dalam penentuan biaya per orang pun tidak dihitung cukup atau tidak cukup. Tapi, dengan harga segitu, orang terjangkau atau tidak," tulis Dahlan Iskan.

Semua karyawan Jawa Pos dikerahkan untuk menangani administrasi suporter yang membludak. Bekerja lembur sampai menjelang subuh. Banyak karyawan perempuan yang sampai sakit. Sekretaris redaksi Oemijati muntah-muntah.

Bagian Keuangan Sulikah nyaris pingsan dan banyak lagi yang tergelatak di kantor. Karyawan perempuan stres menghadapi suporter yang banyak mau: ingin satu bis dengan pacarlah, keluarga lah, atau teman-nya.

"Tuhan, kami 3.000 orang berangkat ke Jakarta. Selamatkan, Tuhan". Itulah judul berita keberangkatan suporter yang muncul pada edisi 10 Maret 1987.  Pada edisi itu ada tiga halaman full yang mencantumkan nama-nama yang ikut berangkat ke Jakarta. Iklan ini mirip-mirip pengumuman SMPTN.  

Puluhan bis dan belasan gerbong kereta api dari surabaya menyerbu Jakarta. Persebaya memang kalah dari PSIS Semarang 0-1. Kekalahan itu diterima secara legowo. Tak ada tawuran antar suporter. Tak ada pemain Persebaya yang dimaki atau dikejar-kejar pendukungnya sendiri. Itulah tahun perdana Tret-tet-tet dilakukan.

Musim Perserikatan 1987-1988, Jawa Pos semakin sering melakukan Tret-tet-tet. Ikat kepala dan kaus yang seragam jadi ciri khas suporter Surabaya yang dikoordinir Jawa Pos. Primodialisme dan etnosentrisme yang melekat di arek-arek Jawa Timur membuat pendukung Persebaya tak lagi tersekat kelas sosial. Jawa Pos sempat membuat Tret-tet-tet untuk kaum jetset, diantaranya dengan mencarter dua pesawat tipe McDonnell Douglas C-9.

"Titik puncak semangat kebersamaan mendukung Persebaya, saya pikir terjadi pada akhir 80-an hingga awal 90-an. Jawa Pos punya andil besar," kata Abdullah, atau yang akrab di sapa Cak Doel. Kata dia, momen-momen lawas itu akan sulit terulang. Sangat sulit. Teramat sulit. (wam/ham)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Aroma Coba-coba Skuat Tiga Singa


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler