Kisah Edgar, Sejak TK Hobi Games, Juara Olimpiade Matematika, Tembus Harvard University

Sabtu, 06 April 2019 – 19:18 WIB
Alfian Edgar Tjandra dan Kepsek SMA Kharisma Imam Husnan Nugraha. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com - Games tidak sepenuhnya memberikan efek negatif bagi anak. Lewat games justru bisa membuat anak-anak berprestasi. Contohnya Alfian Edgar Tjandra, siswa kelas XII SMA Kharisma Bangsa, Kota Tangerang Selatan, Banten. Gara-gara games, dia menjadi langganan berbagai olimpiade matematika tingkat dunia.

Mesya Mohamad – Jakarta

BACA JUGA: Maudy Ayunda Semringah Diterima di Harvard University

Siswa kelahiran Jakarta, 3 April 2001 ini mengungkapkan, sejak kecil dia termasuk anak hiperaktif dan senang main games. Melihat hal itu, orang tua Edgar lantas memberikan games think fun yang lebih banyak dengan logika. Hal itu rupanya menstimulasi Edgar hingga akhirnya jatuh cinta pada Matematika.

"Saya kenal games itu dari TK, kira-kira tahun 2005. Kebetulan orang tua saya sangat berperan. Tidak di-introduce untuk mengerjakan soal Matematika yang banyak. Ortu mengajarkan Matematika dengan games dan sangat membantu saya memahaminya," kata Edgar dalam diskusi pendidikan di Sekolah Kharisma Bangsa, Sabtu (6/4).

Edgar yang meraih medali perak di International Mathematical Olympiad (IMO) ke-59 tingkat SMA di Cluj-Napoca, Rumania pada 2018 ini menyebutkan, untuk membuat anak-anak mencintai Matematika, metode pembelajarannya harus diubah. Jangan terlalu banyak materi dan hitungan.

Dia mencontohkan saat dirinya mengikuti tes masuk Harvard University. Soal yang diberikan hanya tiga tapi dikerjakan dalam waktu 4,5 jam.

Alfian Edgar Tjandra. Foto: Mesya/JPNN.com

Sepintas materinya sangat simpel dan mudah setara soal Matematika jenjang SMP. Namun, semua soalnya berbasis higher order thinking skills ( HOTS).

"Jadi hitungannya kurang dan lebih banyak menggunakan logika. Siswa juga dituntut harus bisa memecahkan masalah dan membuat prototipe," ulas jawara Matematika dalam olimpiade di Bulgaria, Inggris, dan beberapa negara lainnya.

Berbeda dengan Indonesia yang lebih banyak materi serta rumus. Padahal sebagian anak-anak paling tidak suka menghafal.

BACA JUGA: Soal HOTS Masih jadi Momok Siswa Peserta UNBK

"Aslinya Matematika itu tidak terlalu banyak rumusnya. Cuma di sini jadi kelihatan susah karena terlalu banyak materi. Makanya saya waktu tes Harvard University, lihat soalnya ya mudah. Dan ada essaynya juga," tutur peraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat SMA pada 2017.

Berkat Matematika itu pula, Edgar bisa diterima di Harvard University. Di sana dia ingin memperdalam ilmu matematika dalam bidang Komputer Sains.

Kepsek SMA Kharisma Imam Husnan Nugraha menjelaskan, keberhasilan Edgar menembus Harvard University membuat pihak sekolah terpacu dan menjadikannya contoh. Selama ini dari sekolah memang sudah menyiapkan anak-anak didiknya untuk bisa diterima universitas-universitas top di luar negeri.

"Jadi kami siapkan anak didik kami lewat tes SAT, untuk bahasa Inggris kami gunakan dua sertifikasi, Cambridge dan tes TOEFL. Ketika mereka lulus punya nilai SAT dan TOEFL," ucapnya.

Dia berharap, dengan prestasi Edgar yang bisa menembus Harvard University, bisa memotivasi teman-temannya. Persiapan tidak bisa dilakukan ketika kelas X. Namun, harus dimulai sejak SMP. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler