Kisah Mengharukan dari Pasutri Penyintas COVID-19

Senin, 04 Mei 2020 – 21:37 WIB
Andi Jayadi dan Nevi Shanty Lestari, pasangan suami istri yang berhasil sembuh dari virus corona. Foto: diambil dari radar karawang

jpnn.com, KARAWANG - Pasangan suami istri Andi Jayadi (41) dan Nevi Shanty Lestari (42) dinyatakan sembuh dari COVID-19. Mereka bersyukur, lantaran momen itu bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadan tahun ini.

Rasa syukur mengiringi kepulangan mereka ke Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat, setelah 24 hari menjalani perwatan di Rumah Sakit Paru Jatisari.

BACA JUGA: Mengapa Pemerintah Khawatir Muncul Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia?

“Sebenarnya saya bisa pulang tanggal 23, tetapi istri belum bisa karena alat tesnya habis, jadi saya menginap lagi semalam menemani istri, kasihan kalau sendirian,” tutur Andi kepada Radar Karawang, Minggu (3/5) kemarin.

Andi menceritakan, pada pertengahan Maret lalu dirinya sempat menyambangi Bekasi, sepulangnya ke Karawang dia mengalami demam dan gangguan pernapasan.

BACA JUGA: Update Corona 4 Mei: Ada Lonjakan Kasus Baru Pasien Covid-19 di Jawa Barat

Dia telah beberapa kali memeriksakan diri ke rumah sakit dan puskesmas, tetapi hanya didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan atas.

Ia pun melakukan rawat jalan dengan statusnya sebagai pasien dalam pengawasan (PDP), demamnya pada akhir Maret telah berlalu dan digantikan dengan berkurangnya fungsi penciuman. “Saat itu saya ingin memastikan apakah saya positif atau tidak,” katanya.

BACA JUGA: Kisah Bahagia Pasien Covid-19 RS Siloam, Melahirkan Bayi melalui Operasi Caesar

Andi akhirnya bisa mengikuti tes rapid masal pada Selasa (31/3) pagi.

Beberapa hari setelah atasannya yakni kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dinyatakan positif corona.

Hasil tes awal Andi dinyatakan negatif, tetapi siang harinya dia dihubungi Dinas Kesehatan untuk melakukan tes ulang.

Saat itu dia sudah berpikir negatif, ia pun mengajak istrinya untuk turut serta melakukan tes, sebab selama ini ia selalu bersama sang istri. Hasilnya, sampel darahnya dinyatakan reaktif, sedangkan sampel darah sang istri dinyatakan positif.

Pada hari itu pula keduanya langsung dibawa ke RS Paru Jatisari.

Andi mengaku hari-hari pertamanya melakukan perawatan karantina di rumah sakit mengalami stres.

Pikiran negatif bahwa pasien positif corona indentik dengan kematian melekat di kepalanya. Bahkan ia sempat mengalami hipertensi karena beban pikiran.

Namun keluarga, kerabat, dan rekan-rekan kerjanya selalu menyemangati dan meyakinkan bahwa banyak pasien positif corona yang bisa sembuh.

Semangat itu juga didapatkan oleh Nevi dari sesama pasien positif corona di rumah sakit terutama yang satu ruangan dengannya. 

Hampir satu bulan berada di tempat yang sama, tentunya membentuk rasa kekeluargaan.

Mereka saling mengobrol mengisi waktu selama karantina, saling menanyakan perkembangan kesehatan dan tentunya saling memotivasi.

“Ada juga yang suami istri, kami saling tanya kabar, perempuan sama laki-laki ruangannya dipisah. Sesekali saya menjenguk suami,” ujar Nevi.

Andi kembali bercerita, selama di rumah sakit mereka dirawat dengan baik. Mereka merasa benar-benar difasilitasi, terlebih biaya perawatan ditanggung pemerintah.

Namun senikmat apa pun makanan yang disediakan dan semewah apa pun pelayanan yang diberikan, tentunya tidak menggantikan rasa rindu dengan keluarga.

“Kami makan enak di sini malah kepikiran keluarga di rumah makan apa,” kenangnya.

Cerita menarik juga disampaikan oleh Ai Julaiha (66), mertua Andi yang saat itu tengah tinggal serumah.

Bahkan enam anggota keluarga lainnya juga tinggal bersama mereka yakni tiga orang cucunya dan tiga orang anaknya, saudara kandung Nevi.

Terdapat tiga orang yang saat itu rentan tertular, dirinya yang sudah lanjut usia, cucunya yang masih balita dan sangat erat interaksi dengan menantunya, Andi, serta anaknya yang sedang sakit alias adik kandung Nevi.

Wanita yang akrab dipanggil Ibu Ansor ini menerima kenyataan anak dan menantunya positif corona.

Maka pada esoknya ia segera melapor ke RT setempat dan segera melakukan tes rapid beserta keluarganya. Hasil tes menunjukan keluarganya yang lain tidak positif corona, begitu juga dirinya.

“Pas pulangnya itu saya sampai menangis, terharu sekali, karena kan saya sudah lansia, apalagi ingat anaknya si neng (Nevi) yang masih kecil,” kisahnya.

Ia mengaku sempat mendapat perlakuan pengucilan sosial dari beberapa tetangganya. Padahal saat itu ia dinyatakan negatif, dan tetap melalukan isolasi mandiri di rumah.

Meski demikian ada juga yang berbaik hati, yayasan pengurus masjid di lingkungannya memberi bantuan sembako untuk keluarganya.

Pengalaman ini tentunya menjadi pelajaran berharga bagi Andi dan keluarga. Ia berpesan untuk selalu menjaga kesehatan, sebab imunitaslah yang paling menentukan tertulari atau tidaknya di tengah pandemik ini.

Baginya kesehatan itu memang terasa mahal, bukan hanya perihal materi, tetapi juga hal lainnya yang mesti dikorbankan saat sakit.

“Yang saya syukuri itu kuasa Allah, padahal mertua saya sudah lansia, anak saya ciumin terus, adik ipar saya juga saat itu sakit, tetapi alhamdulillah mereka tidak tertular,” pungkas Andi. (din/radarkarawang)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Covid-19   Corona   Karawang  

Terpopuler