Kisah Pater Andi Hindarkan ODGJ dari Pasung

Sabtu, 25 September 2021 – 22:55 WIB
Pastor Cyrelus Suparman Andi bersama orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Foto: Dokumentasi pribadi for JPNN.com

jpnn.com - Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini memiliki 57 rumah bebas pasung. Keberadaan hunian khusus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu tak terlepas dari kiprah Pastor Cyrelus Suparman Andi.

Oleh Fransiskus A Pratama

BACA JUGA: Penjelasan Mongol Stres soal Pernyataan ODGJ Kebal Covid-19

KEMUNCULAN rumah bebas pasung itu bermula ketika Pater Andi -begitulah dia biasa disapa oleh warga Flores- jatuh sakit pada 1997. Dalam kondisi sakit, Andi yang kala itu masih muda bermunajat.

“Tuhan, bila saya sembuh izinkan saya menjadi seorang pastor agar saya bisa melayani orang sakit,” ujar Pater Andi mengenang doanya. ?

BACA JUGA: 10 Pastor Meninggal Dunia Terpapar Virus Corona

Doa itu terkabul, sehingga Andi makin terdorong menjadi pelayan umat. Namun, keberadaan orang dengan gangguan jiwa menjadi fokusnya.

Pater Andi menuturkan pada 2016 ada pimpinan Seminari St. Kamilus Maumere, Pater Luigi Galvani, joging mengelilingi kampung. Saat itulah ada pemandangan yang mengusik pastor asal Italia tersebut. 

BACA JUGA: Detik-Detik Menegangkan Wanita ODGJ Melahirkan di Pinggir Jalan, Begini Cerita Selanjutnya

“Dia kaget melihat ODGJ tidak diperlakukan manusiawi,” tuturnya.

Kenyataan itu mendorong Pater Andi dan Seminari St. Kamilus menginisiasi  pembangunan sebuah rumah bebas pasung untuk merawat pasien ODGJ.

Rumah yang dibangun di kediaman pasien ODGJ itu berukuran 3X4 meter, berlantai keramik, serta dilengkapi fasilitas tempat tidur nyaman dan toilet.

Awalnya, rumah bebas pasung untuk ODGJ dilengkapi dinding besi. Namun, pada bagian luarnya ditutupi pelupuh atau belahan bambu agar terkesan seperti rumah biasa.

“Rumah aman, sehingga (pasien ODGJ) tidak keluar,” kata Andi.

Seminari St. Kamilus Maumere juga menyediakan pendampingan bagi pasien yang ditempatkan di rumah bebas pasung. Secara telaten,  Pater Andi turun langsung berinteraksi dengan para pasien ODGJ.

“Menjenguk pasien dari waktu ke waktu, memberikan pengobatan, dan kebutuhan lain,” ucap pria yang kini dipercaya menjadi rektor Seminari St. Kamilus Maumere itu.

Seiring waktu berjalan, peraih gelar doktor dari Universitas Kepausan Lateran, Roma, Italia, itu melihat perubahan signifikan pada para pasien di rumah bebas pasung.

Menurut Pater Andi, para penghuni rumah pasung itu tak lagi menyerang, bisa mengendalikan emosi, dan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain.

Oleh karena itu, Pater Andi menyimpulkan rumah bebas pasung merupakan sebuah solusi untuk menangani ODGJ. Ikhtiar itu mendapan respons positif dari warga.

Pada 2017,  ada keluarga ODGJ mendatangi Pater Andi untuk membantu membangun rumah bebas pasung. “Mulai saat itu mulai bangun rumah (bebas pasung,red) lagi dan lagi,” kata Pater Andi.

Pria yang hidup selibat itu mengakui ikhtiarnya memperbanyak rumah bebas pasung tak lepas dari dorongan masyarakat. Kabar soal keberadaan rumah bebas pasung itu pun sampai ke dinas kesehatan pemerintah, puskesmas, dan masyarakat luas.

Walhasil, banyak orang yang mendatangi biara St. Kamilus Maumere. “Banyak orang yang datang ke biara meminta membantu membangun rumah bebas pasung,” ujar Andi.

Saat ini sudah ada 57 rumah bebas pasung yang tersebar di Maumere, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur, dan Ende.

Pater Andi juga mengungkapan alasan pribadi yang mendorongnya memberikan pelayanan kepada pasien ODGJ hingga saat ini.

Sebenarnya pria yang lahir pada 26 juni 1979 itu sempat bercita-cita menjadi dokter atau guru. Cita-cita itu didasari keinginannya memperbaiki perekonomian keluarganya.

Namun, sakit pada 1997 mendorong Andi meninggalkan cita-citanya. Doa yang terkabul itu membuatnya makin yakin untuk melayani umat.

Suratan pun membawa pria asal Lalang, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, itu menjadi pastor. Dia masuk KPA Seminari Menengah St. Paulus di Mataloko, Flores pada 1998.

Lulus dari Semninari Menengah St. Paulus pada 2000, Andi melanjutkan pendidikannya ke St. Camillus College Seminari di Filipina dan lulus pada 2004. Selanjutnya, dia meraih gelar master bidang teologi pada 2009 dari Loyola School of Theology, Manila, Filipina.

Pada 24 Oktober 2010, Andi ditahbiskan menjadi imam. Pater Andi pun merasa bersyukur menjadi bagian dari Ordo Kamilian yang memiliki spiritualitas karismatik dan bergerak di bidang kesehatan.

“Ordo kami bergerak di bidang kesehatan sesuai dengan para pendirinya,” kata Pater Andi.

Menurutnya, pasien ODGJ juga manusia yang seharusnya dilayani secara manusiawi.

“Mereka juga memiliki harapan hidup. Mereka manusia yang memiliki hak hidup,” ujar Pater Andi.

Namun, kadang ODGJ tak bisa mengendalikan diri, bahkan ada yang menghabisi nyawa orang lain. Warga pun memasung ODGJ yang sering mengamuk.

“Pasien yang lain (dipasung, red) karena mengancam nyawa keluarga mereka sendiri,” kata Andi.

Walakin, ikhtiar Pater Andi merawat ODGJ bukannya tanpa penolakan. Sebab, ada saja pihak keluarga ataupun tetangga ODGJ yang menentang upaya Pater Andi.

Dengan tabah dan sabar, Pater Andi membujuk warga merelakan ODGJ dirawat di rumah bebas pasung. “Kami menjelaskan kepada mereka, meminta mereka, sampai mereka bisa menerima,” ujar Andi.

Upaya merawat ODGJ itu tak hanya pada pengobatan dan pendampingan. Sebab, Seminari St. Kamilus juga memberikan dukungan finansial kepada keluarga ODGJ.

“Kami juga memberikan obat, kebutuhan makan dan minum berkala, bahkan finansial,” kata Andi.

Saat ini sudah banyak bekas pasien ODGJ yang pernah dirawat di rumah bebas pasung menjalani kehidupan normal. “Ada yang peternak ayam, babi, bahkan menenun dan bertani,” kata Pater Andi.

Menurutnya, kesibukan juga membuat para pasien ODGJ terhindar dari stres. “Pelan-pelan kosentrasi mereka berubah dengan kesibukan seperti itu dan tidak stres lagi,” ujar Pater Andi.(cr3/jpnn)


Redaktur : Antoni
Reporter : Fransiskus Adryanto Pratama

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
ODGJ   Pater Andi   pasung   Flores  

Terpopuler