jpnn.com, GIANYAR - Sopir ambulans pengantar jenazah bisa dibilang profesi langka. Tak semua sopir mau melakoninya karena banyak cerita-cerita menakutkan yang beredar gara-gara mengemudikan mobil pembawa mayat.
Namun, I Wayan Diatmika termasuk yang istikamah. Sudah 10 tahun belakangan ini Diatmika menjadi sopir ambulans jenazah di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Gianyar.
BACA JUGA: Nataru, Jumlah Penumpang di Bandara Ngurah Rai Paling Tinggi
Diatmika menuturkan, pada awal-awal melakoni profesinya sempat ragu dan ketakutan. Bahkan, setiap kali ada bunyi telepon, dia langsung berkeringat panas dingin.
Menurut Diatmika, menjadi sopir mobil ambulans jenazah merupakan panggilan tugas. Dia memang tercatat sebagai pegawai di Dinsos Kabupaten Gianyar sejak 12 tahun silam.
BACA JUGA: Selama 2018 Ada 137 Warga Masuk Hindu
Selama ini Diatmika bekerja dengan sistem sif. Dalam 24 jam ada 3 sif. “Tapi harus stand by (bersiap, red) 24 jam,” tuturnya kepada Bali Express.
Saat pertama menyopiri ambulans pembawa jenazah, Diatmika merasa tak terbiasa. Bahkan, suara telepon menjadi teror tersendiri baginya.
BACA JUGA: Penumpang Bandara Ngurah Rai Meningkat Selama Nataru
Tapi, lama-lama Diatmika terbiasa dengan pekerjaan itu. Rasa takut pun berangsur hilang meski sesekali masih sering muncul.
Dia mengaku sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut. Mengantar jenazah sudah dianggap mengantarkan layaknya seorang penumpang ke tempat tujuan.
“Kalau mengantarkan kan ada pihak keluarga yang ikut, sedangkan pulangnya sendiri,” tuturnya.
Apalagi ketika harus mengantar jenazah ke pelosok desa, Diatmika harus pulang sendiri. Kadang jalanan sepi.
“Kendaraan sedikit yang lalu-lalang. Satu-satunya cara mengatasinya ya dengan cara menghidupkan musik, hidupkan sirine atau beristirahat sejenak di pinggir jalan,” paparnya.(bx/ade/yes/JPR)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Nova Eliza Merasa di Bali Lebih Tenang
Redaktur : Tim Redaksi