Kisah Warga Palembang Bertahan Hidup di Qatar Usai Boikot 6 Negara

Rabu, 07 Juni 2017 – 10:17 WIB
Al Wakrah City. Foto: qa.worldmapz.com

jpnn.com, DOHA - Salah satu keluarga asal Palembang, Sumatera Selatan bertahan hidup di Qatar, sebuah emirat di Timur Tengah yang kini diboikot enam negara; Arab Saudi, Bahrain, Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), Yaman dan Libya. Bagaimana kisah mereka?

Andre, Martha - Sumatera Ekspres

BACA JUGA: Qatar Airways Diboikot Negara Timur Tengah, Ini Solusi Menpar untuk Wisman

Qatar merupakan sebuah emirat di Timur Tengah. Terletak di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab. Luasnya hanya 11.571 km2, dengan populasi penduduk 2,5 juta orang yang 1,6 juta di antaranya pekerja asing.
Bagian selatan berbatasan langsung Arab Saudi, sisanya dibatasi Teluk Persia. Qatar yang merupakan negara terkaya di dunia (pendapatan per kapita 129.000 dolar AS), ber ibu kota Doha.

Belakangan, hubungan Qatar dengan negara tetangga makin panas menyusul sikap negara tuan rumah Piala Dunia 2022 itu yang dianggap ekstrem, termasuk dituding memasok kebutuhan terorisme. Itu tadi. Enam negara sudah mengambil sikap, memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Nah, di antara 1,6 juta pekerja asing di Qatar, terdapat lah keluarga asal Palembang. Sumatera Ekspres berhasil berkomunikasi dengan mereka, Selasa (6/6). Mereka tinggal di Kota Al-Wakrah, pesisir Teluk Persia. Sekitar 21 km sebelah tenggara Doha. Yakni keluarga Abror-Novi, dengan tiga orang anaknya, Naura, Falaah dan Queensha.

Sebelumnya, Abror bekerja di PT Pupuk Sriwidjaya. Dua tahun terakhir, dia dan keluarga hijrah ke Qatar. Pindah bekerja di perusahaan pupuk kimia (urea dan ammonia), Qatar Fertilizer Company, SAQ (QAFCO). “Banyak kok orang Palembang atau Sumsel yang tinggal di sini. Kalau arisan saja, ada sekitar 70 kepala keluarga (KK, red),” ujar Abror, sebelumnya tinggal di Kecamatan Sako, Palembang.

Itu baru yang asal Sumsel di Kota Al-Wakrah. Belum warga Negara Indonesia (WNI) lain di kota lainnya di Qatar. Mayoritas memang bekerja, bukan menempuh pendidikan. “Macam-macam kerjanya, ada accounting, bank, diplomat, proyek, tapi yang paling banyak memang di industrial. Seperti pupuk, minyak, gas, dan lainnya,” terangnya.

Terkait warga yang panic buying membeli sembako, Abror mengaku mendengarnya. Tapi sejauh ini, menurutnya masih normal dan aman-aman saja. “Sembako masih aman, di sini harga diawasi Negara. Kalau yang warga asing disuruh keluar dari Qatar, mungkin yang dari enam Negara saja. Kalau WNI, tidak ada masalah,” sebutnya.

Banyak yang menilai situasi di Qatar bakal semakin tak jelas setelah diboikot enam negara. Penerbangan dari dan ke Qatar dengan enam negara tadi kabarnya sudah mulai dihentikan hari ini. Jalur laut dan darat juga ditutup. Sementara sekitar 40 persen bahan pangan di Qatar, diimpor dari Saudi.

Sembako yang masih aman-aman saja, juga ditegaskan istri Abror, Novi. Alumni SMAN 6 Palembang itu, menyebut tidak ikut memborong sembako. Karena di sekitar tempat tinggalnya, ketersediaan bahan pangan di supermarket dan toko masih aman. “Ini barusan belanja telor sama ayam,” ujarnya.

Soal harga masih wajar dan terjangkau. Kurs mata uang kemarin (6/6), 1 Qatar Riyal (QAR), sama dengan Rp3.654. Kata Novi, jadi dia lebih sering belanja dan masak sendiri. “Apalagi bulan puasa ini, pempek sama tekwan tidak pernah absen. Buat pake ikan tenggiri, banyak di sini,” tuturnya.

Mengenai kekhawatiran sembako terputus, kata Novi hanya mereka ketahui lewat internet. Tidak tahu pastinya detailnya. Tapi mereka masih santai saja, melihat perkembangan ke depan. “Mudah-mudahan cepat selesai masalah ini. Apalagi sesama Negara muslim,” harapnya.

Untuk komunikasi sesama warga Palembang, Novi menyebut mereka membuat Komunitas Palembang Qatar (Kompaq). Kehidupan bermasyarakat dan aktivitas, juga masih normal saja. Kedua anaknya, Naura dan Falaah tetap bersekolah di Cambridge School. Naura duduk di kelas 6, sedangkan Falaah kelas 2. Si bungsu, Queensha masih balita.

“Anak-anak gak ada libur sampai 21 Juni. Insyaallah 22 Juni, kami balek ke Palembang. Nak lebaran samo uwong tuo,” ungkap Novi, yang rumah orang tuanya di Kompleks Pusri Sako, Jl Putak 2, Palembang.

Di Al-Wakrah, mereka tinggal di apartemen yang dibiayai oleh perusahan tempat suaminya bekerja. Anak-anaknya betah tinggal di sana, karena bangunan-bangunan di Qatar unik dan bagus-bagus. “So far, masih nyaman tinggal di sini. Apalagi masjidnya di mana-mana, dengan fasilitas outstanding. Anak-anak jadi betah,” kata dia.

Makanan lokal, mau tak mau harus dijajal. Novi menambahkan, makanan khas yang disukai anaknya, ayam bakar yang bumbunya khas, dan makanan dari Antakiya Turki. “Kalau keluar Qatar, kami baru main ke Arab Saudi. Sekalian umrah. Bebas, tapi tetap harus pake visa. Ada rencana ingin main ke Dubai,” tutupnya.

Informasi lain didapatsan Sumatera Ekspres dari wong Palembang yang kini bekerja di KBRI Doha. Aries, staf protokol dan konsuler di sana mengungkapkan, kondisi Wong Kito di Qatar dalam keadaan aman. “Belum lihat ada WNI yang borong sembako. Yang borong itu mereka yang ekspat,” kata Aries.

Saat ini, jumlah WNI di Qatar cukup banyak. Meski dalam kondisi aman di Qatar, pihaknya KBRI di Doha, terus waspada mengikuti segala perkembangan. WNI di Qatar diminta tak perlu mengambil langkah yang berlebihan.

Dubes RI Doha tengah berkoordinasi dengan otoritas setempat dan pemerintah Indonesia untuk memastikan keamanan dan keselamatan warga Indonesia di Qatar. Jumah warga Indonesia di Qatar cukup banyak . “Yang asal Sumsel ada sekitar 30 orang. Semua dalam kondisi baik saat ini,” tukasnya. (air/tha)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler