KLB Tiga Setengah Jam, Prabowo Pimpin Gerindra

Rangkap Jabatan Ketua Umum dan Ketua Dewan Pembina

Minggu, 21 September 2014 – 06:19 WIB

jpnn.com - BOGOR - Tidak ada kejutan dalam Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerakan Indonesia Raya yang mengagendakan pemilihan ketua umum. Seluruh DPD dan DPC Partai Gerindra secara aklamasi menetapkan Ketua Dewan Pembina Prabowo Subianto sebagai ketua umum menggantikan posisi Suhardi yang meninggal akibat sakit kanker paru-paru.

"Sebanyak 33 DPD Gerindra tingkat provinsi dan 503 DPC Gerindra tingkat kabupaten/kota, hadir dalam KLB yang berlangsung di Nusantara Polo Club, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (19/9).
Secara bulat mereka meminta Prabowo menjadi ketua umum. Itu berarti, saat ini Prabowo menjabat dua jabatan puncak sekaligus di DPP Partai Gerindra.

BACA JUGA: Tidak Ada Politisasi Hukum di Kasus Anas

"Dalam KLB, semua sepakat dan meminta kesediaan beliau untuk merangkap jabatan sementara," ujar Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal yang juga Ketua Pelaksana KLB Partai Gerindra.

Muzani mengatakan, jabatan ketua umum yang diemban Prabowo bersifat sementara sampai nanti digelarnya Kongres Partai Gerindra yang digelar tahun depan. Prabowo juga memberi pesan agar Kongres itu bisa digelar secepatnya agar jabatan Ketum bisa diemban secara definitif dan permanen.

BACA JUGA: Dampak Sosial RUU Pilkada Tinggi

"Awalnya para anggota meminta agar Prabowo menjadi Ketua Umum seterusnya. Namun, beliau dengan tegas menolak," kata Muzani.

Muzani mengatakan, sosok Prabowo dinilai mampu menjaga kesolidan partai." KLB Partai Gerindra kemarin berlangsung singkat. Sidang KLB yang dimulai pukul 10.00 WIB sudah berakhir tiga setengah jam kemudian. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menyatakan, aspirasi wakil DPD dan DPC Gerindra untuk memilih Prabowo merupakan suara dari akar rumput.

BACA JUGA: Idrus: Posisi KMP Solid, Termasuk Demokrat

"Para kader dan simpatisan meminta Prabowo untuk turun kembali ke akar rumput membesarkan Gerindra," kata Fadli.

Dalam sambutannya, Prabowo memberikan apresiasi tinggi kepada Suhardi. Sebagai seorang politisi, Prabowo menilai Suhardi tergolong langka.  "Beliau bukan politisi profesional. Beliau berasal dari dunia kampus, seorang akademisi, teknokrat, dan guru besar. Beliau ilmuwan yang mau keluar dari dunia akademisi demi menumpahkan ilmu, tenaga, dan pikirannya untuk masyarakat, bangsa, dan negara," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, Suhardi adalah sosok yang bersahaja. Nasionalismenya kepada tanah air tidak perlu diragukan. Namun, sikap itu tidak pernah dia tunjukkan dengan sikap gembar-gembor.

"Nasionalisme beliau tidak pernah pamer. Cinta tanah air bukan hanya slogan, tapi dengan sikap," ujarnya.

Wujud kesederhanaan Suhardi, kata Prabowo, juga terlihat dari kehidupannya sehari-hari. Prabowo menyinggung sebuah WC jongkok yang berada di rumah Suhardi sebagai wujud kesederhanaan.

"Saat saya datang ke rumah beliau dan masuk kamar mandi beliau, WC-nya masih jongkok. Beliau guru besar, bekas dirjen, hidup layaknya orang biasa," pujinya.

Karena itulah, meninggalnya Suhardi bagi Prabowo merupakan kehilangan besar. Sosok Suhardi sedikit banyak merepresentasikan nilai bangsa Indonesia yang perlu dijunjung tinggi. "Kita merasa kehilangan. Tetapi kita lepas beliau dengan penuh kesadaran, keikhlasan dan kehormatan," katanya. (bay/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gerindra, PDIP dan Demokrat Belum bisa Seperti PKS


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler