Konon Dunia Bakal Makin Ketergantungan kepada Tiongkok Pascapandemi Corona

Selasa, 26 Mei 2020 – 23:59 WIB
Ilustrasi pabrik mobil di Tiongkok. Foto: carscoops

jpnn.com, TOKYO - Meski upaya pemutusan hubungan dengan Tiongkok digalakkan oleh sejumlah politisi baru-baru ini, negara berkembang terbesar di dunia tersebut akan tetap menjadi pusat manufaktur penting bagi sebagian besar perusahaan multinasional di masa mendatang.

"Memindahkan rantai pasokan keluar dari Tiongkok mungkin akan menjadi proses yang lebih rumit dan lebih bertahap dibandingkan yang terlihat," kata James Crabtree, Lektor Kepala di Fakultas Kebijakan Publik Lee Kuan Yew Universitas Nasional Singapura, dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Nikkei Asian Review pada Rabu (20/5) lalu.

BACA JUGA: Taiwan Paham Betul Cara Bikin Tiongkok Murka, Begini Salah Satunya

Saat ini, Tiongkok memiliki satu keuntungan yang jelas, yakni perekonomiannya terbuka untuk bisnis. Sementara itu rival-rival manufaktur Tiongkok seperti Malaysia dan India masih menjalani karantina wilayah (lockdown).

Dia menambahkan bahwa saat dunia berlomba dalam menemukan sumber masker dan alat pelindung diri (APD) yang baru, Tiongkok akan memenangi lebih banyak bisnis, alih-alih kalah.

BACA JUGA: Taiwan Borong Senjata Amerika, Tiongkok Siap Kerahkan Tentara Pembebasan Rakyat

Dalam jangka panjang, negara-negara alternatif seperti Vietnam merupakan negara yang lebih kecil dibandingkan Tiongkok dan tidak dapat menawarkan profesionalisme, cakupan, dan skala opsi manufaktur layaknya di Shenzhen dan pusat manufaktur Tiongkok lainnya, paparnya.

"Perusahaan-perusahaan global kemungkinan tidak akan tergesa-gesa menutup pabriknya di Tiongkok atau membatalkan kontrak pengadaan jika alternatif yang ada kurang andal dan lebih mahal," ungkap James.

BACA JUGA: Pesan Menyejukkan Tiongkok soal Gencatan Senjata Idulfitri

Tang Jin, analis riset senior di Bank Mizuho, menjelaskan dalam sebuah artikel di Nihon Keizai Shimbun bahwa perusahaan-perusahaan Jepang yang melakukan proses produksi di luar negeri bermaksud menemukan biaya yang rendah atau pasar penjualan, seraya menambahkan bahwa hal yang disebut pertama itu dapat terwujud jika perusahaan itu merelokasi industri mereka ke negara-negara di Asia Tenggara.

Sementara, terkait dengan hal yang disebut belakangan, perusahaan-perusahaan Jepang telah menjadi bagian signifikan dari rantai pasokan Tiongkok, dengan ketergantungan mereka terhadap pasar Tiongkok yang besar, dan industri otomotif menjadi salah satu contohnya.

Kebutuhan tahunan sebesar 2,5 juta unit mobil di Tiongkok dan rantai industri otomotif yang besar tidak hanya mencegah perusahaan Jepang meninggalkan teritorialnya, namun juga akan mendorong mereka untuk meningkatkan investasi ke dalam empat kategori modernisasi baru termasuk elektrifikasi dan pencerdasan (intelligentization).

"Usai pandemi COVID-19 berlalu, butuh waktu yang cukup lama bagi pasar otomotif di Eropa dan Amerika Serikat untuk pulih, yang membuat perusahaan otomotif Jepang menggantungkan harapan yang lebih besar pada pasar Tiongkok," imbuh Tang. (xinhua/ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler