Konon, Mahfud MD Dapat Bukti dari Pihak Brigadir J, Lalu Geleng-geleng Kepala

Kamis, 04 Agustus 2022 – 03:19 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Lawyers Hutabarat, Pheo Hutabarat menyampaikan satu bukti berupa pernyataan kepolisian tentang luka tembak yang dialami Nofriansyah Yoshua Hutabarat atau Brigadir J, saat pihaknya bertemu Menko Polhukam Mahfud MD di Jakarta, Rabu (3/8).

Adapun, pernyataan yang dimaksud ialah Brigadir J disebut kepolisian terkena satu tembakan di dada.

BACA JUGA: Bolehkah Berhubungan Badan Saat Sedang Infeksi Saluran Kemih?

Menurut Pheo, Mahfud hanya merespons dengan geleng kepala ketika mendengar bukti peryataan luka di jenazah Brigadir J.

"Pak Menteri geleng-geleng kepala, saya enggak tahu artinya apa, tetapi kalau kami mengatakan ini sudah ada tindakan menutup-nutupi," ujar dia ditemui di kantor Kemenko Polhukam.

BACA JUGA: Irjen Dedi Sebut Ada 2 Tim yang Mengusut Kematian Brigadir J, Siapa Saja?

Selain pernyataan tentang luka, kata Pheo, pihaknya menyerahkan bukti keterangan polisi tentang tes PCR yang dilakukan Irjen Ferdy Sambo saat Brigadir J tewas.

Polisi sebelumnya mengeklaim Brigadir J tewas dalam sebuah insiden baku tembak dengan Bharada E di rumah dinas Kadiv Propam nonaktif Polri Irjen Ferdy Sambo di Jakarta Selatan.

BACA JUGA: Dewi Perssik Sampaikan Sesuatu Hingga Berujung Digugat Cerai, Angga Wijaya: Mungkin Beliau Enggak Tahu Aku Dengar

Brigadir J tewas di tempat dalam baku tembak karena terkena beberapa peluru, sedangkan Bharada E diamankan kepolisian pascaperistiwa.

Klaim kepolisian, kasus baku tembak bermula dari dugaan pelecehan seksual oleh Brigadir J kepada Putri Candrawathi, istri Irjen Ferdy Sambo.

Pheo mengatakan polisi pernah menyebut Irjen Ferdy Sambo menggelar PCR di luar rumah. 

Faktanya, kata dia, alumnus Akpol 1994 itu malah PCR di rumah pribadi dan terlihat dalam rekaman kamera pengintai atau closed circuit television (CCTV).

"CCTV yang dibuka Komnas HAM, PCR praktiknya di rumah, dan yang bersangkutan itu di tengah jalan kembali ke TKP," ujar Pheo.

Dia tentu merasa heran ada narasi dibangun demi mengesankan Irjen Ferdy Sambo melaksanakan PCR di luar rumah seperti berupaya menciptakan alibi.

"Pertanyaannya, kok, bisa-bisanya dikatakan di tanggal 11-12 ada tes PCR? Berarti itu, kan, mau menciptakan alibi bahwa yang menembak hanyalah Bharada E," kata Pheo.

Dia menduga segala informasi yang dibangun dan menjadi bukti untuk diserahkan kepada Mahfud MD, hanya ingin mengesankan Brigadir J sebagai pelaku tindak pidana 

"Nah ini, lah, yang kami lihat, kalau misalnya autopsi dan lain-lain saya rasa kami enggak mau bicara teknis," ujar Pheo. (ast/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : Yessy Artada
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler