KUR Makin Diminati, Manfaatnya Mulai Dirasakan Petani Garut

Selasa, 10 Maret 2020 – 20:09 WIB
Dirjen PSP Kementan Sarwo Edhy bersama petani di Garut, Jawa Barat. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, GARUT - Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) makin diminati para petani di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebab, manfaatnya mulai dirasakan oleh para petani.

Salah satunya Uju Juandi dan anggota Kelompok Tani Sinar Fauzan, Desa Sukaratu, Banyuresmi. Menurut Uju, para petani anggota kelompoknya banyak yang mengambil pinjaman KUR, khususnya untuk modal awal usaha taninya. Dan untuk pengembaliannya pun cukup lancar.

BACA JUGA: Ditjen PSP Kementan Sikapi Problem PTPN IX dengan Kampanye Cegah Alih Fungsi Lahan

"Alhamdulillah program KUR ini sangat membantu petani khususnya dalam menyediakan permodalan di awal usaha tani, yaitu biaya pengolahan tanah dan penanaman," ujar Uju Juandi yang sekaligus menjabat Collector Agent (CA) dari Kelompok Tani Sinar Fauzan.

Uju mengatakan, kelompoknya telah memanfaatkan dana KUR sejak tahun 2017. Dia mengakui, untuk pengembaliannya cukup lancar. Ini berkat dirinya selalu sosialisasi dan koordinasi dengan anggota kelompok yang berjumlah 95 orang. "Saya selalu menekankan kepada anggota bahwa dana yang disalurkan adalah dana yang wajib dikembalikan," ungkapnya.

BACA JUGA: Dirjen PSP Kementan Pastikan Distribusi Air Merata saat Kemarau

Namun, ia menyayangkan, KUR pada tahun 2020 ini agak sulit pencairannya. Kalau dulu satu sampai dua minggu sudah cair, saat ini satu bulan sejak pengajuan baru dilaksanakan akad.

"Memang petani senang dengan adanya penurunan suku bunga menjadi 6 persen, namun kami berharap pencairannya bisa lebih dipermudah, khususnya waktu pencairan bisa dipercepat," harapnya.

BACA JUGA: Akademisi Optimistis Program Kementan Dorong Entrepreneur dan Akselerasi Ekspor

Sementara, Kepala Seksi Prasarana dan Sarana Pertanian, Dinas Pertanian Kabupaten Garut Dudung Sumirat optimistis serapan dana KUR di Kabupaten Garut bisa terealisasi 100 persen dari target. Menurutnya, sepuluh persen petani tanaman pangan di Kabupaten Garut sudah ikut program KUR.

"Potensi lahan tanaman pangan di Kabupaten Garut cukup luas, yaitu padi seluas 42.663 ha, jagung 186.000 ha, dan kedelai 8.000 ha. Diharapkan penyaluran KUR tahun 2020 dapat mencapai target seratus persen," ungkap Dudung.

Optimisme Dudung sangat beralasan karena sejak tahun 2018 penyaluran dan pengembalian dana KUR cukup lancar. Menurutnya, dana KUR tanaman pangan yang sudah tersalur pada tahun 2018 sebesar Rp 19 miliar, tahun 2019 sebesar Rp 20 miliar, dan tahun 2020 baru terealisasi sebesar Rp 1,4 miliar dari target Rp 50 Miliar untuk tanaman pangan.

Sebenarnya untuk seluruh komoditas, dana KUR Kabupaten Garut mencapai lebih dari Rp 1 triliun yang berada di beberapa bank. Yaitu BJB, Mandiri, BRI dan BNI, dan disalurkan untuk komoditas hortikultura, peternakan, perkebunan dan tanaman pangan.

Dudung optimistis, dengan hasrat yang tinggi, petani Garut bisa memanfaatkan dana KUR ini dengan optimal. Sehingga realisasi dapat terserap seratus persen. Permasalahan pengembalian pun dari petani diharapkan dapat diatasi dengan melihat pengalaman tahun 2018 dan 2019.

Salah satu kecamatan yang cukup besar menerima dana KUR adalah Kecamatan Banyuresmi. Endra, Kepala UPTD Kecamatan Banyuresmi mengatakan, di Kecamatannya teralokasi dana KUR sebesar Rp 10 miliar untuk tahun anggaran 2020. Kelompok tani penerima manfaat juga sudah siap, sehingga diharapkan dapat segera tersalurkan.

Turunnya suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) akan menjadi angin segar bagi petani. Pasalnya, KUR untuk petani skemanya berbeda dengan KUR pada umumnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy menerangkan, petani mendapatkan keringanan untuk membayarnya, yakni dapat dibayar dan boleh dicicil pada saat produk pertaniannya sudah menghasilkan (panen).

“Ini tentu memudahkan para petani, misalnya petani mengajukan KUR Rp 50 juta (tanpa agunan) untuk modal usaha taninya yang berupa tanaman padi atau jagung,” ujar Sarwo Edhy.

Sarwo Edhy menambahkan, tahun ini pemerintah menurunkan suku bunga menjadi 6 persen per tahun dan tanpa agunan untuk pinjaman maksimal Rp 50 juta. Ia menggambarkan, tanaman tersebut baru menghasilkan setelah kurang lebih tiga bulan. Jadi ketika sudah 3 bulan, petani dapat melunasinya.

“Tahun sebelumnya bunga KUR 7-8 persen, tetapi sekarang menjadi 6 persen. Ini pasti tidak akan memberatkan petani,” pungkas Sarwo Edhy.(ikl/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler