Laksamana Yudo Pimpin Ziarah Serentak di Lima TMP Jelang HUT ke-76 TNI

Senin, 04 Oktober 2021 – 09:57 WIB
KSAL Laksamana TNI Yudo Margono didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Vero Yudo Margono memimpin ziarah secara serentak prajurit TNI AL di lima Taman Makam Pahlawan (TMP) menjelang Hari Ulang Tahun ke-76 TNI pada Minggu (3/10). Foto: Dispenal

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono didampingi Ketua Umum Jalasenastri Ny. Vero Yudo Margono memimpin ziarah secara serentak prajurit TNI AL di lima Taman Makam Pahlawan (TMP) menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 TNI pada Minggu (3/10).

Kelima tempat TMP yang diziarahi yakni Taman Makam Pejuang Bumi Wana Samudera Kalibakung yang dipimpin langsung KSAL dan dihadiri Wakasal Laksamana Madya TNI Ahmadi Heri Purwono dan para Perwira Tinggi TNI AL.

BACA JUGA: HUT Ke-76 TNI, 112 Alutsista Ditampilkan di Sekitar Istana Merdeka

TMP Samudra Kuningan yang dipimpin Pangkoarmada I Laksamana Muda TNI Arsyad Abdullah, TMP Penggarit Pemalang dipimpin Aspers KSAL Laksamana Muda TNI Irwan Achmadi, dan TMP Prawira Reksa Negara Pekalongan dipimpin Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI Dr. Iwan Isnurwanto serta TMP Kadilangu Batang dipimpin Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) Suhartono.

Keberadaan Lima TMP tersebut bersemayam jasad para pejuang dan pendahulu TNI yang gugur di zaman Perang Revolusi Kemerdekaan dan khususnya para prajurit-prajurit ALRI khususnya Wilayah Corps Armada III - Cirebon dan Eks Wilayah Corps Armada IV – Tegal.

BACA JUGA: Tanggapi Isu TNI Disusupi PKI, KSAL Laksamana Yudo Bicara Tegas

Khusus ziarah di Taman Makam Bumi Wana Samudera Kalibakung yang dipimpin KSAL ini merupakan makam para pejuang TNI AL (ALRI waktu itu) dan ulama. TMP ini merupakan makam pindahan para pejuang TNI AL, Ulama dan Santri serta masyarakat yang berkolaborasi berjuang mempertahankan kemerdekaan RI sekitar tahun 1947 di wilayah Tegal.

Jasad para pejuang ini sebelumnya berada di bukit Tempeh di mana para pejuang ini gugur dieksekusi pihak Belanda.

BACA JUGA: Munas Aspeksindo Bakal Dibuka di Atas Kapal Perang TNI AL

Kisah gugurnya para pejuang ini bermula adanya kolaborasi tentara (ALRI) dengan Ulama dan Santri melaksanakan perlawanan yang sengit terhadap Belanda sehingga Belanda dengan segala cara untuk membungkam perlawanan ini. Salah satu caranya menangkap 2 ulama, 10 santri dan 4 prajurit ALRI setelah diinterogasi, mereka dibawa di bukit Tempeh, dieksekusi mati dimasukkan dalam kuburan yang sebelumnya digali mereka sendiri atas paksaan Belanda.

Makna dan pesan yang diambil dari kegiatan ziarah ini, meskipun para pejuang ini telah mati dan jasadnya telah menyatu dengan bumi pertiwi, mereka gugur sebagai pejuang demi mempertahankan eksistensi bangsa dan negara.

Jasad para pejuang ditempatkan di Bumi Wana Samudera ini agar para generasi penerus bisa meneladani perjuangan dan pengorbanan para pahlawan guna mewujudkan Indonesia yang jaya.

Pesan lain untuk generasi muda penerus bangsa bahwa menghormati para pahlawan ibarat meskipun menimbun para pejuang kuburannya dengan pasir dari emas tidak akan sebanding dengan perjuangan dan pengorbanannya.

Selain itu pelajaran yang dapat dipetik dari mengenang perjuangan para pahlawan ini yakni, ibarat sehelai rumput kering dan sebutir pasir di tanah air ini adalah sebuah kehormatan yang harus dipertahankan demi tetap tegaknnya NKRI. Hal ini tersirat bahwa keutuhan wilayah NKRI harus dipertahankan dari bentuk ancaman dan gangguan dari pihak lain.

Laksamana Yudo menyampaikan sebelumnya makam-makam para pejuang tersebar di mana-mana sehingga atas saran dari para ulama, Pemerintah Daerah dan masyarakat untuk dijadikan satu menjadi Taman Makam Pejuang di antaranya di Kalibakung.

Selain itu, KSAL menyampaikan para pejuang Angkatan Laut dulu berjuang bersama-sama para ulama untuk membela negara dan ada beberapa yang gugur di antaranya para ulama yakni K.H. Muhammad Syafei Bin Mukti dan H. Yahya bin Sejan yang di Kalibakung ini.

“Sebagai generasi penerus supaya kita selalu mengenang jasa-jasa pejuang, dan harus meneruskan perjuangan mereka, dalam bergiat mengisi kemerdekaan dimasa yang akan datang,” ujar KSAL.

Sementara itu, Maulana Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya sebelum memimpin doa bersama menyampaikan di dalam setiap taman pahlawan itu betapa pluralis dan kita mengenal siapa pahlawan kita dari segala sudut agama kumpul di TMP.

Dia menambahkan mengenal para pahlawan-pahlawan bangsa, yakin akan tumbuh generasi-generasi muda yang memiliki jiwa patriotisme, menjaga harga diri bangsa, memiliki jati diri bangsa yang akan menjaga kehormatan bangsa, karena di situlah lebih memperkokoh memperkuat ketahanan nasional.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler