Layanan kesehatan mental untuk kaum muda dan para orang tua di Australia menyatakan bahwa pihak mereka telah mengalami lonjakan klien yang mengakses layanan dukungan LGBTI (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Interseksual) selama periode plebisit (via pos) pernikahan sesama jenis.

Situs ReachOut Australia memberikan dukungan daring bagi kaum muda dan keluarga mereka di berbagai spektrum kebutuhan kesehatan mental.

BACA JUGA: 50 Tahun Mendatang Tak Ada Lagi Guru SD Pria di Australia

CEO Jono Nicholas mengatakan, ada peningkatan 20 persen dari orang-orang yang mengakses layanan dukungan LGBTI. Banyak orang yang menghubungi layanan itu memiliki kecemasan mengenai hasil plebisit pernikahan sesama jenis.

"Kami tentu saja mendengar hal-hal tentang kaum muda yang mengatakan 'apakah saya orang aneh', 'akankah saya diterima?'," sebut Nicholas.

BACA JUGA: ELL: Memahami Orang Yang Berbicara Cepat

"Percakapan terus-menerus ini benar-benar membahas tentang apakah mereka akan diterima, atau apakah ini sebuah negara di mana mereka melihat masa depan bagi diri mereka sendiri?."

"Tentu saja jika Anda berselancar daring dan membuka media sosial, Anda kemudian melihat beberapa percakapan yang lebih spesifik dan cukup mengerikan yang bisa terjadi melalui media sosial dan dengan kaum muda sendiri berada di lingkungan media sosial, sangat sulit bagi mereka untuk tidak terpapar dengan hal itu."

BACA JUGA: Tokoh Perempuan Muslim Indonesia Bicara Soal Hijab

Situs ReachOut.com memiliki sumber daya kesehatan mental yang menarget kaum muda.

Supplied: ReachOut

Kelompok pertama plebisit pernikahan sesama jenis dikirim via pos minggu lalu dan kampanye menolak pernikahan sesama jenis, yang digelar oleh ‘Koalisi untuk Pernikahan’, secara resmi diluncurkan di Sydney pada Sabtu (16/9/2017) malam.

Tulisan "Vote No" sempat bertengger di langit Sydney pada hari Minggu (17/9/2017) pagi dengan reaksi beragam di dunia maya yang menunjukkan adanya komunitas yang terbelah.

"Salah satu hal yang ingin kami ingatkan pada masyarakat adalah kelompok ini adalah kelompok pemuda yang sangat rentan," kata Nicholas.

"Dengan percakapan yang memiliki semangat menghormati dan mengenali fakta bahwa mereka rentan berarti kami perlu memastikan bahwa mereka didukung dengan baik dan mereka tahu ke mana harus pergi jika mereka mengalami masa-masa sulit sementara debat dan plebisit ini terjadi." Tulisan ‘Vote No’ di langit Sydney pada hari Minggu (17/9/2017).

Instagram: Anthony Dann

Nicholas menasihati para orang tua dan remaja di Australia untuk menghubungi layanan tersebut secara daring di ReachOut.com dan melalui nomor telepon Kids Helpline di 1800 55 1800.

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterbitkan: 17:50 WIB 18/09/2017 oleh Nurina Savitri.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Krisis Rohingya: Australia Diminta Lebih Tegas Terhadap Myanmar

Berita Terkait