Lebih Dekat Sama Anna Silvia, Gadis Pasar Kliwon Kontestan Ajang Kecantikan Elite Dunia

Rabu, 19 Mei 2021 – 16:10 WIB
Anna Silvia. Foto: ISTIMEWA - Radar Solo

jpnn.com, SURAKARTA - Gadis dari Menangan, Kelurahan Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah bernama Anna Silvia ini menjadi duta Indonesia dalam Miss Elite World 2021 di Mesir pada 29 Mei mendatang.

Anna mengikuti ajang kecantikan ini karena dorongan rekannya yang merupakan Miss Rumania dan runner up Miss Europe.

BACA JUGA: 7 Manfaat Buah Kurma untuk Kecantikan

Temannya itu mengajak untuk mengikuti seleksi Miss Elite World.

Hasilnya, Anna dinyatakan lolos mewakili Indonesia dalam ajang itu.

BACA JUGA: Perempuan Asal Kalimantan Ikut Kontes Kecantikan di Australia

“Saya sempat minder dengan tinggi fisik hanya 165 sentimeter. Padahal rekan saya jauh dari itu dan sangat profesional. Lawan saya dalam Miss Elite World kali ini, ya Miss Universe dari negara mereka masing-masing. Ini pertama kali saya bertanding di ajang internasional,” kata Anna kepada Radar Solo.

Anna bakal menjalani karantina selama sepuluh hari mulai 19 Mei.

BACA JUGA: Kostum Finalis Miss Universe dari Indonesia Sangat Memukau, Lihat nih!

Selama karantina itu diisi dengan berbagai kegiatan, seperti konferensi pers, kunjungan budaya, dan berbagai sesi perlombaan.

Pada Grand Final dia bakal diwawancarai oleh tim Miss World Elite. Pesaingnya dari 32 negara.

Pada malam penentuan nanti, Anna akan memakai gaun karya Temraza, yang merupakan 1st Award Winner Designer di Paris Fashion Week 2015.

“Kostum nasional saya menggandeng Rory Wardana Poesponingrat. Saya akan memakai kostum bertemakan adat Borneo,” tuturnya.

Anna kemudian bercerita, sebelum mencapai posisi saat ini dia harus melalui proses panjang dan menguras air mata.

Sejak duduk di bangku SMA, dia sudah memiliki cita-cita keliling dunia. Ada tiga kota impian yang menjadi obsesinya untuk dikunjungi. Napoli, Istanbul, dan Dubai.

“Waktu itu tidak banyak yang mendukung. Namun, saya yakin bisa wujudkan mimpi ini. Saya menabung sedikit demi sedikit, akhirnya bisa berangkat ke luar negeri. Waktu itu, negara yang pertama saya datangi Malaysia,” kata alumnus Fakultas Hukum UNS ini.

Saat di kampus, lanjut Anna, dia bergabung dengan organisasi pertukaran pelajar atau AISEC. Melalui organisasi tersebut, mimpinya bertandang ke Italia berhasil diwujudkan. Saat berada di Italia, dia semakin memantapkan hati untuk berkeliling dunia. Setelah lulus, dia lantas mengikuti program work away.

Lewat program itu, lagi-lagi berhasil membawa Anna ke tempat impiannya yang kedua, yaitu Istanbul, Turki, dia magang di berbagai pekerjaan.

“Kunjungan kedua ke negara impian semakin mendorong saya untuk berkeliling dunia. Saya akhirnya mendaftar pramugari Qatar Airways di Singapura pada 2017. Akhirnya diterima dan saya bekerja di Qatar,” katanya.

Dia pun mencari peluang lain saat menerima informasi ada maskapai asal UEA, Emirates Airline. 

Saat itu, open recruitment di Jakarta, dia cukup terkejut dengan jumlah pendaftar mencapai 2.000 peserta dari seluruh dunia.

Hanya empat orang terdiri dari dua laki-laki dan dua perempuan yang berhasil diterima Emirates Airline. Dia termasuk dalam dua perempuan yang berangkat ke Dubai.

Anna tak menyangka bisa diterima di Emirates Airline dalam percobaan pertama. Padahal saat berusia 18 tahun dia pernah mendaftar sebagai pramugari di maskapai besar Indonesia, tetapi ditolak.

Menurutnya, cita-citanya berkeliling dunia harus diwujudkan dengan jalan apa pun. Pramugari, menjadi profesi yang dapat mewujudkan cita-citanya berkeliling dunia.

“Mimpi itu jadi nyata. Dulu seringkali saya disepelekan. Saya berangkat dari Solo dan meraih mimpi itu,” ujar dia.

Sudah tiga tahun dia terbang bersama dua maskapai internasional itu. Sebelum pandemi dalam sebulan dia bisa terbang 80 hingga 100 jam.

Namun, selama pandemi ini hanya 40 jam setiap bulan ke berbagai tujuan, termasuk ke Indonesia.

Dia menambahkan, selama tiga bulan sekali, dia terbang menuju Jakarta. Tugasnya memberikan informasi dalam Bahasa Indonesia kepada penumpang Indonesia.

“Kalau pulang ke Indonesia harus tes PCR, hanya di Indonesia dan Australia yang harus PCR. Kalau tiba di Jakarta hanya istirahat 25 jam, itu pun semacam karantina, tidak boleh keluar kamar,” papar Anna.

Dia berpesan kepada generasi muda untuk selalu optimistis dalam bermimpi.

“Bermimpilah setinggi mungkin dan pastikan ambil seluruh kesempatan tidak peduli betapa ketakutanmu. Mungkin dan tidak mungkin itu tugas Tuhan, tugas manusia menjalankan sebaik mungkin,” imbuh Anna. (achristian/atn/bun/ria/per/rs/jpr)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler