Lewat Digitalisasi, Sandiaga Tingkatkan Kemampuan Santri untuk Berwirausaha

Jumat, 21 Oktober 2022 – 22:53 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno. Foto dok Kemenparekraf

jpnn.com, SUKABUMI - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendatangi Pondok Pesantren Al-Hasaniyah, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Di sana, Sandiaga melihat berbagai produk ekonomi kreatif yang dihasilkan dari para santri. Mulai dari kuliner, kriya hingga budidaya ikan.

BACA JUGA: UKM Sahabat Sandi Borong Puluhan Warung Nasi di Tangerang

Sandiaga mengatakan, momentum Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2022 mendatang tidak hanya sekedar seremonial saja.

Sandiaga berharap ada peningkatan kemampuan bagi para santri untuk menciptakan produk-produk ekonomi kreatif.

BACA JUGA: Kawasan Pura Besakih Bakal Lebih Tertata

"Kami mendorong program Santri Digitalpreneur sebagai peningkatan kemampuan para santri. Kami berharap ini bisa membuka peluang usaha dan lapangan kerja saat kita menghadapi ancaman resesi tahun depan," kata Sandiaga, Kamis (20/10).

Pria berkacamata ini meyakini santri dan santriwati merupakan garda terdepan dalam menghadapi resesi.

BACA JUGA: Program KIP-K Gagasan Jokowi Menjangkau Lebih dari 200 Ribu Mahasiswa  

"Saya mendorong agar Hari Santri Nasional ini tidak hanya berhenti dalam acara seremonial belaka tapi kami akan tindaklanjuti dengan peningkatan kemampuan tata kelola ekonomi digital yang dikelola. Sehingga penciptaan 1,1 lapangan kerja tahun ini dan 4,4 juta lapangan kerja 2024 bisa kami wujudkan dan direalisasikan," tegas Sandiaga.

Dia meyakini ke depan santri bukan lagi sebagai pencari kerja melainkan pencipta lapangan kerja. Hal ini terbukti dari banyaknya produk-produk bernilai jual tinggi dihasilkan lewat tangan para santri di Pondok Pesantren Al-Hasaniyah.

"Tadi yang saya lihat bernilai tambah, seperti ikan hias itu sudah diekspor sampai ke Kanada. Kedua adalah produk kopi itu juga adalah salah satu produk ekonomi kreatif unggulan, modifikasi costum karena ini juga sudah masuk ke dalam KBLI (Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia) desain kreasi produk," papar Sandiaga.

Selain itu, Sandiaga menargetkan tiap tahun ada 20 persen Pondok Pesantren bisa meningkat kemampuannya dalam mengadopsi digitalisasi.

"Kami sedang dalam proses pendataan dan total yang kami kunjungi rata-rata sudah memasuki era digitalisasi," terangnya.

Sementara Rahmat Fauzi selaku Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hasaniyah mengatakan, potensi-potensi yang dimiliki oleh para santri bisa menciptakan produk ekonomi kreatif.

Untuk itu, pihak Pesantren secara terbuka memfasilitasi para santri untuk berkreasi dengan kemampuan yang dimiliki.

"Ini semua tergantung kepada potensinya santri jadi bukan karena pengasuhnya. Jadi pengasuh tidak menditeksi potensi tapi memberikan keleluasaan santri atas dasar potensi yang dimiliki," ungkap Rahmat Fauz.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler