Lewat StoryChopsticks, Anak-anak Bisa Belajar Bahasa Mandarin dengan Cara Seru

Minggu, 27 Juni 2021 – 21:41 WIB
StoryChopsticks menawarkan metode pembelajaran Bahasa Mandarin yang menarik. Foto dok StoryChopsticks

jpnn.com, JAKARTA - StoryChopsticks menawarkan metode pembelajaran Bahasa Mandarin yang menarik melalui story telling, flash card, dan praktik membuat cerita setiap minggunya.

Terlebih bahasa Mandarin merupakan bahasa populer kedua di dunia setelah Bahasa Inggris. Berdasarkan data Statista.com, jumlah penutur Bahasa Mandarin mencapai 1,120 miliar di seluruh dunia.

BACA JUGA: Nindy Ayunda Bicara Soal Kesetiaan dan Perselingkuhan

Meski begitu, banyak yang beranggapan belajar Bahasa Mandarin sangat sulit, apalagi karena bahasa ini memiliki aksaranya sendiri.

“Kami menawarkan metode menarik untuk belajar Bahasa Mandarin. Berawal dari storytelling, menggunakan flashcard, dan mengajak anak-anak membuat ceritanya sendiri,” ujar Yuanxin Sun, pendiri dan CEO StoryChopsticks, dalam acara peluncuran buku Zongzi #1 - Childhood Rhapsody secara virtual, Minggu (27/6).

BACA JUGA: MS Glow Aesthetic Clinic dan J99 Foundation Gelar Kegiatan Hapus Tato Gratis

StoryChopsticks merupakan lembaga belajar Bahasa Mandarin untuk anak-anak 3-12 tahun.

Berbasis di Singapura, StoryChopsticks juga telah bermitra dengan Rise N Shine Preschool di Medan.

BACA JUGA: HerStory Indonesia Beri Penghargaan untuk Para Penyedia Produk Bayi dan Anak

Pengajaran dilakukan secara daring, sehingga bisa diikuti seluruh anak di dunia, dengan pengantar Bahasa Mandarin, Indonesia, dan Inggris di kelas awal.

Melalui program Kids Publish dari StoryChopsticks, anak-anak bisa membuat buku cerita mereka sendiri, diterbitkan, dan dijual ke khalayak melalui situs resmi storychopsticks.com.

Anak-anak bahkan memiliki kontrak sebagai penulis.

Contohnya yakni StoryChopsticks baru saja meluncurkan Buku  Zongzi (??) #1 - Childhood Rhapsody secara virtual pada Minggu, (27/6).

Karya tiga siswa StoryChopsticks di Singapura dan Amerika Serikat ini merupakan buku cerita berbahasa Mandarin pertama di dunia, yang seluruhnya ditulis dan digambar oleh anak-anak, dengan didampingi para fasilitator guru bahasa Mandarin native asal Taiwan.

“Pada dasarnya anak-anak sangat suka dengan cerita. Sehingga pendekatan storytelling, sangat menarik bagi anak-anak. Jika mereka tertarik, maka mereka akan antusias untuk belajar,” kata Yuanxin Sun.

Pendekatan belajar ala StoryChopsticks juga mendorong sisi kreatif anak-anak. Saat belajar kata-kata dalam Bahasa Mandarin, anak-anak dapat menciptakan karakter mereka sendiri.

“Sebagai orang dewasa, saya selalu terkagum-kagum dengan imajinasi anak-anak menciptakan karakter dan cerita mereka sendiri,” imbuh Yuanxin.

Pendekatan storytelling diakui para orang tua para siswa Storychopsticks berhasil membuat anak-anak antusias.

Apalagi dalam prosesnya, anak-anak diajak untuk membuat cerita versi mereka sendiri.

Bahkan, bisa diterbitkan dalam bentuk buku yang dijual untuk  khalayak luas. Anak-anak bahkan memiliki kontrak sebagai penulis.

“Sebelumnya, anak saya tidak pernah menggunakan bahasa Mandarin secara proaktif. Sejak mulai membuat cerita sendiri dalam bahasa Mandarin, dia sekarang selalu ingin tahu  objek dan emosi kehidupan sehari-hari dalam bahasa Mandarin,” kata Jenny Ho, ibu dari penulis muda Theo (7 tahun) yang menetap di Seattle, Amerika Serikat.(chi/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler