Lia Miseri, Tukang Masak Langganan Para Dubes RI

Hanya Tamatan Tsanawiyah, Dianggap 'Pahlawan' bagi Mahasiswa Indonesia di India

Senin, 06 Agustus 2012 – 00:46 WIB
Lia Miseri, tukang masak yang menjadi langganan bagi para Duta Besar Republik Indonesia di luar negeri, saat ditemui di dapur Wisma KBRI di New Delhi, India, Rabu (1/8) pekan lalu. Foto : Ayatollah Antoni/JPNN

Bagi pekerja maupun mahasiswa asal Indonesia di India, bukan hal mudah menjumpai masakan dengan cita rasa tanah air. Nama Lia Miseri pun menjadi pengobat rindu tatkala lidah ingin menikmati makanan khas Indonesia.

Ayatollah Antoni, New Delhi

BERAGAM makanan tersaji di Ruang Imam Bonjol di Wisma Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di New Delhi, Rabu (1/8) malam pekan lalu. Di antara masakan khas Indonesia yang tersaji seperti rawon, opor, pecel dan ketupat, terhidang pula peyek kacang.

Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Sidharto Danusubroto yang hadir dalam jamuan makan malam itu terheran-heran karena ada peyek di India. Tentu saja tidak ada warung ataupun supermarket penjual peyek di India. "Ini pasti dari Indonesia," ucap Sidharto.

Namun Dubes RI di India, Andi M Ghalib langsung menyanggahnya. "Bikin di sini, saya bawa tukang masak sendiri dari Jakarta," ucap Ghalib.

Sidharto pun kembali menimpali jawaban Ghalib. "Pasti yang masak orang Jawa karena bikin peyek segala," ucap mantan ajudan Presiden Soekarno yang kini menjadi anggota DPR dari Fraksi PDIP itu.

Ghalib mengangguk. "Ya, orang Pacitan. Istri saya yang bawa," sebut mantan Jaksa Agung itu.

Ya, acara jamuan namakan malam di KBRI New Delhi memang menjadi ajang "balas dendam" sekaligus pengobat rindu akan masakan Indonesia. Delegasi DPR yang sudah tiga hari melawat di India pun benar-benar terpuaskan.

Jamuan makan malam dengan masakan khas tanah air yang satu rangkaian dengan acara buka puasa itu juga menjadi "obat" bagi puluhan staf KBRI dan mahasiwa Indonesia yang tengah menimba ilmu di India. "Bu Lia itu hero (pahlawan) kalau kami kangen masakan Indonesia," ucap Anwar, seorang mahasiswa Indonesia di India yang tinggal di Wisma KBRI.

Lantas siapa sosok Lia di balik masakan "langka" di India itu? Nama lengkapnya Lia Miseri. Perempuan kelahiran Pacitan, 25 Oktober 1975 itu memang sudah sejak 2008 menjadi tukang masak di KBRI di New Delhi. "Sejak Bapak (Andi Ghalib) tugas di sini, tahun 2008," ucap Lia saat ditemui JPNN di dapur Wisma KBRI.

Namun menjadi tukang masak bagi Dubes bukan kali ini saja dilakoni Lia. Sejak pertengahan 1990-an, Lia sudah menjadi koki langganan bagi para diplomat. Mulanya, sekitar awal 1990-an Lia yang hanya berbekal ijazah tsanawiyah merantau ke Jakarta. Di ibu kota, Lia mengikuti beberapa kursus keterampilan termasuk memasak.

Hingga akhirnya keterampilan dan keahliannya memasak sampai ke telinga mantan Dubes RI di Kenya, Djismun Kasri. Dari mulut ke mulut, tersiarlah kelezatan dan istimewanya masakan Lia di kalangan diplomat.

Pada pertengahan 1990-an, Austria adalah negara asing pertama yang dirambah Lia ketika menjadi juru masak bagi seorang Jon Louhanapessy, Dubes RI untuk Austria. Setelah beberapa tahun tinggal di Wina, pada 1999 Lia pulang ke Indonesia.

Tak berselang lama, namanya yang sudah terlanjur tersiar di kalangan diplomat sampai juga ke telinga Amiruddin Noor yang menjadi Dubes RI untuk Norwegia. Usai menjadi koki bagi Amiruddin Noor dan keluarganya, Lia ikut dengan Faisal Bafadal yang menjadi Dubes RI di Uni Emirat Arab.

"Dari Pak Amiruddin Noor, saya terus ke Dubai ikut Pak Faisal Bafadal (Dubes RI untuk Uni Emi) sampai 2008," sambungnya.

Balik lagi ke Indonesia, nama Lia sepertinya sudah sulit lepas dari lingkaran diplomat. Istri Andi M Ghalib, Murniati Ghalib pun mendengar nama Lia. Hingga akhirnya diajaklah Lia sebagai tukang masak di KBRI India.

"Saya juga nggak tahu kok bisa diajak ke sini. Katanya cuma dari mulut ke mulut saja," tuturnya sembari memegang perkakas masak.

Di India, Lia tinggal di lantai II Wisma KBRI. Soal gaji, jangan ditanya lagi karena Lia bisa mengantongi ribuan dolar AS setiap bulannya. "Malu nyebutinnya, Mas," kata Lia sembari terkekeh dan menyebut angka.

Soal bahan baku masakan, memang ada yang mudah dibeli di India. Tapi makanan lain seperti ketupat ataupun telor asin, mau tidak mau harus didatangkan dari Jakarta. "Itu bikin ketupat kelontongannya dipaketin dari Jakarta. Di sini nggak ada orang yang bisa bikin kelontongan ketupat. Biasanya kalau dipaketin empat atau lima hari baru sampai," ucapnya.

Namun dalam meracik bumbu dan memasak, Lia pantang dibantu. "Pokoknya saya spesial cooking saja," ucapnya.

Beruntung, Andi M Ghalib dan istri tak pernah pilih-pilih soal makanan. "Bapak (Andi M Ghalib) dan Ibu (Murniati Ghalib) orangnya gampangan kalau soal makanan," sebut Lia.

Meski demikian anak kedua dari tiga bersaudara itu selalu total dan serius dalam melakoni profesinya. Saat acara-acara jamuan makan malam KBRI dengan tamu dari Indonesia pula Lia harus benar-benar total dalam memasak. Misalnya ketika kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke India pada Januari 2011 lalu, Lia pula yang menyediakan semua masakan untuk jamuan makan malam.

Ia pun bangga bisa menyajikan hidangan bagi SBY. "Saya masak cara desa saja. Pas Pak SBY ke sini saya juga masakin ketela," ucap perempuan yang masih betah melajang itu.

Kebetulan, desa asal Lia di Pacitan memang tak jauh dari desa asal SBY.  "Saya dari Mentoro, hanya selisih satu desa dengan Desa Ngemplak tempat Pak SBY," ucapnya membanggakan desa asalnya.

Yang pasti, hidup di negeri orang juga membuat Lia sering kangen dengan desanya. Terlebih sejak ikut Andi M Ghalib, Lia belum pernah lagi pulang ke Pacitan. "Saya sempatin sering-sering nelepon orang tua," ucap putri dari pasangan  Miseri dan Rodhiah itu.

Sementara istri Dubes RI untuk India, Murniati Ghalib, memilih merahasiakan kisah perkenalannya dengan Lia. "Rahasia Mas, biar penasaran. Yang penting semua terpuaskan," kata Murniati.(ara/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Terhantam Krisis, Pengusaha Yunani Boyong Keluarga ke Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler