Mahasiswi Prostitusi Online, Sepekan Rp 10 Juta, Ah Gampang

Rabu, 09 Januari 2019 – 07:02 WIB
PSK. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - Praktik prostitusi online juga merambah wilayah Kudus dan Pati, Jateng. Radar Kudus (Jawa Pos Group) menginvestigasi praktik esek-esek di kabupaten eks Karesidenan Pati itu.

--

BACA JUGA: Manajer Vanessa Angel Transfer Uang ke Penipu

Perempuan itu mengenakan busana relatif sopan. Tubuhnya ditutup blouse warna merah. Bermotif bunga. Panjangnya selutut. Blouse itu dirangkap outer warna krem.

Ujung kakinya kuning langsat. Ditutup dengan sepatu pink. Tidak dengan hak tinggi. Rambut sepunggung dibiarkan terurai. Tak semiran. Hitam. Lurus. Dan licin.

BACA JUGA: Kasus Vanessa Angel: si Muncikari Disiplin Jaga Aturan Main

Aksesori yang dikenakannya tak menyolok. Hanya mengenakan anting emas cublek. Jam tangan. Warnanya merah hati. Berbrand Tissot. Jam itu membuatnya elegan.

Penampilan memang jauh dari kesan nakal. Malah terkesan polos dan terpelajar. ”Kalau nanti ada yang gak nyaman bilang aja ya. Jangan sungkan,” ucapnya di salah satu hotel di Kota Pati.

BACA JUGA: ES Minta Vanessa Angel Temui Pak Bos untuk Nego Bayaran

Di depan pintu hotel kamar terpacak sebuah almari. Sejumlah setelan baju di gantung. Setelan busana muslim, setelan bikini, dan baju kantoran. Cukup mencengangkan. Di balik salah satu gantungan terdapat wig hitam.

Usai mandi, perempuan yang mengaku masih mahasiswi asal Semarang itu sudah siap dengan bawahan thongs warna hitam berenda. Branya persis menyerupai kacamata. Tanpa tali. 34B. Juga berwarna hitam.

Ia duduk berselonjor di atas bed empuk. Santai. Cahaya remang kamar makin menyamarkan bulu halus yang tumbuh di kulit tangan dan kakinya yang langsat. Sinar televisi sedari tadi mengoceh sesekali menerpa tubuhnya.

Tubuhnya memang tak tinggi. 155 sentimeter. Tapi sangat terawat. Bersih dan wangi. Perut, lengan, pinggang hingga pahanya pun terawat. Sama seperti spek yang ditawarkan di bio Twitter-nya.

Kukunya berkutek biru muda. Butiran glitter yang menonjol itu cukup menyita perhatian saat jarinya mengoperasikan gadget hitamnya.

Untuk mem-booking perempuan bernama Fitria ini gampang-gampang susah. Terhitung sudah dua kali dia membatalkan janji kencan. Alasannya macam-macam.

Pertama mengundur jadwal dengan alsan slot sudah penuh. Meski beberapa menit sebelumnya chatingan membicarakan kesepakatan-kesepakatan transaksi. ”Maaf ekspo diundur. Ternyata besok slotnya full,” kata perempuan asal Kota Atlas ini tiba-tiba.

Janji kencan pun kembali dibangun. Namun lagi-lagi, ia mengurungkan setelah terjadi kesepakatan durasi dan lokasi. Kali ini ia beralasan sedang menstrusi. Rencana kencan itu kembali batal.

Dengan enteng dia menawarkan untuk me-reshedule pekan depan. Padahal kesepakatan transaksi terjadi, dan tinggal eksekusi. ”Tadi kepo banget kenapa sih, takut nggak jadi ya?” tebak dia.

Tapi Fitria cukup fair. Dia mau di-booking tanpa DP. Mungkin faktor itu yang membuatnya cukup diminati lelaki hidung belang.

Ia pernah memberlakukan sistem DP. Namun kini ia tak lagi sistem DP. Diminta memberikan nomor rekening pun Fitria tak mau. ”Pernah pakai sistem DP. Malah sepi,” ujarnya.

Bahkan kini ia juga memiliki “papi” sendiri. Itu mengapa Fitria tak mau lagi menge-share nomor WhatsApp-nya ke para pelanggan maupun tamu barunya. Komunikasi dengan tamu cukup dengan direct message (DM) via twitter.

Papinya pasti akan mengecek japri-japri WA tiap kali ketemu. Juga histori panggilan. Bila ada pesan mencurigakan, Ria akan kena marah. Cemburu. Fitria bersedia menjadi cewek simpanan karena disuntik jatah bulanan dengan nominal tak sedikit.

”Kamu bayangin ya beb, gajinya (si papi) saja Rp 50 juta per bulan,” jawab cewek cantik.

Maka dari itu, Fitria enjoy menjalani asmara terlarang meski papinya sudah punya anak dan istri. Sebaliknya si papi juga mendapatkan benefit sensasi dari perempuan bukan istrinya tersebut.

Cewek itu sudah hampir dua tahun menjalali profesi terlarang ini. Selain Kota Lumpia sebagai pangsa pasar utama, ia juga menyasar area Kudus dan Pati. Itu nyata dari berbagai hashtag yang diketikkan di wall-nya.

Dia terjun ke dunia prostitusi online sudah hampir dua tahun ini. Awalnya dari ajakan kakak kelasnya sewaktu kuliah. Kini kakak tingkatnya itu menjadi mami di sebuah lokasi bisnis cinta di Kota Atlas. Sedangkan Ria sudah mandiri dengan penawaran via Twitter. Motifnya klasik. Karena ekonomi.

Job yang dijalani ini memang cukup menggiurkan. Meski demikian ia hanya menumpuk penghasilannya sebagai tabungan. Ia tak ingin keluarganya curiga. Makanya, meski memiliki banyak uang ia tak ingin membeli mobil atau beli rumah.

Padahal, ia mengaku kerap meraup keuntungan lebih dari Rp 10 juta kurang dari satu pekan. Tarif kencan durasi ST Rp 1 juta. LT selama enam jam Rp 4 juta. Sedangkan private 24 jam Rp 7 juta.

Dengan tarif segitu, ia menawarkan berbagai service. Mulai dari BJ, HJ, FK, FJ, DS, mandi kucing dan lainnya termasuk yang wajar. Ia menolak ajakan BDSM. Ia juga tak melayani rimming, CIM, dan CIF.

Apalagi hari itu ia membuka expo di Kota Bumi Mina Tani itu. Mulai sore hingga sepanjang malam slot-nya sudah penuh. Bahkan, ia masih harus menerima tamu untuk melayani pagi hari. Slot akhir.

Kebanyakan slot meminta layanan ST. Pukul 11.00 ia harus check out dari penginapan di kota tersebut. Bisa dibayangkan bila ia melayani ST mulai pukul 15.00 hingga 22.00. Belum lagi lanjut keesokan harinya sudah ditunggu pria penikmat angel lainnya.

Berapa penghasilannya satu kali ekspo Pati? Secara matematis. Ia bisa membawa pulang duit Rp 4 hingga Rp 7 juta sekali membuka ekspo. ”Sekarang aja yuk,” kata Fitria mengawali ajakan bercinta.

” Tangannya pun menyodorkan “permen” (caps). Bungkus warna merah tua. Dengan merk cukup terkenal. (*/zen)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Artis jadi Prostitusi itu Banyak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler