Manfaatkan Bantuan Pemerintah, Eksportir Pakaian Jadi Indonesia Berangsur Bangkit

Kamis, 16 September 2021 – 11:43 WIB
CV Pria Tampan, merasa terbantu dengan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM dari LPEI. Foto dok LPEI

jpnn.com, JAKARTA - Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) menjadi salah satu sektor yang mengalami pukulan terdalam, baik untuk pasar domestik maupun di pasar global.

Berdasarkan kajian yang disusun oleh IEB Institute, sektor TPT berperan penting terhadap perekonomian Indonesia melalui kontribusinya kepada PDB, ekspor dan penyerapan tenaga kerja.

BACA JUGA: Ngeri, Ada Benang Keluar dari Wajah, Anggita Sari: Kepala Gue Sakit

Kontribusi penurunan terbesar berasal dari penurunan pakaian jadi yang memiliki porsi 66% dari total ekspor TPT Indonesia. Tekanan terhadap industri TPT setidaknya masih terjadi  hingga paruh pertama 2021.

"Kinerja TPT sedikit terbantu oleh adanya permintaan APD untuk keperluan penanganan COVID 19. Namun permintaan terhadap APD tersebut tidak cukup besar untuk menutupi turunnya penjualan produk produk TPT secara keseluruhan," ujar CEO dari CV Pria Tampan Andri Setyawan.

BACA JUGA: Didimax Berjangka Kembali Jadi Sponsor Persib Bandung di BRI Liga 1 2021

Dari data penjualan ekspor, ekspor per tahun untuk setiap individu eksportir yaitu nilai penjualan ekspor per tahun dapat terlihat bahwa eksportir menunjukkan survival mode yang berbeda dari setiap eksportir.

Eksportir kelas besar atau korporasi didukung jejaring yang kuat di pasar ekspor. Sementara itu sejumlah eksportir kelas menengah mengalami penurunan penjualan yang signifikan dan pada gilirannya menyebabkan mereka turun kelas.

BACA JUGA: Nasib Rohimah Usai Cerai dari Kiwil, Anak Belum Bayar Sekolah, Hingga mau Jual Rumah

Eksportir TPT kelas kecil paling merasakan dampaknya sehingga beberapa eksportir harus keluar dari pasar ekspor.

Beruntung, CV Pria Tampan per Agustus 2021, UKM berorientasi ekspor batik asal Solo ini mampu melakukan pengiriman kain batik ke luar negeri senilai USD467 ribu.

Dan mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya dengan nilai ekspor yang mencapai USD463 ribu.

Selama tiga tahun terakhir, mayoritas negara tujuan dari UKM asal Solo ini adalah Kanada dan Amerika Serikat.

Bulir-bulir putih yang timbul pada kain batik yang berasal dari proses pewarnaan kain merupakan ciri khas yang membuatnya diminati oleh pasar mancanegara.

“Saat dihadapkan pada situasi pandemi COVID-19, sangat penting untuk tetap optimis dan memiliki pola pikir positif bahwa kami dapat melewati situasi saat ini. Mau tidak mau harus lebih jeli dalam memanfaatkan segala peluang yang ada, sekecil apa pun itu," seru Andri.

Selain itu, sambung Andri, pihaknya juga harus memanfaatkan segala bantuan yang diberikan pemerintah.

"Seperti saya juga telah memanfaatkan program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM dari LPEI. Bantuan tersebut sangat membantu kami dalam menjalankan usaha, khususnya di tengah situasi seperti ini,” kata Andri.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler