jpnn.com, BANDARLAMPUNG - Kasus suap fee proyek Dinas PUPR Mesuji yang membelit Bupati Mesuji nonaktif Khamami kembali disidangkan di Pengadilan Negeri Kelas 1 A Tanjungkarang, Kamis (4/7).
Dalam persidangan terungkap alur fee proyek Dinas PUPR Mesuji ternyata melibatkan Farikh Basawad alias Paying, mantan sopir pribadi Khamami.
BACA JUGA: Mantan Bupati Labuhanbatu Pasrah Divonis 7 Tahun dan Hak Politik Dicabut
Paying jadi salah satu saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada persidangan tersebut.
BACA JUGA: Ayah Bejat Intimi Anak Kandung, Setelah Hamil 8 Bulan Dipasung di Kamar
Dalam sidang, Paying mengungkapkan pernah memberikan sejumlah uang fee ke Agung Subandra yang merupakan Sekretaris Dinas Pemukiman Mesuji.
“Ya, dulu pernah memberikan uang sebesar Rp 50 juta yang merupakan hasil fee pengadaan material,” ujarnya kepada JPU KPK Wawan Yunarwanto, Kamis (4/7).
Lalu, JPU KPK Wawan pun bertanya pemberian uang kepada Agung itu atas perintah siapa. Apakah ada perintah dari Taufik Hidayat?
Mendengar pertanyaan itu, Paying pun menjawab apabila itu di perintahkan oleh Taufik. “Saya enggak tahu dan enggak tanya. Uang itu saya terima dari Taufik dan saya serahkan ke Agung di rumahnya,” ungkapnya.
BACA JUGA: Koalisi Jokowi-Ma'ruf Diminta Ajukan Menteri Eksekutor, Bukan Hanya Pandai Bicara
Untuk diketahui, JPU KPK menghadirkan lima saksi dalam lanjutan persidangan suap fee proyek infrastruktur di Dinas PUPR Mesuji.
Kelima saksi tersebut yakni Farikh Basawad alias Paying yang merupakan mantan sopir pribadi Khamami, Maidarmawan mantan karyawan toko Khamami yang juga orang dekat Taufik Hidayat.
Lalu tiga pemilik perusahaan kontraktor yaitu Desi Apriansyah, Bambang Irawan, dan Herli Irawan. (ang/sur)
Redaktur & Reporter : Budi