Maruarar Sirait Mundur dari PDIP, Qodari Singgung Karier Politik Megawati, Simak

Jumat, 19 Januari 2024 – 23:56 WIB
Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari. Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari merespons terkait mundurnya politikus senior Maruarar Sirait dari PDIP yang belakangan menjadi sorotan.

Pengunduran diri Ara -sapaan akrab Maruarar Sirait- dilakukan pada Senin (15/1/2024).

BACA JUGA: Maruarar Sirait Mundur dari PDIP, Projo: Tegak Lurus Bersama Jokowi

Ara telah mengembalikan kartu tanda anggota (KTA) PDIP ke DPP PDIP dan diterima oleh Wasekjen PDIP Utut Adianto.

Dalam podcast di kanal YouTube Panangian Simanungkalit, Qodari menyoroti latar belakang Sabam Sirait, bapak dari Ara sebagai pendiri Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan sekaligus memiliki jasa besar dalam karier politik Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

BACA JUGA: Mundurnya Maruarar Sirait dari PDIP Untuk Menggembosi Ganjar-Mahfud

“Ara ini kan bapaknya Sabam Sirait adalah termasuk pendiri PDI pada tahun 1973 bahkan pernah menjadi sekjen dari PDI,” ujar Qodari dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/1/2024).

Menurut Qodari, Sabam Sirait memiliki pengaruh besar bagi karir politik seorang Megawati sehingga berhasil menjadi wakil presiden ke-8 dan presiden ke-5 di Indonesia.

BACA JUGA: Maruarar Sirait Keluar dari PDIP, Ganjar Merespons Begini

“Pak Sabam itu adalah orang yang mengajak Bu Mega masuk ke PDI. Jadi, PDI ini kan kalau dilihat dari ideologi adalah keberlanjutan dari PNI. Nah, jadi Bu Mega itu awalnya berada di luar sistem, lalu diajak oleh Pak Sabam masuk ke dalam PDI sampai kemudian jadi anggota DPR dan juga Ketua PDI,” ucapnya.

Kemudian, kata Qodari Bu Mega menjadi Ketua Umum PDIP setelah reformasi.

“Selanjutnha, Bu Mega jadi wakil presiden dan jadi presiden. Mungkin itu tidak akan terjadi kalau enggak ada Pak Sabam,” ujar Qodari.

Lebih lanjut, Qodari mengatakan tanpa andil dari Sabam Sirait mungkin saat ini Megawati hanya akan jadi orang biasa dan tidak menemukan momentumnya menjadi tokoh besar yang disegani hingga kini.

“Jadi, bisa dibayangkan kalau Pak Sabam itu tidak mengajak Bu Mega, mungkin karier politiknya tidak secemerlang apa yang terjadi,” ungkap Qodari.

Sebagaimana diketahui, Sabam Sirait meniti awal karier politiknya dengan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Partai Kristen Indonesia (Parkindo) periode 1963-1967. Kemudian, ia resmi menjadi sekjen pada 1967-1973.

Pada 10 Januari 1973, Sabam ikut mendirikan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan menjadi sekjen partai tersebut selama tiga periode dari 1973 hingga 1986.

Sabam Sirait disebut menjadi figur yang berhasil membujuk Megawati untuk terjun politik yang awalnya sempat terus-terusan menolak.

Pasalnya, situasi politik pada zaman itu era dekade 1980-an pemerintah melarang keluarga besar Soekarno atau Bung Karno masuk ke dunia politik.

Dalam suatu kesempatan, Megawati melalui Hasto Kristiyanto, mengakui bahwa Sabam adalah figur yang membujuk Megawati terjun ke dunia politik.

“Pak Sabam yang membujuk terus,” ujar Hasto meniru ucapan Megawati, pada saat merayakan ulang tahun ke-80 Sabam Sirait pada Sabtu (15/10/2016).

Hasto juga menyebutkan bahwa Megawati masih ingat momen ketika dia akhirnya setuju untuk ikut politik karena bujukan Sabam.

“Setelah beberapa kali dibujuk, bujukan terakhir di salah satu airport di Jakarta dan akhirnya mau,” kata Megawati menurut Hasto.

Hasto menambahkan Sabam Sirait merupakan sosok penting dalam sejarah PDIP.

“Bukan hanya sebagai sekjen terlama, tetapi meyakinkan kami di tengah arus pragmatisme politik sekarang, bahwa politik itu suci,” tutur Hasto.

Megawati juga mengaku bersyukur pernah diajak Sabam ke dunia politik. Sebab, jika Sabam tidak terus membujuknya mungkin Megawati tidak akan menjadi tokoh politik yang disegani seperti sekarang.(fri/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler