Mayjen Andi Ungkap Komitmennya, Siap Amankan Obvitnas di Lokasi Ini 

Rabu, 17 Agustus 2022 – 20:31 WIB
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Andi Muhammad di di blok Lapao-lapao, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (15/8). Foto: Dokumen CNI Group

jpnn.com, KOLAKA - Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen Andi Muhammad menyebut TNI berkomitmen untuk memastikan investasi hilirisasi nikel yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) berjalan sesuai target.

Sebab, kata dia, TNI punya tugas untuk melindungi proyek-proyek nasional yang bersifat strategis demi kemaslahatan orang banyak.

BACA JUGA: Rapat dengan Jenderal Andika, Mayjen Andi Tegaskan Siap Menyukseskan Program Pemerintah

Dia mengatakan hal itu saat meninjau Objek Vital Nasional (Obvitnas) dan Program Proyek Strategis Nasional (PSN) fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Nikel yang sedang dibangun oleh PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) Group di blok Lapao-lapao, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Senin (15/8).

"Setiap ada Obvitnas dan PSN, secara tidak langsung itu merupakan tugas TNI untuk menjamin stabilitas keamanannya," kata Mayjen Andi dalam keterangan persnya, Rabu (17/8).

BACA JUGA: Hilirisasi Nikel, WIKA-CNI Berkolaborasi Bangun Industri Smelter di Kolaka

Mantan Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad itu mengatakan proyek smelter nikel milik CNI Group berstatus aset nasional dan wajib dilindungi karena proyek ini didukung penuh oleh negara.

Terlebih lagi, kata jenderal bintang dua itu, CNI Group menjadi satu-satunya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).

BACA JUGA: Asosiasi Penambang Nikel Minta Smelter Patuhi Harga Patokan Mineral

Saat ini terdapat sejumlah investasi smelter di wilayah Sulawesi Tenggara yang juga masuk daftar Proyek Strategis Nasional, tetapi sebagian besar berstatus Penanaman Modal Asing (PMA).

Mayjen Andi pun memakai tiga pendekatan demi memastikan proyek smelter nikel CNI Group beroperasi sesuai target pada 2024.

Pertama, pendekatan kemakmuran yang berfokus kepada agenda penguatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

"Kalau masyarakat sudah diayomi, dilindungi dan dilibatkan, pasti masyarakat sendiri yang menjaga perusahaan karena mereka berkepentingan,” kata Mayjen Andi.

Kedua, kata pria kelahiran Sulawesi Selatan itu, melalui pendekatan lingkungan dalam arti perusahaan berkewajiban untuk menjalankan komitmen lingkungan melalui penerapan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) agar aktivitas pertambangan tidak menimbulkan dampak ekologis.

Selanjutnya, melalui pendekatan keamanan dengan mengedepankan komunikasi intens kepada satuan kerja wilayah.

"Kami akan membantu semaksimal mungkin CNI Group dalam menjalankan komunikasi sosial, demi menciptakan cipta kondisi mulai dari tingkat Koramil, Kodim, Korem dan Kodam,” tegasnya.

Andi menambahkan, CNI Group sangat memenuhi prosedur dan sangat legal untuk dilindungi.

“Kalau ada persoalan dan CNI Group ini rugi, berarti negara juga yang dirugikan, karena itu, mindset masyarakat perlu diluruskan,” ujar Andi.

Sementara itu, Direktur Utama PT CNI Group Derian Sakmiwata mengapresiasi komitmen Pangdam Hasanuddin untuk menjamin stabiltitas keamanan investasi smelter CNI Group.

Derian mengatakan nikel saat ini menjadi komoditi global dan salah satu komponen penting dalam industri kendaraan listrik.

“Tanpa nikel, yang namanya stainless dan mobil listrik tidak akan berjalan dengan baik, karena di dalam nikel ada kandungan kobalt yang menentukan kualitas suatu baterai," ujar dia.

Menurut Derian, membangun smelter membutuhkan dana yang tidak kecil dan CNI Group menjadi salah satu perusahaan dalam negeri yang mendapat dukungan penuh dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk konsorsium bank nasional. 

Pemerintah pusat bahkan telah menetapkan proyek smelter nikel CNI Group sebagai Obvitnas dan PSN.

“Ini menujukkan begitu pentingnya pembangunan smelter sehingga proyek ini harus berjalan sesuai rencana. Kalau pabrik ini terbangun tepat waktu, sudah tentu akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Kolaka dan negara Indonesia,” ujar Derian.

WIUP CNI Group di blok Lapao-pao, merupakan lokasi strategis pembangunan smelter nikel karena didukung ketersediaan bahan mentah nikel dari Iokasi tambang sendiri dan Terminal Khusus (Tersus) yang berada di pesisir pantai.

Dalam mengembangkan smelter, CNI Group menggunakan 2 teknologi, yaitu teknologi Rectangular Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dengan kapasitas 4×72 MVA, terdiri dari 4 Iajur produksi untuk mengolah bijih Nikel Saprolite dan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) untuk mengolah bijih Nikel Limonite (Bijih Nikel kadar lebih rendah) untuk menghasil baterai.

Rencana ini belum termasuk peluang pengembangan ke depan, mengingat CNI Group memiliki potensi deposit Nickel Laterite lebih dari 500 juta ton berdasarkan survey Geofisika dengan teknologi Geo-Penetrating Radar (GPR).

Total nilai investasi smelter keseluruhan diperkirakan mencapai USD2,312 juta yang akan dilakukan melalui beberapa tahapan. (ast/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Aristo Setiawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler