Melanggar, 10 Sekolah Di-Balcklist

Divonis Tidak Boleh Mendaftar SNMPTN Jalur Undangan

Kamis, 23 Februari 2012 – 06:36 WIB

JAKARTA - Ancaman blacklist dari panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) bagi sekolah yang mengatrol nilai rapor bukan gertak sambal. Sepuluh SMA sederajat yang tahun lalu terbukti mengatrol nilai, tahun ini dilarang mendaftarkan siswa-siswi mereka mengikuti SNMPTN Jalur Undangan. Panitia berharap, catatan ini tidak ditiru sekolahan lainnya.
  
Ketua panitia pusat SNMPTN Akhmaloka, Rabu (22/2) menuturkan, pihaknya berupaya konsisten menjalankan ketentuan yang sudah disepakati bersama. "Sudah jelas dan tegas, kalau mengatrol nilai siswa supaya bisa lolos jalur undangan itu sebuah pelanggaran," ujar pria yang juga menjadi rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) itu.
  
Akhmaloka mengatakan, sepuluh sekolah yang masuk daftar hitam tersebut terdiri dari SMK, SMA, dan MA. Sekolah-sekolah ini tersebar dari penjuru tanah air. "Saya tidak bisa menyebutkan detail sekolah tersebut," katanya.

Selain terjerat larangan ikut SNMPTN Jalur Undangan, Akhmaloka mengatakan kesepuluh sekolah itu berpekara dengan kepolisian. Sebab, seluruh sekolah tersebut dilaporkan telah melakukan praktek pemalsuan data. Praktek kotor mengatrol nilai rapor ini, terungkap setelah panitia SNMPTN mendapat laporan masyarakat.

Selanjutnya, diam-diam panitia menelurusi langsung kepada para siswa yang dicurigai nilainya telah dimanipulasi itu. "Ternyata mereka mengakui. Akhirnya sekolah kita jatuhi sanksi," katanya.

Dari pengakuan sejumlah siswa itu, terungkap modus mengakali nilai siswa. Caranya, siswa yang ingin masuk kampus negeri tertentu dikumpulkan sesuai nama kampus yang diinginkan.

Lantas, jika ada nilai rapor yang melorot, langsung dirubah seketika. Harapannya, bisa diterima di kampus negeri yang diinginkan tanpa ujian tulis. Bagi siswa yang nilainya dikatrol tadi, masih diizinkan untuk ikut SNMPTN Jalur Ujian Tulis.

Akhamaloka menceritakan, awalnya pihak sekolah sempat mengelak. "Mereka mengatakan telah terjadi human error," jelas Akhmaloka. Tapi, tetap saja panitia tidak menoleransi praktek mengatrol nilai siswa ini.

Untuk tahun ini, Akhmaloka benar-benar mewanti-wanti supaya sekolah tidak mengatrol nilai rapor siswanya. Kalaupun tidak lolos SNMPTN Jalur Undangan yang bebas tes itu, masih ada kesempatan masuk kampus negeri melalui SNMPTN Jalur Ujian Tulis. Akhmaloka menuturkan sampai saat ini belum menemukan ada praktek sekolah yang mengatrol nilai siswa.

Meskipun begitu dia tidak bisa menjamin nilai rapor yang disetor sekolah untuk mendaftar SNMPTN Jalur Undangan benar-benar murni. Bisa jadi nilai rapor siswa sejak semester III sampai V sudah di-setting bagus-bagus dari awal. Sehingga, praktek mengatrol nilai tidak terlalu kentara.

Melihat fenomena ini, Akhmaloka masih belum berani berspekulasi. Dia hanya mengatakan, SMA dan sederajat memiliki dua kecenderungan dalam memberikan nilai rapor. Kecenderungan pertama, adalah SMA dan sederajat yang royal memberikan nilai rapor baik. Lalu kecenderungan yang kedua adalah, SMA dan sederajat tergolong pelit memberikan nilai bagus.

Untuk menyiasati dua kecenderungan pemberian nilai ini, Akmaloka mengatakan sudah memiliki formulasi tertentu. Yaitu, lebih dulu merangking kualitas rapor dalam satu sekolah dulu.

Selanjutnya, baru diadu dengan kualitas rapor sekolah lainnya. "Jika langsung diadu dengan sekolah lainnya, tidak adil. Karena kecenderungan sekolah memberikan nilai berbeda-beda," kata dia. (wan)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kepsek Kembalikan Pungutan Biaya Ujian


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler