Melawan Bertahan

Oleh Dahlan Iskan

Sabtu, 21 Desember 2019 – 08:38 WIB
Dahlan Iskan.

jpnn.com - Melawanlah seperti Trump --setidaknya seperti BoJo.

Bertahanlah seperti Putin.

BACA JUGA: Impeachment

Sensi-lah seperti Xi Jinping --setidaknya seperti Modi.

Namun tersenyumlah seperti Sanna Marin.

BACA JUGA: Presiden Beneran

       ***

Dunia begitu penuh role model sekarang ini. Model apa saja ada. Hebat-hebit. Top-tip.

BACA JUGA: Joe Paloh

Mereka terus menguasai pemberitaan media. Anda tinggal pilih yang mana.

"Saya ingin agar Senat cepat-cepat mengadili saya," ujar Presiden Donald Trump menantang.

Trump begitu pede. Begitu yakin Senat akan menyelamatkannya. Setelah DPR menjatuhkan putusan meng-impeach-nya.

Hak untuk melakukan impeachment memang ada di DPR (House). Namun putusan DPR itu harus dibawa di DPD (Senat).

DPR Amerika sudah menjatuhkan putusan: memakzulkan Donald Trump. Kesalahan Trump ada dua: menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi DPR.

Putusan itu dibuat Rabu lalu. Lewat pemungutan suara.

Untuk tuduhan melakukan penyalahgunaan kekuasaan hasil pemungutan suaranya 230 vs 197.

Untuk tuduhan menghalangi fungsi DPR: 229 vs 198.

Putusan itulah yang harus dibawa ke DPD. Untuk disidangkan di DPD.

Pemimpin sidangnya nanti: Ketua Mahkamah Agung John Robert --bukan ketua DPD. Begitulah konstitusi Amerika Serikat.

DPR, di sidang itu, berfungsi mirip jaksa penuntut. Membawa putusan DPR ke Senat. Juga menyiapkan saksi-saksi.

DPD berfungsi mirip dewan juri sekaligus majelis hakimnya. Setelah mendengarkan tuntutan 'jaksa', Senat berhak memanggil para saksi.

'Jaksa' juga berhak mengajukan saksi. Para saksi tidak harus hadir di sidang DPD.

Boleh saja para saksi itu diwawancarai di tempat khusus, direkam, untuk disiarkan di sidang Senat.

Dalam kasus impeachment terhadap Presiden Bill Clinton, dulu itu, para saksi tidak ada yang hadir di sidang.

Ketua sidang tidak berhak mengajukan pertanyaan pada para saksi. Juga tidak boleh bertanya kepada 'jaksa'.

Ketua sidang hanya menjaga agar proses peradilan di Senat itu berjalan sesuai aturan.

Sidang itu bisa berlangsung hanya satu hari --maraton. Yang diakhiri dengan pemungutan suara.

Yang punya hak suara hanyalah anggota DPD yang jumlahnya 100 orang itu. Yang Partai Republik menduduki 53 kursi. Yang Partai Demokrat 47 kursi.

Dalam sehari putusan sudah bisa diambil. Tidak ada waktu untuk yang punya hobi bertele-tele.

Kalau Senat menyetujui impeachment, DPR-lah yang segera melaksanakan impeachment itu. Kalau Senat menolaknya, ya sudah. Presiden aman.

Dalam kasus Bill Clinton dulu, Senat setuju impeachment. Namun Presiden Bill Clinton tidak perlu diberhentikan.

Waktu itu kasusnya sangat pribadi: Bill Clinton menjalin hubungan khusus dengan gadis yang menjadi staf di Gedung Putih. Sampai gadis itu menggunakan mulutnya --dan mungkin lidahnya-- tanpa Clinton harus membuka celananya. Di salah satu ruang kerja presiden.

Anda tentu masih ingat nama gadis itu. Monica Lewinsky.

Bagaimana kira-kira hasil peradilan impeachment terhadap Trump di Senat nanti?

Trump sangat percaya diri: Partai Republik sangat kompak mendukungnya. Tidak satu pun yang membelot.

Justru di antara 47 anggota Senat dari Demokrat ada yang memihak Trump.

Hanya beberapa jam setelah DPR memutuskan meng-impeach-nya Trump sudah melawan. Di depan umum pula. Yakni di atas panggung kampanye terbuka. Di negara bagian Michigan.

Di daerah itu memang ada seorang anggota DPR dari Demokrat. Yang ikut menyetujui impeachment.

Nama anggota DPR itu: Debbie Dingell. Janda cantik. Umur 66 tahun.

Debbie jadi anggota DPR menggantikan suaminya: John David Dingell. David Dingell menjadi anggota DPR menggantikan ayahnya.

Ayah-anak-istri ini menduduki satu kursi DPR selama 80 tahun.

Sang ayah jadi anggota DPR selama 22 tahun. Sang anak meneruskannya selama 55 tahun. Dan kini si janda menjadi anggota DPR. Sudah periode yang kedua.

Mereka tidak bersalah. Mereka terpilih dalam sebuah pemilu yang jurdil.

John David Dingell adalah anggota DPR Amerika yang terlama dalam sejarah. Ia meninggal Februari lalu. Dalam usia 92 tahun. Mula-mula karena sakit jantung. Diakhiri dengan kanker prostat.

Saat sakit itulah Dingell tidak mau menjadi caleg lagi. Ia minta istrinya --27 tahun lebih muda-- untuk maju. Terpilih.

Itu memang istri kedua --setelah cerai dengan istri pertama lima tahun sebelumnya.

Trump tampak jengkel dengan Debbie Dingell. Padahal, saat suaminya meninggal Trump merasa sudah maksimal menghormatinya.

"Saya berikan penghormatan A-plus. Bendera di Gedung Putih pun setengah tiang," ujar Trump di kampung Debbie hari itu.

"Kalian tahu kan di wilayah ini ada nama Dingell. Dingell. Dingell," tanya Trump pada yang hadir.

Hadirin pun mem-booooo nama itu. Sambil ada yang mengarahkan ibu jari ke bawah.

"Sebenarnya bisa saja saya memberikan C atau D, tetapi saya telah memberikannya A-plus. Bukan hanya A atau B, tetapi A-plus," katanya jengkel.

Kelihatan sekali Trump seperti mengharapkan janda Dingell tidak ikut meng-impeach-nya. "Saya ini tidak melakukan sesuatu untuk mendapat sesuatu," kata Trump.

Bisa-bisanya.

Bukan kalimat-kalimat itu yang menjadi heboh kemarin. Namun kalimat yang berikut ini: "Mungkin dari neraka di atas sana Dingell memandang ke bawah melihat istrinya dengan sedih."

Hadirin kembali mem-booo Dingell.

"Saya sedih sekali Trump menganggap suami saya sekarang di neraka," ujar Debbie.

Suami Debbie sangat dihormati di Michigan. Sampai jalan utama menuju bandara diberi nama John David Dingell.

Namun Trump memang harus terus menyerang. Itulah strateginya untuk bertahan.

Lalu apa strategi Demokrat agar putusan DPR bisa dimenangkan di Senat? Yang rasanya merupakan hil yang mustahal itu?

Ketua DPR Nancy Pelosi tidak mau segera mengirim berkas impeachment ke Senat. Digantung dulu. Seperti ingin menyiksa emosi Trump.

Alasannya: DPR ingin kejelasan dulu apakah Senat akan menjalankan proses peradilan secara fair.

Kecurigaan Pelosi: akan banyak saksi yang tidak dipanggil.

Seperti saat di DPR. Saksi-saksi penting dilarang bersaksi. Yakni pejabat penting Gedung Putih. Seperti kepala staf dan penasihat keamanan. Mick Mulvaney dan John Bolton.

Sementara ini proses impeachment berhenti di sini dulu.

Sekarang ini dunia kita begitu meriahnya. Ditambah Putin, Xi Jinping, Boris 'BoJo' Johnson dan Modi. Belum lagi di Timur Tengah ada  Mohammed bin Salman dan Tayyip Erdogan.

Untunglah ada hiburan manis. Finlandia kini punya perdana menteri baru: wanita muda. Berumur 34 tahun. Yang selalu tersenyum.

Namanya: Sanna Marin.

Suaminya: laki-laki benaran. Meski suami ibunya seorang wanita.

Sang ibu memang bercerai dengan suaminya ketika Marin masih kecil. Lalu sang ibu kawin lagi dengan seorang wanita.

Marin beruntung: menjadi perdana menteri termuda di dunia saat ini. Punya satu anak dan dua orang ibu.(***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Koko Donald


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler